DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
siapa dia?


__ADS_3

Setelah kepergian Tama, Elza pergi menuju kamarnya. Dia melangkah menuju meja belajar yang selama ini ia gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya.


Tangannya terulur untuk mengambil leptop miliknya. Leptop hadiah dari kak Zara setelah ia berhasil masuk kesalah satu universitas ternama dan yang membuat kakaknya itu senang Elza masuk melalui jalur beasiswa.


Hal itu membuat kakaknya senang dan membelikannya sebuah leptop keluaran terbaru meski harus merogoh kocek yang tidak sedikit tapi Zara tetap membelikannya sebagai apresiasi atas kerja keras yang Elza lakukan untuk bisa mendapatkan beasiswa tersebut.


Mata hazel Elza menatap layar leptop dengan serius. Tangannya dengan licah mencari sebuah informasi yang ingin ia ketahui.


Elza menelusuri akun media sosial milik kakaknya. Meski sebelum kakaknya meninggal ia jarang update, tapi beberapa kali ia membagikan momen bersama rekan-rekannya ditempat ia bekerja.


Ada salah satu foto yang membuat Elza curiga, dia memang sampai saat ini belum mengetahui siapa nama dari pelaku yang telah mempe-rko-sa kak Zara. Tapi dari yang ia ketahui lewat mulut Tama, dia adalah atasan kakaknya. "kenapa tatapan mata pria ini tampak--" dia memperbesar gambar yang baru ia temukan itu "seperti seorang bajin-gan yang menginginkan mangsa" batinnya meneruskan ucapan yang sempat tertahan.


Pria itu melirik kakaknya dengan minat.


Klik-klik geser-geser sampai ia bisa menemukan akun milik pria itu. "ck.. kenapa juga akunnya di private? apa yang dia sembunyikan sebenarnya?" gumam nya lagi.


Elza mencoba memfollow akun tersebut, meminta untuk menjadikannya teman agar ia bisa melihat isi dari akun media sosial milik pria tersebut. Gadis itu memakai akun palsu karena takut ketahuan ia yang sedang mencari informasi.


Jika pria ini benar-benar atasan kak Zara, sudah pasti ia mengetahui jika dirinya adalah adik dari mendiang Zara. Karena banyaknya fotonya didalam akun media sosial milik kakaknya itu. Dan beberapa kali Zara men-tag dirinya.


Gadis itu juga menyusuri akun media sosial milik perusahaan Tama. Dia penasaran juga bagaimana keadaan perusahaan pria itu.


drreet


Wajah yang semula fokus kearah leptop menoleh kesamping saat ponselnya bergetar. Dia meraihnya lalu membuka pesan yang baru saja masuk.


"bisa kita bertemu?"


Alisnya menyernyit melihat pesan dari nomor asing, lalu ia kembali meletakan ponselnya. Mengabaikan pesan tersebut.


tring


Elza kembali menatap leptop karena tanpa ia duga, dirinya sudah dikonfirmasi oleh pria tersebut "Nicola Neil" gumamnya membaca nama pria tersebut.


Matanya terbelalak melihat postingan-postingan pria yang bernama Nicola Neil tersebut. "pantas saja di kunci, ternyata banyak sekali foto-foto syur seperti ini" gerutunya sembari menghela nafasnya dengan kasar. Dia sungguh merasa malu melihatnya. Pantas saja ia langsung mengkonfirmasi dirinya karena ia memasang foto profil yang cukup sexy. Meski itu bukan fotonya.


Ada beberapa foto Nicola yang tengah memeluk beberapa wanita. Jelas terlihat jika dia adalah penyuka wanita-wanita ***-***.


krep


Elza menutup leptopnya dengan cepat saat melihat postingan pria ini tengah mencium seorang wanita. Dia jijik.


"bisa copot bola mata gue melihat foto-foto menjijikkan ini" gerutunya dengan kesal.


drreet


Ponselnya kembali bergetar, dia mengambilnya lagi.


"ayo kita bertemu!"

__ADS_1


"aish... siapa sih! mengganggu saja!" ujarnya dengan suara menggeram.


"ada yang mau kubicarakan. Hal yang penting tentang Tama"


"siapa kau?" akhirnya Elza membalas setelah pesan berikutnya membuatnya penasaran.


"mari bertemu dicafe XX sekarang! di ruang private nomor tiga"


"aku tidak tertarik!"


"benarkah kau tidak tertarik? padahal aku akan menceritakan hal yang menarik loh--"


Elza menghela nafasnya dengan panjang, meletakan ponselnya disisi leptop. Gadis itu menyandarkan tubuhnya disandaran kursi.


"ck.. sialan!" umpatnya terdengar kesal lalu ia mengganti baju. Ia mengenakan celana jeans dan hoodie berwarna hitam. Karena penasaran, akhirnya Elza memilih untuk menemui seseorang yang baru saja menghubunginya.


Dia penasaran siapa yang menghubunginya itu, dan dari mana ia mendapatkan nomornya ini.


Elza hanya menempuh perjalanan selama sepuluh menit, karena jarak tempat yang ia maksud ternyata tak terlalu jauh.


"mari lihat siapa yang mau mencari masalah denganku" gumam Elza sembari tersenyum sinis, ia berjalan masuk kedalam cafe yang tidak terlalu ramai karena sekarang masih pagi.


"selamat pagi, mau mencari tempat duduk dek?"


Elza menoleh dan menatap pelayan cafe yang menyapa dirinya, dan apa yang dia bilang? dek? apa dia sekecil itu sampai ia menyebutnya dek?


"antarkan aku ke ruang private nomor tiga. TANTE"


Elza hanya acuh dan mengikuti dari belakang.


"nah ini tempatnya. Silahkan masuk"


"terimakasih loh.. Tante sangat baik" ucap Elza sembari tersenyum. Ternyata ia masih kesal setelah dipanggil dek.


Padahal memang penampilan Elza saat ini seperti gadis remaja yang mau nongkrong dicafe tersebut.


Wajahnya yang putih hanya dipoles tipis oleh bedak, dan liptint saja. Membuat Elza tampak fress dan manis. Serta pakaian seadanya menandakan jika gadis itu suka memakai pakaian yang simpel tapi tetap terlihat menarik.


Elza masuk kedalam, matanya menatap awas seseorang yang duduk membelakanginya. "ehem"


Wanita itu terlihat terkesiap, sepertinya ia tak menyangka jika Elza akan datang kesana.


Wanita itu berdiri dari duduknya lalu membalik badan. "Elza?" tanyanya sembari menunjuk gadis yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.


"ya" jawabnya sedikit canggung, karena ia benar-benar tak mengenali siapa yang ada dihadapannya ini.


"silahkan duduk" ucapnya terdengar sopan.


Meski sopan, tapi tatapan mata wanita itu dapat Elza artikan jika ia tak terlalu menyukainya. Siapa dia? kenapa ia bisa mengenalinya?

__ADS_1


**


Mereka berdua masih saling tatap tanpa ada yang mau berbicara terlebih dahulu.


tok tok tok


Seorang pelayan membawa dua coffe dan cake, ia menghidangkan dihadapan Elza dan wanita yang ada dihadapannya.


"saya tidak memesan ini" ucap Elza pada pelayan.


"saya yang pesankan tadi" ucapnya dengan ramah, dia tersenyum kearah Elza meski gadis itu hanya menatapnya curiga.


"tenang saja, saya bukan orang yang suka menculik gadis muda sepertimu kok, jadi aku tidak mencampur coffe itu dengan sesuatu. Jadi.. minumlah"


"aku tidak suka coffe!"


Wanita yang tengah menyeruput coffee dengan anggun itu hampir saja tersedak.


"hahaha kamu terus terang sekali ya? apa karena sifatmu ini yang membuat Tama menyukaimu?"


Elza memutar bola matanya malas "ck.. sebenarnya apa yang mau anda ucapkan, aku tak suka berbasa-basi"


Wanita itu merubah raut wajahnya menjadi serius, dia menatap Elza dengan tajam "tinggalkan Tama!"


Mata Elza terbelalak "hah?" dia hanya membuka mulutnya karena terkejut.


"dia memiliki banyak sekali kekasih, dia hanya mempermainkanmu"


Elza mendekatkan tubuhnya kearah meja. Dan wanita yang Elza tidak ketahui namanya ini mundur seolah-olah gadis yang ada dihadapannya ini adalah sebuah ancaman. "apa anda salah satu wanita milik tuan Tama?"


Wanita itu terkesiap sedikit, sepertinya terbakannya memang benar.


"siapa nama anda nona?"


"kau tak perlu tahu! kau harus berhati-hati padanya! dia lelaki breng-sek yang selalu meniduri banyak sekali wanita. aku hanya berbelas kasih dengan memberitahumu soal ini."


Elza terkikik geli mendengar ucapan wanita yang tak mau memberi tahu namanya ini "kau mau memberitahuku atau kau hanya mau merusak hubungan kami?"


"ck.. untuk apa aku merusak hubungan kalian" ucapnya dengan angkuh, ia melipat tangannya didada. "nggak penting"


"huh.. kau tidak ada gunanya berbicara seperti itu padaku, aku tahu sekali bagaimana tuan Tama. Dan kau itu hanya membuang-buang waktu saja!" ucap Elza dengan kesal, dia berdiri dari duduknya.


"aku mengatakan yang sebenarnya nona, jika pria itu tak baik untukmu!"


"baik atau tidak dia untukku, itu tak ada hubungannya denganmu. permisi" dia segera pergi dari ruangan tersebut.


"breng-sek!" ucap wanita itu mengumpat, dia merasa kesal karena tak berhasil memprovokasi Elza.


prang

__ADS_1


Cangkir yang ada diatas meja jatuh dan pecah berhamburan diatas lantai. Tangannya terkepal erat "awas kau gadis ***-***!" geramnya dengan suara tertahan. Dia merasa kesal dan marah.


__ADS_2