
"biar aku saja!" ucap Tama dingin saat Elza hendak meraih kotak obat yang ada ditangannya "enak saja mau menyentuh pria lain didepanku!" gerutunya kesal.
Elza mengangguk, dia duduk disisi Davin dan memperhatikan Tama yang mulai mengusap luka yang terdapat dilutut Davin.
"aw aw aw.. pelan pelan bang!" pekik Davin saat merasa kesakitan, apalagi Tama mengusapnya dengan kasar.
"begitu saja merengek! dasar bocah pecundang!" ucap Tama ketus.
"tapi ini sakit sekali bang! abang menekannya terlalu kuat tadi" ucapnya menggerutu, dia menahan tangan Tama.
"ini pelan kok! lepasin tangan abang! bagaimana abang bisa mengobatinya?!" menampik tangan Davin agar menjauh.
"abang? apa kalian saling kenal?"
Tama dan Davin menoleh kearah Elza yang tampak penasaran, lalu membuang muka kesamping "tidak!" jawab mereka kompak.
"tapi kalian terlihat akrab sekali" ucap Elza kemudian, dia sedari tadi memperhatikan interaksi keduanya.
"biasa saja kok!" jawab Tama cuek, dia kembali membersihakan luka Davin, meneteskan obat lalu membalutnya perlahan.
Davin menatap Tama sendu, dia menunduk kemudian.
"jelas sekali kalian memiliki hubungan! masih saja mengelak!" batin Elza menggerutu, apalagi dia melihat tatapan mata Davin tampak seperti orang yang merasa bersalah.
"kutanyakan nanti saja, kalau sekarang gue rasa mereka berdua tak akan mengaku"
"sudah selesai" ucap Tama, dia merogoh dompet disaku celana, mengambil semua lembaran uang yang ada disana "ambilah, dan pergi kerumah sakit!"
Davin menatap tangan Tama yang masih menggantung diudara, dia mendongak menatap mata Tama "tak usah, gue udah nggak apa apa kok!" ucapnya, dia berdiri "gue pulang dulu, permisi" dia melangkah meninggalkan Tama dan Elza begitu saja.
__ADS_1
Tama menatap tangannya yang masih menggantung diudara, lalu tatapan matanya terarah ke Davin yang tampak sedikit pincang karena lututnya yang sakit.
Tatapan matanya melembut, dia kembali menatap uang yang ada ditangannya.
"tuan!"
Tama terkesiap, dia menatap wajah Elza yang tampak khawatir "anda baik baik saja?" tanya Elza saat melihat raut wajah Tama yang berubah ubah sedari tadi.
Tama tersenyum "aku baik" mengusap lembut ujung kepala Elza "ayo pulang"
Elza terdiam, dia kembali merasakan sensasi aneh pada hatinya, dia terkesiap saat Tama menggandeng tangannya ke mobil.
"kenapa gue tak bisa menolaknya?" ucap Elza saat dia sudah duduk didalam mobil, dia melirik Tama yang masih saja terdiam menarik nafas beberapa kali dengan begitu berat, seperti memiliki beban yang sangat berat sekali.
"tuan"
Tama menoleh, hatinya yang berkecambuk setelah tanpa sengaja bertemu dengan masa lalunya, dia merasa lebih baik saat melihat wajah lembut gadis yang ada disisinya. "terimakasih"
Tama menggeleng, dia menatap kedepan dan menjalankan mobilnya.
Tentu saja hal itu justru membuat Elza semakin penasaran "dia sebenarnya kenapa sih? setelah bertemu dengan Davin sikapnya aneh begini"
Melirik pria tampan yang masih saja diam "kalian sebenarnya memiliki hubungan apa? jangan jangan mereka adalah mantan kekasih" gadis itu menepuk kepalanya sendiri agar pikiran ngawurnya hilang "jelas jelas dia adalah pemain wanita, mana mungkin itu yang sebenarnya terjadi"
Mobil sampai dibasement apartemen, mereka keluar bersama dan memasuki lift, sedari tadi Tama masih saja diam membuat Elza heran.
Sampai didalam apartemenpun Tama masih saja diam.
"tuan"
__ADS_1
Tama menoleh "ya?"
Elza terlihat ragu untuk bertanya, merasa tak enak juga mencampuri urusan Tama.
Tama mendorong tubuh Elza sampai membentur pintu, dia mengungkung gadis itu dengan kedua lengannya "ada yang mau kamu tanyakan?" tanya Tama.
"emm" Elza tampak berfikir lagi.
"kalau ada yang mau tanyakan, tanyakan saja! aku akan menjawabnya" ucap Tama membuat Elza tak lagi ragu.
"kenapa anda terlihat murung setelah bertemu dengan Davin?"
Tama menatap mata hazle gadis itu, membuat gadis itu salah tingkah.
"apa kalian memiliki hubungan?" tanya Elza, dia gugup sekali.
"ya, dia adalah bagian dari masa lalu ku, perasaanku sedikit terusik setelah sekian lama tak bertemu dengannya"
Elza mengangguk mengerti, dia ingin sekali menanyakan apa hubungan antara mereka tapi tak berani.
Tama semakin mendekati wajah Elza membuat gadis itu semakin pias "apa kamu tahu, perasaanku sangat sakit, apa kamu mau menghiburku?"
"kalau aku mampu, a-aku mau" jawab Elza sedikit ragu.
Tama tampak menyeringi "benarkah?"
Elza mengangguk , dia merasa kasihan melihatnya yang bersedih dan berinisiatif untuk menghiburnya.
"jadi jangan pernah menyesalinya!"
__ADS_1
Sedetik kemudian mata Elza terbelalak kaget saat Tama melakukan hal yang begitu mengejutkan jantungnya.