
bruug
"ah--" pekik Tama saat Elza mendorongnya dan pada akhirnya dia terjungkal kebawah.
"kau tidak apa?" tanya Elza sembari melongokkan kepalanya kebawah.
"aw.. sakit sekali pinggangku" ucap Tama dengan wajah mengiba.
"oh sakit? rasakan!!"
Tanpa Tama duga Elza malah berbicara ketus padanya. Tadi dia kira Elza akan menolongnya setelah melihat raut khawatir diwajah Elza meski hanya sekilas saja. Karena hal itulah Tama berpura-pura kesakitan.
Elza acuh saja. Dia bahkan sekarang tidak memandang Tama yang sedang berdiri dan tampak kesakitan "kau benar-benar gadis yang sangat tega"
Elza mendengus dan mengabaikan gerutuan Tama. Dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya disandaran sofa.
Karena merasa lelah Elza sudah tak lagi seberingas tadi, gadis cantik ini bahkan sekarang mendes-ah. Kemudian membuang nafasnya dengan panjang.
Brug
Tama duduk disisi Elza membuat gadis yang tengah melamun itu terkesiap dan menoleh "kenapa menempel padaku! seperti parasit saja"
Saat Elza hendak bergeser tetapi Tama menahannya. Pria tampan itu menatap gadis ini sembari tersenyum "jangan jauh-jauh dariku El.. nanti aku rindu"
plak
Bukannya tersenyum dan merona telah ia rayu. Elza justru menepuk keningnya dengan keras "isk.. galak sekali" gerutunya. Tapi ia masih saja menempel padahal Elza terus bergeser menghindarinya.
"kau itu kenapa sih tuan? katanya mau memberitahuku sesuatu! kalau kau hanya mau menggodaku lebih baik antarkan aku pulang!"
"tidak akan pernah!" ujar Tama dengan suara datar. Dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Elza memutar bola matanya. Jujur Elza sangat kesal dan ingin menendang pria ini. Tapi mengingat dia yang tidak bisa keluar dari pulau ini tanpa bantuan Tama membuatnya mengalah.
Tapi jika harus berdekatan dengan Tama, tentu saja Elza tak sudi. Elza bahkan mendorong tubuh Tama dengan kedua tangannya.
"berhenti atau kupeluk nanti" ucap Tama mengancam.
Elza menatap pria yang saat ini masih mengenakan pakaian formal. Sepertinya dia baru saja pulang dari kantor dan langsung datang ke pulau ini "peluk saja! aku belum mandi dari kemarin"
greb
Mata Elza terbelalak saat Tama langsung memeluknya. Padahal tadi ia hanya asal bicara. Elza kira Tama tidak akan mau karena ia mengatakan belum mandi.
"jangan mendorongku! kau yang mengizinkannya tadi"
"aku hanya bergurau, jangan dianggap serius! lepaskan aku!"
"jangan berisik, tolong jangan memberontak lima menit saja"
Elza terdiam. Ia tak lagi menggeliatkan tubuhnya. Ada perasaan nyaman berada dipelukan Tama. Meski otaknya selalu menampik, tapi tubuhnya tidak bisa menolaknya. Elza merasa pelukan Tama sangat hangat dan tulus, hatinya bisa merasakan hal itu.
Setelah hampir lima menitan, Tama benar-benar melepaskan pelukannya. Dia menatap wajah gadis yang ia sayangi ini dengan begitu lembut. "maafkan aku"
Elza menatap wajah Tama juga, dia menyernyitkan keningnya "untuk kak Zara?"
__ADS_1
Tama menggeleng "kemarin aku memukulmu sampai pingsan, pasti sakit kan?" tanyanya sembari mengusap tengkuk Elza.
Elza menampik tangan Tama "jangan menyentuhku!"
Tama menghela nafasnya dengan panjang. Dia berusaha bersabar dengan sikap Elza. Bukan tanpa alasan Elza membencinya, tapi semua yang Elza pikirankan olehnya semuanya adalah salah paham. "apa kau akan percaya jika aku mengatakan, jika kakakmu bunuh diri bukan karena aku?"
Alis gadis cantik ini menyernyit. Dia tentu saja tidak akan mempercayainya.
Setelah melihat raut wajah Elza yang masih sama. Tama menyadari jika gadis ini memang tidak akan mempercayainya. "baiklah jika kau tidak mempercayai diriku, tapi dengarkan aku bercerita baru kau akan memutuskannya nanti. Bahwa apa yang aku katakan benar atau hanya bualan semata"
Elza terdiam. Dia akhirnya mengangguk menyetujui"oke. aku akan mendengarkan"
"pada zaman dahulu~"
krik krik
Elza menatap jengah pria tampan yang sepertinya tengah mempermainkannya.
"hahahah tidak lucu ya? aku hanya mau membuatmu lebih rileks. Tolong jangan tegang begitu El"
Elza tampak menghela nafasnya panjang, gadis ini kembali menatap wajah Tama dengan serius.
.
.
.
flash back on (Tama POV)
Aku melewati beberapa karyawan yang sepertinya juga akan pulang tapi mereka memilih untuk minggir dan menunduk agar aku tidak kesulitan saat berjalan.
Karena aku memang ramah, aku tersenyum dan menyapa mereka. Meski hanya sapaan kecil tapi hal itu berhasil membangun image baik untukku.
Aku tidak seperti CEO yang lainnya yang berwajah dingin dan tidak tersentuh. Aku ramah dan baik tapi tetap tegas pada semua karyawan.
Dan karena hal itulah banyak wanita-wanita yang menyatakan cinta padaku dan aku dengan senang hati untuk menerimanya. Aku adalah pria tampan dan mapan, wanita manapun akan bertekuk lutut padaku.
bruk
Tanpa diduga ada salah satu karyawan ku yang menabrakku. Seorang wanita cantik yang membawa gulungan kertas ditangannya. Saat menyadari jika yang ia tabrak adalah bossnya, dia terkesiap "maaf tuan, saya tidak sengaja"
Jika dilihat dari wajahnya dia tampak memerah, apakah dia merasa malu saat bertemu denganku? "kau, siapa namamu?"
Wanita cantik ini mendongak, membuat mata hazel nya yang cantik tampak bebinar "saya Zara tuan"
Setelah berkenalan singkat itu. Aku sering kali mengajaknya pergi. Entah makan bersama atau hanya untuk nongkrong.
Kami nyambung saat berbicara sehingga aku pada akhirnya menyatakan cinta padanya. Dan dengan binar kebahagiaan dia menerimaku. Meski mengetahui sepak terjangku dia mau saja menerimaku begitu saja. Sepertinya ia memang sudah lama mengagumiku.
Hubungan kami berjalan hampir beberapa bulan. Tapi semenjak aku menyatakan cinta, aku sudah jarang sekali menghubunginya. Bahkan aku mungkin lupa akan kehadirannya. Karena aku memiliki banyak sekali wanita disisiku.
Setelah beberapa bulan tak menyapa, kami dipertemukan lagi dalam sebuah proyek yang memang ia pegang saat aku meninjau tempat tersebut.
Aku menatap wajah cantiknya yang sekarang tengah mengenakan helm keselamatan khas seorang arsitek, tampak begitu cantik sekali meski ia bekerja ditempat yang sangat kotor dan terik.
__ADS_1
"maaf kau?"
Zara tampak mendengus "saya Zara" ujarnya sedikit ketus, sepertinya dia kesal karena aku tidak mengenalinya lagi. Aku hanya melebarkan senyumku yang menurutku manis hehehe.
"kau kemari lah" ujarku sembari menjetikkan jariku agar ia mendekat. Aku sudah mengingat jika ia memang salah satu wanitaku.
Zara yang tadinya enggan untuk mendekat, pada akhirnya mendekatiku. Aku dengan cepat meraih pinggangnya
"ah--" dia sedikit memekik karena terkejut.
Wajahnya yang cantik mendongak menatapku. Wajahnya juga tampak blushing saat aku melakukan hal yang tak terduga.
"sudah lama tidak berjumpa, ayo kita habiskan waktu bersama sebentar" ucap Tama berbisik menggoda.
Zara membelalakan matanya saat mengetahu apa maksudku, ia lalu memberontak dan mendorongku menjauhinya "kau kurang ajar!"
plak
Pipiku terasa kebas dan sakit saat tangan Zara dengan lancang menamparku.
Aku yang mendapatkan penolakan menyeringai sembari mengusap pipiku. Aku tak marah.
Aku melihatnya pergi begitu saja tanpa melihat kebelakang lagi.
Aku memang pria yang sangat breng-sek dan baji-ngan, tapi saat ada seseorang wanita baik aku tidak akan merusaknya. Aku membiarkannya pergi begitu saja.
Tadinya aku pikir Zara sama dengan wanita-wanita lain yang memakai tubuhnya untuk menggodaku, tapi melihat dia marah aku tentu saja tidak akan pernah menyakitinya.
Aku merasa jika diriku breng-sek dan pemain wanita, tapi jika ada wanita baik-baik aku tak akan merusaknya. Aku sangat menghormati mereka yang menjaga kehormatan.
Mungkin jika memberanikan diri untuk dekat dengan Zara aku akan berubah akan tetapi
aku sadar diri jika wanita baik tidak pantas untukku yang breng-sek ini. Maka dari itu aku melupakannya begitu saja.
**
Sampai aku tak sengaja kembali bertemu dengannya lagi disebuah restoran.
Dia menatapku dengan tajam. Aku sadar jika dia membenciku. Aku dengan berani mendekati Zara dan menyapa "hai"
Zara melengos dan mengabaikan ku. Aku tersenyum "Zara.. bukankah kita masih memiliki hubungan?"
Gadis itu tampak berdecih dan masih melengos "baiklah. Zara maafkan aku. Aku harus mengakhiri hubungan ini"
Zara kali ini menatapku, tatapan penuh luka itu sungguh membuatku merasa sedikit bersalah.
"baik.. kita putus!"
Zara yang tadi masih duduk segera berdiri, lalu segera lari meninggalkanku yang masih mematung memperhatikan kepergiannya.
Dapat aku melihat jika ia mengusap air matanya, tapi ini yang terbaik untuk kita. Aku adalah pria yang tak pantas untuk gadis sebaik dirimu. Kau akan lebih bahagia jika tak bersamaku.
Mungkin inilah yang terbaik, biasanya aku sendiri terlalu malas untuk sekedar mengakhiri sebuah hubungan, tapi melihat gadis sebaik dirimu aku tidak tega membuatmu menunggu atau berharap pada pria baji-ngan sepertiku.
Maafkan aku Zara Kamila.
__ADS_1