DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
mengantar


__ADS_3

Elza menatap heran suaminya yang tengah mengaduk-aduk sarapannya. Wajahnya lesu dengan kantung mata yang menghitam.


Tampilannya sungguh seperti orang yang kelelahan "apa kau semalam tidak tidur?" tanyanya karena ia merasa penasaran.


Tama mendongak dan menatap wajah cantik Elza yang tengah menatapnya. Dia mengangguk saja sebagai jawaban.


Tama memang tidak bisa tidur lagi setelah hasratnya tidak bisa tersalurkan. Bisa saja ia bermain sendiri dikamar mandi tapi ia memilih untuk berdiam diri diruang kerjanya. Dia minum-minum sembari mengerjakan pekerjaannya disana.


Mencoba menjauh dari Elza yang sudah terlelap. Kalau sampai ia tak kuat menahan hasratnya kan bisa gawat, karena istrinya sedang datang bulan.


"apa kau bekerja hari ini?"


Tama mengangguk dengan lesu "iya. Ada meeting yang mengharuskan ku untuk datang"


"apa kamu baik-baik saja?"


Tama menggeleng "tentu saja tidak. Kamu tahu kan semalam aku tidak bisa menyalurkan gairahku sehingga aku merasa pusing sekarang"


Wajah Elza memerah mendengar ucapan terus terang Tama, dia malu membahas hal tersebut "maaf"


"ini bukan salahmu sayang. Aku akan menunggumu sampai kamu bisa aku naiki" ucap Tama bernada menggoda.


Mata Elza melotot karena terkejut.


"hahaha .. kamu lucu sekali sayang" tawa Tama meledak saat melihat wajah kaget Elza, dia menyukai nya.


Elza memutar bola matanya malas "habiskan makananmu, dan pergilah!"


"kamu tega sekali mengusir suamimu, aku masih ingin melihat istriku" ucapnya dengan suara lemah.


deg


Disebut istri oleh Tama membuat jantung Elza tiba-tiba berdetak kencang. Darahnya berdesir hangat menuju hatinya.


Elza memilih menunduk, menyembunyikan perasaan nya.


"kamu temani aku kekantor ya?"


Elza mendongak lalu ia menggeleng "aku mau pulang"


"pulang kemana? ini rumahmu sekarang" ucap Tama dengan cepat.


Elza mengangguk "aku akan mengambil barangku yang masih tertinggal dirumah. Dan apa aku boleh menginap sesekali disana?" tanyanya penuh harap.


Tama menatap wajah Elza yang tengah memohon izin padanya "tentu saja. Aku akan mengizinkannya asal kamu mengajakku"

__ADS_1


Elza tersenyum senang lalu mengangguk "terimakasih"


"Apapun yang kamu inginkan akan kuturuti" ucap Tama dengan wajah serius.


"benarkah?"


Tama mengangguk "Tentu saja. kamu mau apa memangnya? Tas sepatu, atau berlian? akan kubelikan untukmu. Kamu tahu kan kalau suamimu ini kaya raya?" ujarnya sembari tersenyum sombong. Dia mengusap rambutnya kebelakang dengan ekspresi wajah tengil.


"cih.. sombong sekali"


"hahaha aku bicara fakta sayang. Sekarang habiskan sarapanmu aku akan mengantarmu kerumah"


Elza mengangguk dan melanjutkan makannya.


Setelah selesai, mereka pergi bersama menuju rumah Elza.


"aku pergi" ucap Elza saat mobil sudah sampai didepan gerbang rumahnya. Dia melepaskan saltbelt lalu ia memperbaiki tas yang ia gendong.


"tunggu" ucap Tama saat melihat Elza hendak meraih handle pintu mobil. Dia mengambil sesuatu di dompetnya. Dia menyerahkan benda itu pada Elza.


Alis Elza menyernyit.


"ambil! kamu bisa membeli apapun yang kamu mau menggunakan kartu ini" ucap Tama sembari memberikan kartu tersebut ketangan Elza.


"tapi.."


Elza mengangguk dan memasukkan kartu hitam yang diberi kan oleh suaminya itu kedalam tas. Saat melihat tatapan serius diwajah Tama membuat Elza luluh "terimakasih"


"password nya adalah tanggal kemarin, tanggal pernikahan kita"


Elza mendongak dan menatap mata suaminya. Dia sekarang sudah menjadi seorang istri. Istri dari pria yang dulu sangat ia benci. Rasanya masih seperti mimpi saja.


Setelah itu Elza meraih handle pintu mobil "aku pergi"


"tunggu dulu.." Tama melepaskan saltbelt nya, dia mendekati tubuh Elza. Menyergah dan memeluknya dengan erat.


"kak?"


"biarkan seperti ini sebentar. Aku ingin mengisi daya baterai semangatku dengan memeluk istriku" ucap Tama sembari mengusal dileher jenjang Elza. Mencari kenyamanan disana.


Elza mengalah, dia membiarkan Tama memeluknya. Elza bahkan mengusap bahu Tama dengan lembut.


"aw--" pekik Elza tiba-tiba.


Tama mendongak kemudian meringiskan giginya.

__ADS_1


"kenapa menggigit ku!" gerutu Elza sembari mengusap lehernya yang sakit. Dia menatap kesal Tama.


"aku gemas padamu sayang" ucap Tama sembari tersenyum, dia memang merasa gemas tadi.


Elza berdecak "aku pergi sekarang"


"tunggu dulu.. aku belum dicium loh"


Elza menatap sengit Tama lalu meraih handle pintu "nggak mau!" ucapnya dengan kesal.


Dia menarik handle pintu akan tetapi mobil ternyata masih terkunci "kak buka kuncinya!"


"kalau aku belum dicium aku tidak akan membukakan kuncinya, aku akan membawamu kekantor" ucap Tama sembari tersenyum tengil. Dia senang sekali menggodanya istrinya itu.


Hal itu membuat Elza mendengus, tapi tiba-tiba saja dia menyeringai. "kakak minta dicium?"


Tama mengangguk dengan semangat.


Elza mendekati tubuh Tama lalu ia menarik kerah baju Tama membuat pria itu terkejut, lalu Elza menabrakkan bibirnya.


Elza mencium bibir Tama. Mel-u-mat nya dengan lembut.


Elza semakin meringsek kan tubuhnya mendekati tubuh Tama.


Ciuman itu semakin dalam, terdengar kecapan beberapa kali.


Pelan tapi pasti Elza mulai naik keatas tubuh Tama. Duduk dipangkuan nya tanpa melepaskan pagutan bibir tersebut.


Tangan Elza dengan nakal mengusap dada bidang Tama, membuat pria tampan itu melenguh sembari memeluk erat pinggang Elza. Hal itu membuat Elza kembali menyeringai, dia menarik dasi yang Tama kenakan sampai terlepas.


Saat merasa diri Tama yang lain sudah menegang, Elza melepaskan pagutan bibirnya. Tangannya terulur untuk membuka kunci.


Dengan gerakan cepat Elza keluar dari mobil setelah berhasil membuka pintu. "bye bye suamiku" ucap Elza sembari terkikik geli saat melihat tampilan berantakan seorang Tama.


Apalagi tatapan cengonya membuat Elza benar-benar terhibur.


Elza memberikan flying kiss sebelum ia menutup pintu mobil dengan sedikit keras, kemudian ia lari masuk menuju pekarangan rumahnya.


Tama menatap kepergian istrinya dengan tatapan syok, dia masih ngeblank saat tiba-tiba saja Elza berinisiatif untuk membangkitkan gairahnya. Dan ternyata gadis nakal itu sengaja melakukan hal itu agar ia lengah dan kemudian membuka kunci mobil.


Tama menggeleng sembari membuka jendela mobil "dasar istri durhaka!!" pekiknya dengan keras.


Elza tertawa kemudian menjulurkan lidahnya sebelum dia masuk kedalam rumah, dia dapat mendengar pekikan Tama karena suaminya itu membuka jendela mobil.


Saat istrinya sudah masuk kedalam rumah, Tama menunduk. Bajunya acak-acakan dan yang lebih parah adalah burungnya yang terbangun "sialan! awas kau nanti setelah selesai datang bulan! akan kubuat kau tidak bisa berjalan!" ucap Tama dengan serius.

__ADS_1


Tama membetulkan baju dan dasinya, lalu ia menatap rumah dua lantai milik istrinya itu. Saat Tama teringat akan tawa lepas Elza, meski agak dongkol tapi hatinya merasa senang. Senyum simpul tercetak diwajahnya yang tampan.


__ADS_2