
Weekend pun datang, dimana setiap manusia yang bekerja kantoran dapat libur untuk mengistirahatkan badan dan otak yang diperas selama satu minggu bekerja.
Berkumpul bersama keluarga atau sekedar jalan jalan melepas penat.
Sedangkan Elza dan Tama saat ini sudah duduk berdampingan didalam mobil, sudah hampir satu jam tapi sepertinya perjalanan mereka belum sampai tujuan juga.
Elza memandang pohon pohon yang tampak seperti sedang berlari sepanjang jalan, sudah berkali kali gadis itu menanyakan kemana mereka akan pergi tapi Tama hanya menjawab "nanti juga kamu tahu" menyebalkan sekali, batin Elza menggerutu.
"perjalanan kita masih jauh, tidurlah dulu"
Elza menoleh saat Tama berbicara, dia menyernyit curiga "nanti aku dibuang dijalan lagi"
Tama terkikik "kamu mengada ada, mana tega aku meninggalkan gadis kecil sepertimu, kalau nanti menangis bagaimana?"
Elza terlihat kesal saat Tama lagi lagi mengejek dirinya, ya dia tahu kalau saat ini usianya masih sangat muda bahkan dia belum genap dua puluh tahun, tapi mendengar terus menerus diejek mengenai usia membuatnya kesal "cih, apa tak lelah mengejekku terus orang tua?"
"orang tua?"
"ya! karena usia anda sudah hampir tiga puluh empat tahun!" jawab Elza penuh tekanan, senyum kemenangan terpancar diwajah cantik gadis itu saat melihat wajah Tama yang berubah kecut.
"ya usia kita memang terpaut jauh sekali, aku jadi teringat dulu pernah mengejek Bastian sebagai pedofil karena suka dengan bocah ingusan, tapi lihatlah sekarang aku juga mengalaminya"
"kenapa belum sampai juga tuan?" tanya Elza tapi terdengar seperti rengekan, sehingga membuat Tama yang sedang melamun tersadar kembali.
"sudah aku katakan tidurlah dulu! masih jauh perjalanannya"
"issshh" badannya dia goyangkan karena merasa lelah.
Tama melirik sekilas, dia menggeleng melihat tingkah kekanakan Elza.
Mobil terus melaju membelah jalanan, Tama menoleh saat tak mendengar gerutuan gadis itu lagi "ternyata tidur, pantas saja tak mengoceh" ujarnya sembari terkekeh geli.
Tangan kirinya dia ulurkan kearah Elza, mengelus lembut kepala gadis itu dengan sayang, sudut bibir Tama tertarik sedikit membentuk senyum simpul.
**
Elza yang merasa mobil tak lagi berjalan, mulai membuka matanya perlahan "aaahhk" pekik gadis itu saat melihat Tama sedang duduk sembari menatap wajahnya, dia sampai terbelalak karena kaget "anda sedang apa?"
"memandang wajahmu yang cantik"
Elza melengos "ehem" berdehem untuk menormalkan suasana yang menurutnya salah ini "kita sudah sampai?" tanya Elza mengalihkan pembicaraan.
"ya, kita sudah sampai"
Elza menoleh kesamping "kita dimana?" tanya Elza penasaran.
"ini dipinggir kota"
Elza kembali menoleh kearah Tama "memangnya mau ngapain kemari?"
Tama mendekati tubuh Elza membuat gadis itu mundur sampai membentur pintu "sesuai apa yang kamu katakan kemarin, kita kencan"
gluk
Elza menelan susah salivanya saat wajah tampan Tama sangat dekat dengan wajahnya, dia dapat mencium aroma mint saat pria itu berbicara dan lagi aroma parfum yang sangat maskulin terasa menggelitik hidungnya. "ke-kencan?"
Tama menatap dalam mata cantik gadis yang ada dihadapannya "kamu cantik" ujarnya pelan dengan suara dalam miliknya.
bluuushh
Wajah Elza tiba tiba saja memerah, entah karena apa tapi dia merasa wajahnya panas setelah Tama memuji dirinya barusan.
Belum selesai Elza memberikan reaksi Tama semakin mendekatkan wajahnya, dia ingin sekali mengecup bibir merah gadis itu.
__ADS_1
"tidak! jangan! tahan tahan! nanti dia ketakutan"
Dengan segera Tama menjauhkan wajah, dia berhasil menguasai dirinya "ayo turun" keluar dengan cepat.
Elza memegang dadanya, dia bernafas lega saat Tama keluar dari dalam mobil "dia tadi mau menciumku?" geleng geleng kepala dengan cepat "hati tolong jangan lemah! jangan sampai terbuai dengannya!"
Membuang nafas dengan panjang berkali kali, dia mencoba mengenyahkan hatinya yang mulai tak singkron dengan pikirannya.
tok tok tok
Elza terkesiap, dia menoleh kesamping dimana Tama sedang mengetuk kaca "cepat turun!"
"ah i-iya" dengan cepat Elza meraih handle pintu dan segera turun dengan cepat tapi karena tak hati hati Elza kehilangan keseimbangan "aaahh"
Mata Elza terpejam saat tubuhnya akan terjatuh kebawah.
"eh-kok tidak sakit?" gumamnya, dia membuka mata dan
deg deg deg
Jantungnya berdebar tak karuan saat menyadari bahwa Tama menangkap pinggangnya sehingga dia tak jadi jatuh, mata mereka beradu selama beberapa detik.
"kamu ceroboh sekali !!" Tama menarik tubuh Elza sehingga berdiri dengan tegap.
Elza yang tadi masih terbengong tersadar dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal "terimakasih, tadi saya terburu buru jadi tak seimbang saat berdiri"
"sudahlah, ayo masuk" Tama berjalan lebih dulu, sebenarnya dadanya juga tadi berdebar tak karuan saat memegang pinggang ramping gadis itu.
"sial.. hanya memeluknya saja membuatku panas begini" gerutu Tama kesal.
"tuan" Elza memanggil Tama.
Tama menoleh kebelakang "ada apa?"
"ini tempat--"
"rumah singgah cahaya?" gumam Elza dalam hati melihat plang yang ada didepan rumah, dadanya berdebar saat memaski rumah yang lumayan besar ini.
Tama melepaskan tangan Elza saat para anak yang ada didalam memekik memanggilnya "kak Tama!"
"hallo semua? apa kabar?"
"baiiik" jawabnya serentak, mereka berjejer mengelilingi Tama, Tama menggendong salah satu anak yang masih terbilang kecil, gadis cilik itu tampak tak takut sedikitpun pada pria tersebut.
Elza terdiam melihat pemandangan indah yang ada didepan matanya, sudut matanya memanas saat melihat anak kecil sebanyak ini, hatinya terenyuh saat mengingat kalau dirinya juga sama seperti mereka, hanya hidup sebatang kara.
Tama membalikkan badan, membuat Elza terkesiap dan segera menghapus setitik air mata yang menetes, tersenyum hangat kearah pria yang saat ini tengah datang kehadapannya.
"Mia.. kenalin ini kak Elza" ujar Tama lembut.
Elza tersenyum, mengelus kepala gadis kecil itu dengan lembut "hay Mia"
Mia tampak tersenyum, dia memperhatikan wajah Elza dengan seksama "kakak cantik"
Elza terkekeh, dia toel pipi gembul Mia dengan gemas "Mia jauh lebih cantik"
"benarkah?" tanyanya lagi, matanya yang berbinar polos terlihat begitu menggemaskan.
"tentu saja"
"tuan Tama"
Kedua orang yang sedang berhadapan membalik badan, menoleh kesumber suara "selamat pagi bu Desi" sapa Tama sopan.
__ADS_1
"pagi, mari masuk tuan"
Tama mengangguk dan menurunkan Mia dari gendongannya, gadis kecil itu lari kearah teman teman yang keluar rumah saat mendengar mobil mendekat.
Elza dan Tama mengikuti ibu Desi masuk kedalam ruang khusus tamu, mereka duduk bersisian.
"ini siapa tuan? kekasih anda?" tanya ibu Desi penasaran.
Tama dan Elza masih diam, mereka hanya saling tatap "calon" jawab Tama setelah sekian detik.
Elze terbelalak,dia meringis kearah ibu Desi yang sekarang sedang tersenyum ramah.
"semoga status kalian cepat naik, supaya tuan cepat memiliki pendamping"
Tama mengangguk tenang, tapi berbeda dengan Elza yang tampak salah tingkah dan juga malu.
"saya kebelakang sebentar tuan, mau membuatkan kalian minum"
Tama mengangguk, dan saat ibu Desi tak terlihat lagi Elza memukul bahu Tama dengan keras.
"aww kenapa kamu memukulku?"
"itu balasan karena anda tadi bicara sembarangan!" ucap Elza besungut sungut.
"bicara sembarangan apanya? kan memang aku mau mengejarmu el"
Elza terdiam, benar juga gumam gumam kecil "ehem" berdehem untuk menetralkan wajahnya "tuan, sebenarnya ini tempat apa?"
"kamu pasti sudah tahu saat membaca plang besar yang ada didepan rumah" jawab Tama santai.
"ya, ini adalah rumah singgah, maksudku kenapa anda kemari? dan sepertinya kalian semua sudah saling kenal?" tanya Elza dengan wajah serius.
"ya memang"
Ibu Desi datang membawa nampan berisi dua cangkir teh, memotong pembicaraan kedua orang itu.
"silahkan diminum tuan, nona" ucap sopan ibu Desi.
"terimakasih"
Ketiga orang itu berbincang hangat, membicarakan perkembangan anak anak yang ada disana.
"tuan, ada yang ingin saya bahas bersama anda" ucap ibu Desi.
Tama melirik Elza begitupun ibu Desi.
"kalau begitu saya keluar dulu, melihat anak anak bermain" gadis yang peka akan situasi segera pergi keluar dari ruang tamu tersebut.
Berjalan menuju kerumunan anak anak yang sedang membuka mainan diteras, mereka tampak begitu bahagia sekali "hay anak anak"
"hay kak" sapa mereka sopan.
"kakak cantik pacar kak Tama ya? namanya siapa?"
Elza tersenyum canggung "nama kakak Elza"
"waah namanya bagus, seperti princess yang tangannya mengeluarkan es" seru gadis yang terlihat berusia enam tahun dengan begitu heboh.
"oh princess Elsa? hahaha padahal nama kita juga sebenarnya berbeda, tapi biarkan saja terserah mereka" batin Elza terkikik geli melihat kepolosan anak anak itu.
"ini mainan dari siapa?" tanya Elza penasaran.
"ini dari kak Tama, masih banyak itu dimobil box" menunjuk mobil bok yang terparkir didepan rumah, beberapa orang sedang mengeluarkan bahan makanan dari sana.
__ADS_1
Elza menatap anak anak yang sedang bermain dengan pandangan berubah ubah sedari tadi.
"kamu ternyata sebaik ini" gumamnya lirih.