DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
cemburu?


__ADS_3

Tama sedang melakukan meeting penting bersama dengan kliennya yang dari negara tetangga. Dia tengah mendengarkan dengan seksama presentasi dari kliennya ini.


tring


Satu pesan masuk kedalam ponselnya. Alisnya menyernyit saat melihat pesan dari anak buah yang ia tugaskan untuk menjaga Elza dari jauh.


Dengan cepat Tama membuka pesan tersebut.


"nona pergi menuju cafe dan menemui seseorang" isi pesan pertama yang ia dapat.


"siapa yang dia temui?"


"saya tidak bisa melihat karena mereka bertemu diruang privat"


Tama berfikir sejenak, memikirkan siapa yang ditemui oleh Elza sepagi ini.


"Mr.Tama apa terjadi sesuatu?" tanya kliennya saat melihat Tama bermain ponsel.


Tama terkesiap saat namanya dipanggil "ah iya maaf. Silahkan lanjutkan"


"baik"


"terus pantau dan jaga gadisku itu dengan baik" Tama memutuskan untuk menyimpan ponselnya diatas meja. Dia kembali memperhatikan presentasi tersebut.


Hampir setengah jam lamanya, ponsel Tama kembali berbunyi. Dia dengan cepat membuka isi pesan dari anak buahnya.


"nona sudah kembali, tapi dia pulang bersama seorang pemuda"


triing


Foto Elza didepan pintu bersama dengan seorang pemuda masuk kedalam ponselnya. Karena merasa kaget, dia secara spontan berdiri dari duduknya.


Semua orang menatap Tama dengan pandangan bingung.


"tuan.." bisik Raka, dia yang duduk disisi Tama menendang sepatu Tama agar pria itu menoleh kearahnya.


Tama menoleh kearah Raka, lalu ia melihat kode dari Raka yang menyuruhnya untuk memperhatikan sekeliling.

__ADS_1


"kalau anda berani pergi, jangan salahkan siapapun jika proyek miliyaran ini pada akhirnya gagal didapatkan"


Tama mengepalkan tangannya saat mendengar bisikan dari Raka, dia menoleh kearah beberapa orang yang sedang memperhatikan dirinya dengan bingung "maaf maaf, silahkan dilanjutkan" ucapnya dengan tersenyum ramah, lalu ia kembali duduk dengan terpaksa. "sialan..!!" umpatnya dalam hati saat ia tidak bisa pergi dari meeting ini.


Meski ia masih disana, tapi hatinya berada dirumah Elza. Dia penasaran sekali siapa yang ikut dengan Elza pulang. Karena foto yang dikirimkan oleh anak buahnya diambil dari belakang sehingga ia tak bisa mengenalinya.


***


"hallo Elza sayang.." pekik Lisa saat ia baru saja masuk kedalam rumah Elza. "eh--" ucapnya terkejut saat melihat seseorang tengah duduk santai diatas sofa sembari makan.


"Elza.. Lo mungut gelandangan dimana?!" pekik Lisa, ia sengaja menggoda pemuda yang tengah makan itu.


Vino yang sedang asik makan menoleh dan menatap kesal gadis manis itu. Dan setelah itu Vino kembali makan dan mengabaikan Lisa.


Lisa yang melihat wajah kesal Vino yang tampak lucu itu terkikik. Lalu ia duduk memepet pada Vino "makan apa lu? bagi dong" Lisa membuka mulutnya, minta disuapi oleh Vino.


Pemuda itu mendengus "Lo juga gelandangan yang numpang makan disini kan?"


"hihihi.." Lisa kembali terkikik.


"diem lu! kayak mbak kunti deh!" ucap Vino dengan ketus, saat melihat Lisa lagi-lagi membuka mulutnya. Vino dengan malas menyuapi gadis itu.


"benaran mau lagi? kita satu sendok loh.." ucap Vino sembari menaik-turunkan alisnya. Berusaha menggoda gadis ini.


"kenapa? Lo engga kena penyakit menular kan?" tanya Lisa dengan polosnya.


Vino menatap jengah gadis itu. Menyesal ia berucap pada gadis bloon ini "dasar bodoh! sini buka mulutnya!" ucapnya sedikit menggeram.


Lisa tersenyum dan kembali makan disuapi oleh Vino.


"romantis banget kalian" celetukan seseorang membuat Vino dan Lisa menoleh kesumber suara dimana Elza datang ketempat mereka duduk.


Dengan mengenakan celana pendek diatas lutut dan kaos putih pendek gadis itu terlihat segar dan cantik. Dan rambutnya ia ikat asal-asalan sehingga beberapa helai menjuntai diwajahnya menambah imut padanya.


"romantis apaan. Dia ini tukang rampok makanan orang" ujar Vino sembari menuding kening Lisa.


"gue laper elah.. Lagian elo juga makan minta Elza nggak usah pelit deh.." sekarang giliran Lisa yang menuding Vino, bukan dikening tapi dihidung dan Vino langsung menampik tangan Lisa.

__ADS_1


"jadi anak kecil yang datang kemari siberondong imut ini?" tanya Lisa pada Elza. Dia dengan iseng mencubit pipi Vino.


Pemuda ini menurut Lisa sangat lucu, karena pipinya sedikit kemerahan dan kulitnya juga putih. Kalau bisa digambarkan dia mirip sekali dengan oppa-oppa Korea yang terlihat lembut dan tampan.


"bukan datang, tapi gue nemu dia dijalan dan gue bawa pulang saja" ujar Elza sembari menahan tawanya.


"emang Lo kira gue kucing?!"


"pfftt.. Lo lebih imut ketimbang kucing malahan" ucap Lisa sembari menahan tawanya.


Vino memutar bola matanya jengah "kenapa wajah gue yang ganteng ini selalu dibully kalian sih?! nanti gue numbuhin kumis dan jenggot sekalian biar macho!" gerutu Vino bersungut-sungut.


"hahahaha.. kayaknya lucu ya kalau Vino berkumis, kayak lele" ucap Lisa sembari tertawa, begitupun Elza yang juga ikut tertawa.


"ish.. Kalian nyebelin banget sih!" ucap Vino, dia berdiri dari duduknya dan pergi menuju dapur. Dia akan menaruh piring kotor karena makanannya telah habis.


"awas kalau nggak dicuci"


"iya iya.. bawel" pekik Vino saat mendengar ucapan Elza.


Dan setelah itu ketiga orang itu hanya rebahan diruang tengah dimana disana ada televisi dan sebuah kasur. Mereka main game dan makan camilan sembari bercerita.


Dan disini Vino selalu dibully oleh kedua gadis cantik itu. Bahkan mereka menyamakan Vino dengan bang Keni yang notaben nya adalah seorang pria yang biasanya seperti wanita.


Sampai tanpa sadar, mereka bertiga akhirnya tertidur diatas tempat tidur.


Tak tak tak


Suara sepatu pantofel menggema saat seorang pemuda masuk kedalam rumah milik Elza, dia dengan cepat mencari keberadaan gadisnya yang dikabarkan membawa seorang pemuda kerumah.


Dia adalah Tama.


Setelah meeting berakhir, dia langsung pergi. Meski kepergiannya diiringi oleh ucapan ketus asistennya tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan adalah betapa penasarannya dia pada pemuda yang dibawa Elza pulang.


Rasanya marah dan kesal saat memikirkan hal itu. Dia bahkan tadi sampai menerobos lampu lalu lintas.


Hatinya merasa pias dan juga takut. Ini adalah pertama kalinya Tama merasakan perasaan cemburu pada wanitanya.

__ADS_1


Perasaan ini ternyata begitu menyesakkan dan membuatnya merasa tak tenang. Ada amarah dan perasaan campur aduk yang tidak bisa ia jelaskan rasanya.


Tapi yang jelas dan pasti Tama tak menyukai perasaan ini.


__ADS_2