
Elza masuk kedalam apartemen Tama dengan berjalan gontai, dia merasa lelah setelah pulang dari kampus.
drreet drreet
Ponsel Elza berdering, dia mengambil ponsel yang ada didalam tas, melihat siapa yang menelfonnya "tuan Rico?" gumamnya, Rico adalah manager restoran tempat dia bekerja.
ehem
Elza berdehem, dia mengusap ponsel pintarnya dan menempelkannya didekat telinga "hallo, selamat siang tuan" ucapnya menyapa.
"siang, elza"
"ada apa tuan?" tanyanya penasaran.
"saya mendapat laporan dari pengelola restoran kalau kamu sudah beberapa hari tak datang?"
Elza menghela nafas "maafkan saya tuan, saya sudah meminta izin beberapa hari tidak bisa berangkat, dan diizinkan kok"
"saya tahu, yang saya mau tanyakan kamu kenapa? apa sakit?" terdengar suara pria itu khawatir membuat Elza menyernyit bingung, karena hubungan antara mereka sebelumnya tidak terlalu dekat.
"tidak, tapi saya ada urusan tuan"
"baiklah, kalau begitu saya tutup dulu telfonnya"
tut
Elza menatap layar ponselnya, alisnya menyernyit heran mendengar suara manager tempatnya bekerja terlihat aneh, gadis cantik itu angkat bahu acuh "bodo lah"
Kembali mengayunkan kaki menuju kamar, dan segera mengganti bajunya.
Merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur, dia merasa lelah sekali.
Elza teringat sesuatu sehingga terlonjak dan terduduk "map kemarin" gumam Elza, dia segera keluar dan mengambil alat kebersihan agar Tama tak curiga.
Gadis itu berdiri didepan kamar Tama, dia melihat pintu kamar tersebut tidak tertutup rapat "sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku" gumamnya sembari menyeringai.
Mendorong pintu dan mengedarkan kepalanya, dia kemarin sudah pernah masuk kesana sehingga sudah tahu seluk beluk kamar tersebut, dia melangkah menuju meja kerja kecil yang tak jauh dari tempat tidur.
__ADS_1
Saat melihat map yang kemarin dia lihat, dia menyeringai kembali, menunduk dan segera membukanya.
Matanya fokus melihat berkas tersebut yang ternyata adalah data wanita wanita yang cantik "untuk apa dia mengumpulkan data data ini?" batinnya bertanya tanya, dia agak heran.
Tangannya merogoh saku celana, mengambil ponsel kemudian memotret semuanya.
Tatapan matanya sendu saat melihat data mendiang kakaknya "kak Zara" ucapnya lirih, dia usap foto kakaknya pelan.
Elza menggeleng, dia menutup map tersebut dan mulai mencari berkas penting dimeja tersebut tapi tak dia temukan sama sekali.
Karena sudah lama didalam kamar, dia memilih keluar dari sana takut Tama pulang secara mendadak seperti kemarin.
***
Tama menatap tidak percaya pada berkas yang baru saja Arlendra kirimkan melalui email.
Dengan gerakan gusar Tama segera menelfon Arlendra.
"apa maksudnya ini ar?" tanya Tama saat sambungan telefon tersambung.
"dia adik dari pacar anda tuan" ucapnya menjelaskan, dia tahu pasti Tama akan menanyakan hal ini.
"saya masih menyelidiki latar belakang gadis itu, dan ada motif apa dibalik dia yang mendekati anda"
Tama memijat pelipisnya yang terasa berdenyut "cari tahu segalanya!"
"baik tuan, dan ada lagi satu hal yang mau saya katakan"
"cepat! jangan bertele tele!"
"Nona Zara telah meninggal sekitar enam bulan yang lalu"
Tama terbelalak, dia sampai berdiri dari duduknya "apa kau bilang?!!"
"Nona Zara telah meninggal enam bulan yang lalu karena bunuh diri"
Tama terdiam "apa dia sedang menyelidiki kasus ini?" batinnya bergumam.
__ADS_1
"tuan" Arlendra memanggil saat Tama diam saja.
Tama tersentak dan tersadar dari lamunannya saat mendengar Arlebdra memanggilnya "cari tahu sedetail mungkin tentang gadis itu, dan laporkan segera!"
"baik"
tut
Tama melempar ponselnya diatas meja, dia duduk kembali dan menyandarkan punggungnya.
Menatap langit langit sembari memikirkan fakta yang baru saja dia dapatkan, sungguh dia tak menyangka akan hal ini.
Tama berjalan menuju rak minuman miliknya, mengambil satu botol wine dan segera meminumnya dari bibir botol langsung.
Dia merasa panik tiba tiba.
tok tok tok
Tama melirik pintu yang diketuk "masuk!"
Pintu terbuka dan masuklah asisten Tama yang sekarang sedang menatap aneh Tama.
"kenapa anda minum saat bekerja?" tanya Raka. dari nada suaranya terdengar tak suka.
"hanya minum sedikit, tak akan membuatku mabuk" ucapnya malas.
gluk gluk
Meminum wine kembali "ada apa?"
"meeting akan dimulai sebentar lagi tuan, semua ketua devisi sudah berkumpul, dan mari pergi keruang meeting sekarang"
Tama menggeleng.
"apa maksudnya tuan?"
"kamu saja yang memimpin, aku mau pulang" menenggak minuman kembali, mengambil barangnya dan segera pergi.
__ADS_1
Raka membuang nafasnya kasar melihat atasannya itu telah keluar dari ruangan "punya boss seperti itu membuatku jengah saja!" keluhnya "sebenarnya kenapa dia? apa ada masalah? ahh malas sekali memikirkannya paling masalahnya tak jauh dari wanita!" gerutunya sembari keluar dari ruang kerja Tama, dia sungguh jengkel sekarang.
Tama mengendarai mobil dengan cepat, dia ingin sekali melihat gadis yang telah membuatnya resah, di sisi lain dia takut kalau Elza memang hanya ingin menggali informasi tentang mendiang kakaknya saja, padahal dia sudah terjatuh kedalam pesona gadis kecil itu.