DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
pacar datang?


__ADS_3

Elza dan Tama makan bersama. Makanan yang telah Tama pesan tadi sebelum Elza bangun. Sebelum itu tadi Elza menghangatkan terlebih dahulu di microwave.


Beberapa kali Tama menatap lembut istrinya yang makan dengan lahap. Dan yang ditatap terus-menerus merasa risih dan tak nyaman, dia selalu menghindari kontak mata dengan suaminya itu.


"kamu kenapa?" tanya Tama saat melihat ekspresi wajah Elza yang berubah.


"kenapa kamu menatapku terus? aku risih.." ucap Elza dengan jujur.


Tama tergelak "aku suka sekali melihat mu makan dengan lahap seperti itu"


Elza memutar bola matanya malas "aku kelaparan. Maaf tidak bersikap anggun dihadapanmu"


"tidak masalah.. Aku suka kok, sekarang makanlah yang banyak karena nanti giliran aku yang akan memakanmu"


uhuk


Elza tersedak mendengar ucapan Tama.


"aduh.. pelan-pelan sayang" pria tampan itu segera memberikan satu gelas air putih.


Elza menerimanya dan setelah merasa lega Elza menoleh kearah Tama "apa katanya? sayang? gila.."


Elza menghela nafasnya panjang, dia kembali menatap makanannya dari pada menatap lelaki tampan yang selalu menatapnya dengan memuja, pertahanan dirinya bisa habis jika ia terus menatap wajah sempurna itu. Meneruskan makan tanpa berani menoleh kembali kearah Tama.


Selesai makan, mereka duduk bersisian diruang santai. Mereka akan mengobrol santai sembari menonton televisi sebelum mereka tidur.


Tama memeluk lembut tubuh Elza, dia beberapa kali mengecupi pucuk kepala Elza.


Meski Elza merasa perlakuan Tama berlebihan tapi ia hanya diam saja, dia menerimanya meski rasanya terasa sangat canggung sekali.


Tubuhnya pun menegang saat tangan Tama memeluk dirinya, Elza merasa jika tangan ini sangat hangat sekaligus kokoh. Elza merasa aman dan nyaman.


Lelakinya ini memang sangat pintar menenangkan hatinya yang terasa takut sekaligus tegang.


Ting nong..


Elza dan Tama menoleh kearah pintu saat mendengar suara bel berbunyi. Tama berdecak kesal karena merasa terganggu.


Ting nong..


Elza menoleh dan sedikit mendongak agar dapat melihat wajah Tama, sepertinya pria ini enggan untuk membukakan pintu "kak"


Tama menunduk sedikit "hmm?"


"ada tamu"


"aku tahu, biarkan saja" ucap malas Tama.


Ting nong.. Ting nong.. Ting nong..


Elza kembali menoleh kearah pintu saat bel kembali berbunyi beberapa kali. Jelas sekali jika orang yang saat dibalik pintu tidak sabar untuk masuk.


Elza menahan tangan Tama yang hampir menyusup kedalam bajunya "a-aku buka pintu dulu, siapa tahu tamu penting" ucapnya sembari mendorong tangan Tama menjauh, dia juga duduk dengan tegap sekarang.


Tama berdecak kesal "biar aku saja!" Tama berdiri dari duduknya dan pergi menuju pintu masuk apartemen nya.

__ADS_1


Elza hanya menggeleng melihat Tama yang terlihat kesal.


**


Tama membukakan pintu apartemen miliknya. Saat hampir terbuka pintu itu didobrak dari luar.


brak


"ahhk--" pekik Tama yang terkejut dan tak menyangka jika pintu tersebut akan didobrak seperti ini. Dia hampir terjungkal kebelakang.


"Lo nggak nganggep gue ya?" tanya seorang pria yang baru saja masuk kedalam apartemen Tama, dia menatap tajam dan penuh permusuhan.


Langkah kakinya semakin mendekat,lalu ia mencengkeram kaos bagian depan Tama dengan begitu emosi.


"ada apa ini?" tanya Elza yang tadi mendengar suara pekikan suaminya langsung lari dan mendekat, dia penasaran apa yang terjadi.


Dan saat melihat suaminya sedang dicengkeram oleh seseorang, Elza terkejut.


Pria itu melirik Elza sekilas lalu menatap Tama kembali "jadi benar ya Lo udah nikah?" tanyanya dengan suara kecewa.


Tama menampik tangan pria itu dan kemudian memelintir tangannya membalik tubuhnya kebelakang sampai ia mengerang kesakitan.


"ah.. sakit sialan!"


"pergi Lo dari sini!"


"nggak mau! Lo itu jahat Tam!" pekiknya dengan kencang.


Elza terdiam, dia menatap kedua pria itu dengan dengan pandangan aneh. Rasanya ia seperti sedang dilabrak oleh wanita lain saat mendengar suara pekikan pria yang masih dipegang oleh suaminya.


"gue nggak mau! lepasin!" memberontak dan ketika tangannya terlepas, dia menyergah sampai Tama jatuh kelantai. Dia dengan cepat duduk diatas perut Tama. Menahan tangan Tama diatas kepala. Dia seperti hendak memer-ko-sa Tama.


Elza yang melihat hal itu melongo "kak.. apa dia pacarmu?" tanya Elza setelah mendengar percakapan mereka berdua.


"minggir Lo! Lihatlah istriku jadi salah paham!" Tama mendorong tubuh pria itu untuk turun dari tubuhnya "padahal gue baru saja makan, gue hampir muntah sialan!" tambahnya lagi sembari berdiri. Tama menghampiri Elza dan kemudian memeluk pinggang rampingnya, dia menariknya menuju sofa dan mereka kemudian duduk.


Pria itu menghela nafasnya lalu berdiri dari duduknya juga. Lalu ia duduk dihadapan sepasang pengantin baru itu.


Elza menatap pria itu dengan heran, apa benar ini salah satu pacar suaminya? kalau iya sungguh menjijikkan sekali.


"kenapa menatapku begitu dedek gemes? awas kalau nanti suka"


"dedek gemes?" ucap Elza cengo , ia seperti tak asing dengan panggilan itu.


Tama dengan cepat menarik Elza kedalam pelukannya "jangan menatapnya sayang, nanti kamu bisa sawan"


Pria itu terbelalak "kurang ajar! Lo kira gue memedi" ucapnya dengan galak. Dia hampir berdiri dari duduknya karena merasa kesal.


"mirip"


"mau gue pukul lo hah?! menjengkelkan sekali"


Elza mendorong dada bidang Tama dan menatap suaminya itu "jadi.. dia benar-benar pacarmu?"


"hahahaha.. mana mau gue sama orang yang suka sekali memelihara kambing tua!" tawa pria itu pecah.

__ADS_1


Tama menatap kesal pria itu "meski dulu aku banyak wanita, tapi aku masih normal sayang"


"Sepertinya dia memang sudah normal, karena seleranya berubah lebih baik"


"Diam Lo! sayang dia adalah salah satu sahabat baikku. Namanya Bastian Arkana, kamu bisa memanggilnya Sarimin" ucap Tama sembari menahan tawanya.


Pria itu terbelalak mendengar ucapan Tama "Mulutmu memang minta ditabok ya?" ucapnya dengan ketus. Dia memang adalah Bastian, sahabat Tama yang baru saja mendengar bahwa Tama menikah siang ini.


Hal yang membuatnya marah adalah, Tama tak memberitahu dirinya sehingga ia datang hendak memarahinya habis-habisan.


Elza mengangguk dan beroh ria, dia menatap Bastian dengan seksama. Dia merasa familiar dengannya.


"jangan menatapnya seperti itu atau nanti aku cemburu" ujar Tama sembari menarik wajah Elza agar hanya menatapnya saja.


"cih.."


Tama menoleh dan menatap Bastian yang baru saja berdecih "ngapain Lo kemari? Lo berniat mengganggu malam pertama gue ya?"


Elza dengan refleks menabok dada bidang Tama saat suaminya itu berbicara hal yang memalukan menurutnya.


"ck.. Gue hanya marah! Gue hampir membakar apartemen ini karena kesal"


Elza terbelalak mendengar ucapan Bastian, dia menatap tak percaya pria yang katanya adalah sahabat suaminya ini.


"marah kenapa?" tanya Tama acuh, dia lebih memilih untuk memeluk dan mengecup pucuk kepala Elza.


"apa Lo nggak menganggap gue ada? nikah secara tiba-tiba dan tidak mau memberitahu semuanya! apa dedek gemes ini sudah hamil?" ucap Bastian panjang lebar, lalu diakhir dia menunjuk Elza.


"mana ada hamil" sanggah Tama karena memang Elza belum hamil. Boro-boro hamil menyentuhnya saja dia belum pernah. "kalau masalah pernikahan, ini benar-benar mendadak sekali. Gue takut gadis ini berubah pikiran jadi gue langsung membawanya ke kantor pencatatan sipil untuk mendapat kan surat nikah" jelasnya.


Bastian hanya berdecak.


tak tak tak


Terdengar suara langkah kaki yang menuju kesana, pintu memang masih dalam keadaan terbuka jadi saat ada langkah kaki mereka bisa mendengarnya.


Ketiga orang itu menoleh kesumber suara. Saat seorang pria tiba didalam apartemen, suasana menjadi dingin saat tatapan matanya yang tajam membuat ketiga orang itu merinding. Sungguh aura kuat yang ia keluarkan membuat ketiga orang itu takut.


Dia adalah Arsen, sahabat Tama juga.


"bisa nggak sih.. Lo turunkan aura mengerikan ini Sen? gue hampir kehabisan nafas!" ucap Bastian sembari mengusap dadanya.


Begitupun dengan Elza yang merasa tatapan mata pria yang baru masuk ini membuatnya begitu terintimidasi.


"Lo nakutin istri gue Sen" ucap Tama.


Arsen menghela nafasnya panjang, sebenarnya dia memang tidak melakukan apapun, tatapan dan aura yang ia keluarkan ini memang sudah ada pada dirinya sejak kecil. Tanpa ia berbuat apapun, semua orang akan takluk dan takut padanya, ini adalah kelebihannya.


Jadi tak heran jika ia menjadi ketua sebuah kelompok mafia terkuat dinegara ini.


Arsen duduk tanpa diminta, aura kepemimpinan dan kuat itu dapat Elza lihat. Duduk dengan tatapan arogan dan berkuasa. "dia siapa? kenapa kak Tama memiliki teman yang membuat jantungku berdegup kencang seperti ini? bukan karena suka tapi karena aku merasa takut dan terancam ketika aku tidak sengaja bertemu pandang dengannya" Elza secara reflek meringsek kedalam pelukan Tama, dia benar-benar takut.


Tama tersenyum melihat istrinya itu ketakutan. Jika dirinya yang notabene nya adalah teman Arsen saja masih merasa terintimidasi bagaimana dengan Elza yang memang baru pertama kali melihatnya? "kamu kembalilah kekamar, aku mau berbicara dengan teman-teman ku dulu. Jangan tidur dulu oke?" ucapnya berbisik. Dia menatap nakal istrinya agar fokusnya tak lagi pada Arsen.


Elza mengangguk dan segera berdiri "silahkan mengobrol, saya permisi dulu" menunduk dan segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2