
"El.. gue ikut kerestoran ya?" ucap Lisa dengan manja, gadis cantik itu menggelayuti lengan Elza.
Kedua gadis cantik itu berjalan bersisian setelah kelas mereka telah berakhir.
Puk puk
Seperti seorang kakak, Elza menepuk kepala Lisa. Dan gadis itu juga tampak senang karena pada dasarnya Lisa adalah seorang gadis manis dan terkesan manja "nanti kelelahan, lebih baik lo pulang dan nonton drakor dirumah"
Lisa menoleh "ck.. gue bosen dirumah, apalagi semenjak elo tinggal dirumah tuan Tama kita jarang bersama. Waktu elo hanya untuk pria baj**an itu" gerutu Lisa, dia mengerucutkan bibirnya.
"hahaha sebentar lagi gue pergi dari sana kok"
"really?"
Elza mengangguk "tentu saja, gue nggak mau membuat sahabat jelek gue ini kesepian" hiburnya, Elza menyomot pipi Lisa.
Lisa tersenyum senang "oke, gue udah kangen banget pengen tidur bareng elo"
"eh--" ucap Elza saat tangannya ditarik seseorang, membuat langkahnya terhenti dan membalik badannya "apa yang kau lakukan?!" sentak Elza saat mengetahui bahwa tangannya ditarik oleh Davin.
"ikut gue!"
"hey Davin! lepasin tangan Elza!" ucap Lisa, dia menepuk keras tangan Davin yang memang masih mencekal tangan Elza.
Davin tidak peduli, dia menarik tangan Elza menuju keluar dari area kelas.
"hey sialan! kenapa kau menculik Elza?!" Lisa masih terus mengikuti kemana Davin membawa Elza.
"lepasin vin!" sentak Elza lagi, tapi tangan Davin sangat kuat menarik tangannya.
"ikut gue! gue mau membahas sesuatu yang tadi sempat tertunda"
"tidak vin! gue mau kerja sialan! dan lagi kasihan Lisa bodoh!"
Davin menghela nafasnya kasar, dia berhenti dan menatap tajam Elza "kau bicara padanya jangan mengikuti kita!"
"cih.. ada hak apa lo ngelarang sahabat gue ikut! kalau Lisa tidak ikut, gue juga ogah ikut elo!"
Davin merasa kesal sekali menghadapi gadis ini, dia menarik tangan Elza, menyentaknya sampai tubuh gadis itu tersentak dan menubruk tubuhnya. Davin bahkan sekarang memeluk pinggang ramping gadis itu.
"kaau!! apa yang kau lakukan!"
__ADS_1
cuup
Elza membelalakan matanya saat Davin mengecup bibirnya secara tiba-tiba.
"ikut denganku atau gue akan berbuat lebih dari ini" bisik Davin, bibir mereka masih menempel.
Lisa yang melihat hal itu juga terkejut, dia bahkan menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"jangan ikuti kita lagi, kita akan membahas hal pribadi" ucap Davin, dia menatap serius Lisa.
Lisa mengangguk pelan, dia masih shok akan apa yang baru saja dia lihat. Bahkan sekarang dia masih mematung saat melihat sahabatnya dibawa oleh Davin.
"Lis"
Seseorang menepuk bahu gadis itu membuat kesadaran Lisa kembali.
"kyaaaaaaaaa..... apa yang tadi gue lihat?!" pekiknya membuat seorang gadis yang tadi menepuk bahu Lisa terkejut.
"Sahabat elo dicium oleh cogan kampus kita"
"kyaaaaaaa" Lisa kembali memekik dengan hebohnya.
hmmmppt
"ihh.. tangan elo bau banget sih Da!" keluh Lisa pada Arda salah satu teman sekelasnya itu. "astaga.. jantung gue kayak berhenti berdetak Da, coba elo pegang" Lisa menarik tangan Arda dan meletakan didadanya.
"masih lah, kalau enggak lo udah tepar dibawah" Arda menarik tangannya, dia jengah sekali melihat kehebohan Lisa. "siap-siap saja besok teman elo itu menjadi bahan gosip disini" tambahnya lalu dia melenggang pergi begitu saja.
Lisa terdiam lalu menoleh kekanan dan kiri, benar saja para teman kampusnya yang memang melihat kejadian tadi sedang begosip dan membicarakan kejadian tidak terduga tadi.
Lalu Lisa memilih untuk pergi dari pada telinganya panas mendengar ucapan para mahasiswi yang notaben nya adalah pemuja Davin. Lisa pergi menuju restoran tempat Elza bekerja, dia hendak menunggu sahabatnya itu disana.
Sedangkan disebuah cafe yang tak jauh dari kampus, Elza tengah menatap jengah pria yang baru saja menarik dan memaksanya pergi. Dan yang paling penting adalah Davin mencuri kecupan darinya tadi.
"jangan menatap gue seperti itu El.." tegur Davin saat merasa lelah melihat kilat amarah dimata gadis itu.
"apa yang ingin kau ketahui" tanpa berbasa-basi Elza langsung menanyakan poin penting dari apa yang ingin Davin ketahui. Sejujurnya dia sudah jengah setengah mati menatap wajah pria yang menurutnya tampak menyebalkan sekali sekarang.
"lo ada hubungan apa dengan tuan Tama sehingga dia mau menampung elo dirumahnya?"
"ck.. itu terus yang kau tanyakan! sudah gue tekankan tidka ada hubungan diantara kita, gue hanya babunya. paham!"
__ADS_1
Davin menghela nafasnya panjang mendengar penjelasan Elza. Meski dia penasaran sekali tapi gadis ini sungguh sulit untuk ditanyai "jangan mengelak El, gue tahu sekali tidak ada yang bisa maauk keapartemen tempat tinggal un-- ehem maksud gue tuan Tama" ucapnya dengan cepat meralat kata yang belum sempat keluar dari mulutnya.
Alis Elza menyernyit "sudah gue tekankan Vin. gue nggak ada hubungan apapun dengannya! dan lo sendiri, ada hubungan apa elo dengan tuan Tama?! gue penasaran sekali sampai-sampai elo ngotot begitu mau tahu hubungan kami"
"kita tidak ada hubungan apapun" Davin terlihat menyesap minuman yang sudah dia pesan tadi.
Elza terdiam, dia menatap wajah tampan Davin yang tampak berubah ekspresi, tampan menurunkan lengkung bibirnya. "Davin.. lo oke?"
Davin mendongak dan pandangan matanya bertemu dengan manik cantik milik Elza, dia tersenyum "lo cantik"
Elza memutar bola matanya malas mendengar pujian dari Davin.
"gue harap lo memang tidak memiliki hubungan apapun dengannya"
"kenapa?"
Davin menggeleng membuat Elza semakin penasaran saja.
"ayo gue antar, katanya lo mau kerja" ucap Davin sembari berdiri mengalihkan pembicaraan. Pria itu mendekati Elza dan mengulurkan tangannya.
Elza menatap malas tangan Davin, dia berdiri sendiri dan mengabaikan pria itu.
Davin menghela nafasnya dengan kesal, lalu dia mengikuti langkah kaki gadis yang keluar dari cafe.
Davin mengantarkan Elza ketempat gadis itu bekerja, dan setelah sampai Davin turun dari motornya.
Elza mengabaikan Davin dan melenggang pergi begitu saja. Mengabaikan pria yang tengah menatap sebal Elza karena diacuhkan. Tapi saat teringat sesuatu Elza berbalik badan dan kembali berjalan kearah Davin.
Davin menyernyitkan dahinya.
dug
"ahhh" pekik Davin saat tanpa diduga dan tanpa bisa dia menghindar gadis itu menendang kakinya, bagaimana dia bisa menghindar kalau Elza berbuat hal itu dengan begitu cepat "apa yang kau lakukan?!"
"itu balasan karena kau tadi lancang menciumku!" ucap Elza lalu dia pergi meninggalkan Davin yang sedang kesakitan.
"sialan sekali lo El.. akan kucium lagi kau nanti" pekik Davin dengan kencang.
Elza terus melangkah, dia hanya mengangkat tangannya dan mengacungkan jari tengah keatas.
**
__ADS_1
maaf slow update ya sayang...