DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
jangan melewati batas!


__ADS_3

Elza menatap pantulan dirinya dicermin kamar mandi, dia sudah berdiri hampir setengah jam lamanya.


Matanya lurus kedepan tapi fikirannya melanglang buana.


Dia teringat akan perkataan Tama sebelum dia masuk kedalam kamar tadi.


"aku tak akan merusak wanita manapun, meski terlihat brengsek tapi aku benar benar hanya mempermainkan wanita yang mau dan rela menyerahkan dirinya tanpa aku minta"


Elza menghidupkan air dan membasuh wajahnya beberapa kali, dia bingung dan sedikit ragu sekarang.


"tidak! gue tak boleh ragu! ucapan pria sebrengsek Tama tak boleh didengarkan, mulutnya memang pandai untuk menutupi kenyataan, buktinya kak Zara diperk*sa olehnya" gumamnya menyangkal hati kecilnya yang mulai ragu akan Tama.


Elza keluar dari dalam kamar mandi, menghampiri meja nakas dimana tablet nya tergeletak, dia mengambil dan membawa nya keluar.


Elza menatap sekilas kamar utama, dia menajamkan pandangannya "gue tak boleh goyah"


Melengos dan kemudian berjalan kearah dapur,duduk dibalkon tempat menjemur pakaian, dia memandang bintang yang terlihat sangat indah.


Senyum samar terlihat saat memandang betapa indahnya alam semesta.


Elza merogoh kantung celanannya dan mengambil permen rasa buah yang selalu bisa membuatnya merasa lebih rileks dan nyaman.


Tangannya mulai membuka tablet miliknya, mengambil pen dan mulai melihat hasil karyanya yang belum selesai.


Mulai menggoreskan pen pada layar tablet, dia sedang belajar mendesain mobil.


Tak terasa malam semakin larut, udara malam membuat gigi Elza menggelutuk karena kedinginan.

__ADS_1


Gadis cantik itu berdiri dan kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam, berjalan santai menuju kamarnya kembali.


Membuka pintu dan kemudian masuk kedalam kamar, saat hendak menutupnya rapat gadis itu sedikit terkejut mendengar pintu kamar Tama terbuka, dan pria itu keluar dengan tergesa.


"dia mau kemana?" gumam Elza, dia mengintip dicelah pintu yang belum tertutup sempurna.


Tama tampak gusar, dia sedang menerima telefon dari seseorang.


Elza ingin sekali mengikuti kemana perginya pria itu tengah malam begini, tapi di urungkannya mengingat banyaknya penjaga diluar apartemen.


"apa dia hendak menemui pacarnya?" gumam gumam menebak "sudah pasti lah, kemana lagi tengah malam begini dia pergi ! "


**


Sedangkan Tama sudah masuk kedalam mobil, dia menatap tajam jalan yang sangat lengang itu "menyusahkan saja!!" ujarnya kesal, dia yang tadi masih mengerjakan pekerjaannya ditelefon oleh asisten dari pacar artisnya, bahwa Sella sakit dan memanggil namanya terus menerus.


Mungkin ini hanya akal akalan Sella saja agar Tama mau menemuinya, tapi kali ini Tama terpaksa datang dan akan memperingati wanita itu agar tak melewati batas.


Dengan membuang nafasnya agak kasar, dia menekan pasword lock door yang sudah dia hafal diluar kepala karena dulu dia sering datang kemari.


Langkahnya terhenti dengan mata yang menyipit saat melihat asisten Sella sedang duduk santai sembari main ponsel.


ehem


Wanita itu terperanjak dan segera berdiri "tuan, anda sudah datang?" dia agak terkejut karena tadi ditelefon Tama tidak mengiyakan datang.


"mana Sella?"

__ADS_1


"nona ada dikamar tuan, tuan masuk saja"


Tama mengangguk, dia segera berjalan menuju pintu kamar Sella dan membukanya, terlihat Sella yang sedang duduk bersandar dikepala ranjang.


"sayang" pekik Sella girang, dia turun dari tempat tidur dan segera menghampiri Tama, memeluk pria yang sudah beberapa bulan tak datang mengunjunginya.


Tama diam saja, tak menolak ataupun menerima "kamu berbohong hanya agar aku datang kemari?" tanya Tama dengan suara rendah.


Sella tertegun dan segera melepaskan pelukannya "ma-maaf" menunduk saat melihat wajah Tama yang mengeras, dia tadi sangat senang saat Tama datang dan berarti pria itu sedikitnya masih bersimpati padanya, tapi kenapa dia sampai lupa kalau tadi beralasan sakit.


"aku tekankan sekali lagi jangan melewati batasmu!"


Sella memeluk tubuh Tama "aku salah sayang, aku minta maaf"


Tama mendorong tubuh Sella, dia merasa jijik.


"kenapa? apa kamu tak merindukanku?" tanya Sella, terdengar sangat kecewa.


"cih rindu, kau tau bagaimana hubungan kita bukan? tak ada perasaan saat kita menjalin hubungan"


Sella menunduk, dia tahu hal ini tapi perasaannya tak bisa dia cegah, kalau dia sejarang menginginkan pria ini, dia ingin menjadikan Tama miliknya.


"sudah aku tekankan sedari awal, kalau kita hanya patner dalam ranjang saja, jangan berharap lebih!"


Sella mengangguk, hatinya sakit sekali mendengar ucapan Tama barusan "iya aku tahu, maaf" dia amsih berusaha bersabar, agar Tama bersimpati padanya.


"jadi aku tekankan sekali lagi, jaga batasanmu!" berbalik badan dan segera meninggalkan Sella.

__ADS_1


Sella menatap punggung tegap Tama, dia mengepalkan tangannya "awas kau nanti, akan kubuat kau bertekuk lutut padaku!" ujarnya penuh dendam.


"aaaaaahhhhk" pekiknya kencang, dia mengamuk dengan mengacak acak alat make upnya yang berjajar diatas meja rias.


__ADS_2