DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
lepas kendali


__ADS_3

Tama tersenyum menyeringai, lalu menempelkan bibirnya pada bibir lembut milik gadis yang sedang dia kungkung, melu*at dengan lembut tapi tak ada balasan darinya.


"apa yang sedang dia lakukan sekarang?! di-dia menciumku?" batin Elza berteriak, dia yang terkejut tak bisa berbuat apapun selain diam menerima, dia masih ngeblank, pikirannya menolak tapi entah dorongan dari mana Elza malah membuka mulutnya, dan membiarkan pria tampan yang ada didepan wajahnya ini mengeksplor mulutnya.


"dia merespon?" gumam Tama dalam hati merasa senang, dia yang mendapatkan lampu hijau tak menyia nyaiakannya begitu saja, dia menyesap dan mengecap manisnya bibir Elza, semakin lama ciuman itu semakin liar, tangan yang tadi ada disisi tubuh Elza memeluk pinggang ramping gadis itu.


Elzapun tampak hanya diam membiarkan, dia mengikuti arus si pria profesioal dalam hal berciuman ini, dia yang tak menolak malah merasakan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan, bibir Tama terasa kenyal dan begitu manis.


Kecapan kecapan masih terdengar, mereka larut dalam ciuman panas tersebut.


Tama yang sudah berhari hari tak mendapatkan pelepasan, terasa begitu bergairah sekali, dia terus menguasai ciuman tersebut.

__ADS_1


Matanya sudah berkabut akan gairah, dia melepaskan pagutan tersebut lalu beralih pada leher jenjang gadis tersebut, menyesapnya dengan kuat, dan tanpa terasa Elza mengeluarkan des*han yang terdengar sangat **** ditelinga Tama, dia semakin bersemangat menyesap leher putih itu.


"jangan!" Elza mendorong wajah Tama yang hendak turun menuju dadanya.


Dapat Elza dapat melihat tatapan Tama yang sudah sayu dan dikuasai oleh gairah.


Tama yang melihat wajah Elza terkesiap, dia menjauhkan tubuhnya dari gadis itu "ma-maaf el, tadi aku kebablasan" ucapnya penuh penyesalan. dia menarik tubuh Elza masuk kedalam dekapannya "maaf el" mengusap kepala gadis itu lembut sembari menagan gejolak dirinya yang ingin sekali dipuaskan.


Nafas Tama masih memburu, dia mencoba menahan hasrat yang telah memuncak dengan mengepalkan tangannya.


Elza mendorong tubuh Tama, dia merasa tak nyaman saat merasakan ada sesuatu yang mengganjal didepan tubuhnya, wajahnya memerah karena merasa sangat malu "sa-saya kekamar dulu" ucapnya cepat, dia segera lari meninggalkan Tama yang masih berdiri didepan pintu.

__ADS_1


Tama menjatuhkan tubuhnya diatas sofa, dia memujit pelipisnya yang berdenyut. dia merasa pusing sekali saat hasratnya tak tersalurkan "bodoh! kenapa gue bisa lepas kendali begini? kalau dia ketakutan bagaimana,?" gumamnya menggerutu, dia meraup wajahnya dengan kasar sembari membuang nafas berkali kali.


"ck.. gue harus mandi air dingin untuk menidurkannya!" ucapnya lagi sembari memperhatikan selangkan*annya, Tama merasa sangat frustrasi, kalau saja dia tak jijik dengan wanita lain sekarang sudah pasti Tama akan menemui salah satu wanitanya dan bercinta sampai puas.


Tapi sekarang keadaannya berbeda, dia tak bergairah lagi dengan para wanita cantik itu, dia hanya mau Elza tak ada yang lain.


Dengan langkah gontai Tama pergi kekamar dan hendak mandi air dingin untuk menidurkan dirinya yang lain.


Sedangkan dikamar Elza, gadis itu sedang menangkupkan tubuhnya diatas tempat tidur, dia beberapa kali memukul bantal yang tak bersalah "bodoh bodoh..!! kenapa tadi gue terbuai dan membalas ciumannya?" ucapnya sembari menggoyangkan tubuhnya diatas tempat tidur, dia bahkan memukuli kepalanya karena tadi otak liarnya yang mengambil alih kewarasan Elza, kalau saja tadi dia tak segera sadar sudah pasti dia akan kehilangan keprawanannya tadi.


"aaaaa memalukan sekali" keluhnya , dia memegang dadanya "dan lagi, kenapa kau berdebar sedari tadi? jangan bodoh hati, atau nanti kau akan dicampakan sama seperti kak Zara!" ucapnya penuh tekanan.

__ADS_1


__ADS_2