
cuit cuit...
Elza yang tengah menyiram tanamannya terkejut mendengar suara siulan. Gadis itu mencari sumber suara yang sedikit mengusiknya.
"Hay cantik.. godain Abang dong"
Elza menatap jengah seorang pria yang tengah tersenyum usil padanya. Ia menyembulkan kepalanya diatas pagar rumahnya "apa yang anda lakukan disana?" tanyanya terdengar sedikit ketus, padahal pagar rumahnya lumayan tinggi. Bagaimana caranya pria itu mengintipnya saat ini? bukankah tak ada pijakan disana meningat disana adalah sebuah jalan gang kecil?
Pria yang tak lain adalah Tama itu tersenyum "mengintip gadis cantik yang sedang menyirami bunga" ucapnya mulai menggoda. Dia melirik kebawah dimana anak buahnya yang tengah menggerutu karena ia gunakan sebagai alat untuk mengintip Elza. Tama duduk dipundak anak buahnya itu.
"apa anda kurang kerjaan? disana sudah jelas ada pintu kenapa anda malah memanjat dinding?"
Tama terkikik, dia berdiri dan menjadikan pundak anak buahnya sebagai pijakan kaki. Lalu ia melompati dinding tersebut tanpa kesulitan.
"sepertinya anda memang sudah ahli memanjat? apa anda biasa melakukan hal itu untuk kabur saat mengintip seorang gadis yang sedang mandi?" sindir Elza tanpa mau menoleh kearah wajah Tama, ia memilih untuk menatap tanamannya yang akhir-akhir ini tidak ia rawat karena dia yang tinggal di apartemen Tama.
Bahkan ada beberapa yang mati, tadi Elza telah mencabutnya.
"ishh.. mana pernah aku mengintip seorang gadis mandi" gerutunya, ia mendekati Elza dan memeluk perut Elza dari belakang.
Elza terlonjak kaget "apa yang anda lakukan?! lepas!" ucapnya sembari meronta. Dia mencoba melepaskan tangan Tama yang melingkari perut ratanya.
"kamu sudah mandi ya? wangi sekali" ucap Tama sembari mengendus rambut Elza. Sepertinya gadis ini habis keramas karena rambutnya masih terasa sedikit lembab.
Rambutnya sangat harum sekali, Tama menyukainya.
"tuan" ucap Elza menekan saat ucapannya tidak digubris oleh Tama.
"apa sayang?"
Mata Elza terbelalak saat mendengar Tama memanggilnya sayang "apa yang dia katakan barusan? aku tidak salah dengar kan?" batin Elza.
Elza menoleh kebelakang, pria itu tengah tersenyum hangat padanya. Elza langsung menatap kedepan, tidak mau berlama-lama menatap mata Tama yang membuat jantungnya terasa berdebar.
"aku semalaman susah tidur karena merindukan dirimu Elz.. aku rasanya ingin sekali dekat denganmu terus menerus. Apa kamu mengenakan lem perekat? bahkan aku tidak sanggup jika jauh darimu"
Elza memutar bola matanya jengah. Dia tidak akan termakan rayuan buaya darat seperti Tama. Tapi sejurus kemudian mata Elza kembali terbelalak saat lehernya dikecup oleh Tama "beraninya dia!!" Elza benar-benar merasa kesal dan marah.
__ADS_1
dug
"ahhk--" pekik Tama saat Elza menyikut perutnya. "kamu benar-benar tega menyakitku Elz.. hatiku sakit~~" ucap Tama mendrama, ia memegang dadanya. Merem*asnya. Seolah-olah Elza benar-benar menyakiti hatinya.
Elza hanya acuh, dia menggulung selang yang tadi ia gunakan untuk menyirami tanaman. Mengabaikan Tama.
"kamu sudah sembuh?" tanya Tama, ia terus mengikuti kemana gadis itu berjalan.
"hmm"
"sudah minum obat?"
Elza menggeleng, dia memang belum minum obat karena lupa. Tadi pagi Elza bangun dalam keadaan segar jadi ia memutuskan untuk segera mandi dan langsung mengurusi tanaman-tanaman miliknya.
Tama menggenggam tangan Elza, menariknya menuju kedalam rumah.
Gadis itu tahu sekali jika Tama pasti akan menyuruhnya untuk minum obat. Makanya ia hanya menurut.
Gadis itu menatap tak percaya apa yang ia lihat diatas meja.
"jeng-jeng-jeng.." ucap Tama sembari terkikik melihat wajah cengo Elza.
Pria itu membawa buah dan sayuran serta makanan kecil untuk gadis itu mengemil.
"kapan ini ada disini?" tanya Elza dengan cengo, melihat banyaknya makanan dan bahkan bahan makananpun tak luput ada disana saat gadis itu melirik kearah meja dapur karena ruang makan ini menjadi satu dengan dapur kecil minimalis miliknya.
"the power of magic" ucap Tama.
Elza hanya melirik pria itu sekilas "seharusnya anda tidak perlu repot-repot seperti ini"
"kenapa memangnya? semua makanan yang ada diatas meja ini tidak akan membuatku bangkrut. Jadi tidak usah sungkan"
Gadis itu mendengus, meski terdengar menyebalkan tapi apa yang dikatakan oleh Tama memang benar. Pria itu kan memang kaya.
"aku akan menyiapkan makanannya, anda belum sarapan juga kan?"
Tama menggeleng "aku kan memang kesini ingin sarapan bersama kamu"
__ADS_1
Elza hanya diam mendengar ucapan Tama ,gadis itu berpura-pura tak mendengar. Pria ini memang benar-benar membuatnya tak berkutik.
Setelah makanan yang akan mereka makan terhidang, keduanya makan bersama. Dan setelah itu Elza minum obat lalu memasukan bahan makanan kedalam kulkas.
"aku akan mengisi kulkasmu kalau sudah kosong nanti"
Elza menoleh kearah Tama yang terus berdiri disisi kulkas, pria itu memperhatikan Elza sedari tadi. Sudah ia usir tetap saja berdiri disana dengan keras kepala. "tidak perlu!"
"kenapa?"
"aku punya uang sendiri untuk mengisinya" ucap Elza segera menyanggah, walau bagaimanapun baiknya Tama ia tak akan mau bergantung atau memanfaatkan kebaikannya.
"ck.. aku akan makan disini mulai saat ini, jadi menurut lah!"
Elza kembali menatap Tama "maksud anda?" tanyanya tidak mengerti.
"aku hanya menitip bahan makanan disini. Kamu kan berjanji masih mau bekerja denganku. Kamu hanya perlu masak saja, aku akan makan disini tiap pagi dan malam"
"apa anda tidak repot tuan? rumah kita cukup jauh"
Tama menggeleng "tidak masalah, kalau perlu aku akan membeli rumah disebelah agar kita tetanggaan. Pasti akan menyenangkan kan?"
Elza mende-sah mendengar ide yang baru saja Tama ucapkan, pria ini ingin membeli rumah seperti ia membeli permen. Terdengar mudah sekali. Tapi kalau dipikir-pikir lagi pria ini bisa berbuat apa yang ia mau jadi kemungkinan besar pria ini bisa mewujudkan setiap ucapannya. kalian ingat kan jika ia kaya?
"waah... tampaknya kamu senang sekali Elz jika kita menjadi tetangga?"
Elza melotot mendengar ucapan tak tahu malu Tama, sudah jelas sekali jika gadis itu memberengut menandakan jika ia keberatan. "tidaaak!! aku tidak senang sama sekali"
"aku jadi setiap hari bisa mengunjungimu, atau sekedar melihatmu dari jauh. Sama seperti seseorang yang--"
Elza segera menoleh kearah Tama saat pria itu menghentikan ucapannya "seperti siapa?"
Tama menggeleng "bukan siapa-siapa"
Elza yang awalnya berjongkok berdiri, dia menatap penuh curiga pria tampan ini "siapa dia tuan?"
Tama angkat bahu acuh "apa? aku hanya asal bicara. Aku akan kedepan untuk menelfon seseorang" ucapnya menghindari pertanyaan Elza. Ia segera pergi dari dapur menuju kedepan.
__ADS_1
"siapa yang dia maksud?" gumam Elza sembari menatap punggung Tama yang semakin jauh dari dapur.