
Tama masih berendam di air yang dingin, tadi setelah kepergian dua sahabatnya hasrat yang sudah lama tidak terlepaskan kembali datang, dan dengan terpaksa Tama berendam didalam bathup berisi air dingin, dengan bersender Tama menatap langit langit kamar mandinya yang telah didesain seperti langit cerah.
Kepribadian Tama jauh bertolak belakang dengan kedua sahabatnya, kedua sahabatnya termasuk seorang psycopat kelas kakap dengan kesan yang menyeramkan, berbeda dengannya yang lebih ke kepribadian hangat dan ceria.
Bahkan kamar Tama pun tak kalah nyaman, dengan di dominasi dengan warnah cerah seperti putih dan biru muda serta hijau, mungkin terkesan feminim tapi Tama menyukainya dan dia merasa sangat nyaman, di langit langit kamarnya pun hampir sama dengan kamar mandi, berhiaskan langit cerah dengan awan menghiasinya.
Salah satu dinding penuh dengan coretan cat, lukisan pemandangan dan pohon pohon yang Tama lukis dengan begitu cantik, hasil mahakarya tangannya sendiri.
"hhhh sialan!" umpatnya, setelah juniornya mau tidur Tama segera keluar dari dalam kamar mandi, dan memakai baju tidur.
Setelah rambut Tama kering, dia berbaring diatas tempat tidur miliknya, dia kembali menatap langit langit, memikirkan apa yang tadi Bastian katakan kalau hatinya sudah terisi oleh seseorang, dan hal itu juga yang membuatnya jijik saat hendak bercinta dengan Sella.
kriing
Ponselnya berbunyi, dia meraihnya dan membuka pesan masuk yang tak lain dari Sella yang merengek karena tadi dia tinggalkan "menyebalkan" gumamnya, dia begitu malas membalas dan tanpa diduga ada pesan masuk dari nomor Elza.
Matanya berbinar dan segera membuka pesan tersebut "selamat malam, jangan lupa cuci kaki sebelum tidur 😁"
Tama tersenyum mendapat pesan singkat itu "ahhh meleyot hati abang" ucapnya sembari memegang dadanya yang berdebar, dia merasa malu dan salah tingkah sehingga sekarang dia sedang gulang guling diatas tempat tidur.
"malam.. tumben mau mengirimku pesan?" Tama membalas, dia mencoba membalas pesan itu biasa saja padahal hatinya benar benar berbunga bunga.
"apa yang sedang dia tulis?" gumamnya tidak sabar, saat melihat Elza tampak sedang mengetik sesuatu.
"hanya iseng tadi"
"yaa... aku kecewa" Tama kembali membalas pesan itu.
"hahaha tidak tidak, aku bercanda tadi, pesan yang tadi memang benar kok"
"benarkah?"
"ya, cepatlah tidur hari sudah malam!"
Tama kembali tersenyum "ahh manisnya" tanpa sadar dia memeluk ponselnya, padahal hanya kata sederhana semacam itu, Tama bisa sesenang itu, rasanya seperti tengah diperhatikan oleh pacar menurutnya.
__ADS_1
"baiklah, selamat malam El cantik"
Sudah tidak ada balasan apapun, sehingga Tama memilih untuk tidur.
**
"hoeeek" Elza berpura pura muntah saat berbalas pesan dengan Tama.
"jijik kali.."
"mulutnya memang manis, pantas saja banyak sekali wanita yang termakan oleh rayuannya , termasuuuuk" dia menunduk saat mengingat kembali akan mendiang kakaknya.
Elza menghela nafas dengan sedikit kasar, tadi setelah kerja dia masih duduk didalam mobil dan malah iseng mengirim pesan ke Tama.
Mobilnya sudah selesai diperbaiki sehingga dia dapat memakainya untuk berangkat bekerja.
Sebenarnya dia tadi hanya ingin memastikan kalau Tama tidak mengetahui tentangnya karena tadi siang tanpa sengaja bertemu saat dia tidak mengenakan make up.
"sepertinya dia lupa" gumamnya, dan Tama memanang lupa akan hal itu.
Alis Elza menyernyit saat melihat siapa yang mengetuk pintu mobilnya, Elza membuka kaca mobilnya.
"apa?"
"anterin Keni pulang dong cantik?" ternyata itu adalah Keni, si chef terkenal yang tanpa orang tahu kalau dia memiliki kelainan.
"nggak! nanti bang Ke malah ngapa ngapain gue!"
Keni menatap jengah Elza, lalu menatap dada Elza "punya El kecil, gue nggak suka"
Elza terbelalak lalu menutup dadanya sendiri, lalu dia menatap tajam Keni.
"hehehe sorry el, keni kan bicara fakta, boleh ya keni ikut?"
"nggak!"
__ADS_1
"issh jangan nyebelin deh, lagian apartemen keni kelewatan juga" rujuknya, dengan wajah memelas.
"boleh ya? besok kalau libur Keni ajak jalan, lalu Keni belanjain Elza"
"janji?"
Keni mengangguk, Elza membuka kunci mobilnya dan dengan cepat Keni masuk.
"ahh untung ada El"
"emang motor elo kemana?" tanyanya sembari melajukan mobil.
"bocor tadi siang, dan belum sempat Keni ambil dibengkel" dia membuka cermin yang ada ditas kepala, mengusap pelan wajahnya.
Elza melirik Keni sekilas "ck kenapa juga orang orang bisa nge fans sama pria tulang lunak ini" gumamnya.
"hey! gue masih bisa denger!" ucapnya kesal.
"bagus deh kalau denger" jawabnya malas.
"Keni kan cantik, dan seorang Chef terkenal, dan lagi gue juga punya chanel di kutub sehingga orang orang dapat mengenal Keni"
"dan mereka semua tertipu dengan semua yang ada dibadan elo"
"hihihi nggak ada yang menyangka ya? gue juga heran banyak sekali fans wanita yang memuja Keni, emang menurut El Keni tampan ya?"
"hmm lumayan, kalau gue nggak kenal mungkin gue naksir"
Keni tersenyum dan menoel lengan Elza, membuat wanita itu terkejut "apa Elza akan beneran suka sama Ken kalau Ken macho?" tanya Keni dengan suara beratnya.
"tentu saja mau" Elza langsung menangkap tangan Keni dan menggenggamnya.
"kyaaaa... jangan sentuh anak perawan! " Keni menampik tangan Elza.
"buahahaha elo mood banget siih" ucap Elza sembari tertawa ngakak, lelahnya setelah bekerja seolah terobati melihat tingkah konyol temannya, apalagi tadi setelah selesai bekerja dia harus mengantarkan makanan yang DO dari custemer, dia mau saja melakukan hal itu karena itu termasuk lembur dan Elza akan mendapatkan uang lebih nanti saat gajian.
__ADS_1