DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
mengikat terlebih dahulu


__ADS_3

Tama memandang pintu kamar Elza yang terus tertutup setelah kejadian tadi siang, sampai malam Elza tak kunjung keluar kamar, dia menghela nafasnya panjang karena tak berani hanya sekedar mengetuk pintu dan menanyakan keadaan gadis itu.


"gue emang pecundang!" gumamnya, dia hendak meminta maaf tapi masih takut saat mengingat Elza yang ketakutan tadi.


"entah apa niatmu untuk mendekatiku, tapi sungguh aku tak rela jika kamu hanya memanfaatkanku untuk mencari tahu kematian kakakmu! itu yang membuatku marah dan lepas kendali"


ceklek


Tama terkejut saat pintu kamar Elza terbuka, dan terlihat wajah sembab gadis itu.


Begitupun dengan Elza yang tak menyangka kalau Tama ada didepan kamarnya, dia terkejut dan mencengkeram handle pintu yang masih dia pegang.


"el"


Elza diam saja, dia menatap wajah Tama dengan begitu intens.


"bisa kita bicara sebentar?" tanya Tama sedikit ragu.


Elza tampak membuang nafasnya panjang "ayo" jawabnya singkat.


Tama mengangguk dan segera balik badan dan mengajak Elza menuju kebalkon apartemennya.


Mereka duduk dengan keadaan canggung, Tama juga masih belum berbicara sepatah katapun, dia sedang memilah apa yang akan dia katakan.


Tarik nafas buang, tarik nafas buang "ayo gantle tam!"


Dia melirik Elza yang sedang memandang bintang yang tampak begitu cantik, semilir angin membuat rambut panjangnya berterbangan "sial, kenapa dia cantik sekali?"


Elza merasa sangat nyaman saat duduk disini, paling tidak perasaannya lebih baik sekarang.


"el"


Elza melirik Tama sekilas, tanpa mau menimpali ucapan pria itu, hatinya masih sakit saat diperlakukan seperti jala*g tadi siang.


"maaf untuk kejadian tadi" suaranya lirih, tapi justri hal itu membuat gadis itu menoleh.

__ADS_1


"tak masalah tuan, saya tahu anda mabuk tadi" ucapnya, dia sebenarnya ingin sekali memaki pria itu akan tetapi dengan sekuat tenaga Elza menahanya, menahan agar rencananya berjalan dengan mulus.


Tama menatap mata Elza tapi kemudian membuang muka kesamping saat debaran jantungnya malah sangat kencang saat menatap manik indah gadis itu. "saya bersalah telah mencium paksa dirimu el, maafkan saya"


Elza menatap pria itu dalam, ada rasa lain yang dia rasakan didada nya saat mendengar ketulusan pria itu saat meminta maaf.


Tama menoleh karena gadis itu masih saja diam, meraih tangan gadis itu dengan lembut "maaf el, saya lepas kendali tadi"


"sudahlah tuan, lupakan saja" jawab Elza acuh., dia mencoba melepaskan tangan besar Tama.


"kumohon maafkan saya el" menahan sebelum mendapatkan maaf dari gadis itu. "saya tahu kamu ketakutan"


Elza menghela nafas dengan kasar "saya memang takut saat diperlakukan kurang ajar begitu"


Tama menunduk "kalau begitu, pukul saja saya el" menarik tangan Elza kearah pipinya, dia tepukkan beberpaa kali membuat gadis itu terbelalak.


"saya mohon,maafkan kesalahan saya el, dan jangan takut saat bersama saya"


"janagn begini tuan"


"saya memaafkan anda karena anda terlihat tulus meminta maaf dan tampak menyesali perbuatan anda siang tadi"


Tama tampak begitu senang "terimakasih"


cup cup


Elza membeku saat Tama mencium punggung tangannya. "tapi saya tak menyesalinya"


Elza terbelalak, dia menatap tidak percaya Tama dan berusaha menarik tangannya.


"tunggu! jangan dilepas dulu"


Elza mengalah, dia membiarkan Tama memegang tangannya.


"saya tak menyesal karena itu kamu"

__ADS_1


"apa maksud anda tuan?" tanya Elza tak mengerti, situasi hatinya menjadi kacau saat merasakan perasaan aneh saat tangan hangat Tama memegangnya dengan begitu lembut, tangan besar yang terasa bisa melindunginya.


Elza menggeleng, dia mengenyahkan fikiran tersebut, lalu fokus kembali pada pria yang masih menatapnya.


"saya menyukaimu el"


deg


Elza terbelalak, meski dia berharap Tama menyatakan cinta padanya tapi ini terlalu cepat kan? dan lagi kenapa hatinya lagi lagi merasa resah dan tak tenang.


"kenapa dada gue berdebar?!"


"jadi, saya sama sekali tak menyesalinya" sambung Tama.


"bagaimana mungkin anda menyatakan perasaan pada saya tuan? dan semudah itu?" tanya Elza tak percaya.


"saya serius el!" ujar Tama dengan wajah yang serius, dia sudah tak mau menahan diri untuk menyatakan cinta pada gadis ini mengingat dia adalah adik mendiang Zara yang masih dia selidiki mengapa Elza mendekatinya.


Paling tidak dia harus mengikat gadis itu sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan, seperti kehilangan Elza contohnya.


"apapun rencanamu, aku tak akan melepasmu el"


"hahahaha"


Tama menatap datar gadis yang tengah tertawa terbahak itu, dia bingung melihat reaksi Elza sekarang "kenapa kamu tertawa?" ucapnya terdengar tak suka.


"anda sedang melawak ya? konyol sekali tiba tiba menyatakan perasaan begitu hahaha"


Tama yang kesal memegang bahu Elza sehingga tawa gadis itu terhenti, menatap serius manik mata Elza "saya serius el, saya sangat mencintaimu"


deg


Lagi lagi dada Elza berdebar, menuduk sebentar lalu kembali mendongak setelah menguasai dadanya "jadi... saya jadi pacar nomor berapa tuan?" seloroh Elza.


Tama membuka mulutnya, dia lupa kalau saat ini masih memiliki banyak kekasih.

__ADS_1


__ADS_2