
Elza sedang menyemprot tanaman ditaman belakang. Gadis cantik itu menatap bunga-bunga yang mulai tampak kembali cantik setelah ia abaikan beberapa bulan. Elza jarang sekali menyiramnya saat ia tinggal di apartemen Tama. Ada beberapa pot yang kosong akibat tanamannya mati.
Dia mengarahkan selang kearah bunga miliknya. Taman mini ini adalah salah satu tempat favorit Elza hanya sekedar untuk bersantai atau merenung.
Elza menatap dengan wajah datar. Entah apa yang sedang Elza pikirkan, tapi ia terlihat seperti sedang melamun.
Gadis itu terus menyirami bunga disatu titik saja. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu karena ia tak fokus dengan pekerjaannya.
"apa yang sedang kamu pikirkan? " bisik seseorang didekat telinga Elza. Elza sedikit terkesiap. Dia menatap tangan yang juga melingkar diperutnya. Menoleh kebelakang dimana seorang pria tampan tengah tersenyum hangat padanya.
cup
Pria yang tak lain adalah suami Elza itu mengecup pipi Elza.
"kamu sudah pulang?"
Tama mengangguk, dia meletakan dagunya dipundak Elza "aku sudah dari tadi memperhatikanmu melamun. Apa yang sedang kamu pikirkan?"
Elza menggeleng "aku hanya sedang berfikir ingin makan malam apa nanti"
"istriku pandai sekali berbohong ya?" ucap Tama dengan suara rendahnya.
Elza mendengus dan berusaha melepaskan tangan Tama. Tapi tak berhasil karena Tama semakin memeluknya dengan erat. "kalau kamu tak bicara. aku akan memelukmu terus"
Elza melirik Tama, terlihat wajah suaminya itu menyeringai kecil "huh.. padahal aku belum mandi"
Tama tergelak. "kamu wangi" ucapnya sembari mengusal dileher jenjang Elza.
Elza yang merasa kegelian mencoba mendorong kepala Tama menjauhinya. "minggir.." leher adalah salah satu titik sensitifnya. Rasanya geli dan membuatnya merinding.
Tama kembali tergelak, dia menarik tubuh Elza sehingga istrinya itu menghadap dirinya. Dia tatap wajah cantik gadis ini yang terlihat tak mengenakan make-up sama sekali. Tama usap lembut pipi Elza sembari matanya terus menatap mata hazel Elza. "apa yang kamu lakukan hari ini? kukira kamu akan bahagia tapi kenapa kau malah merenung ditaman?"
Elza angkat bahu. Padahal ia memang merasa hatinya tercubit saat melihat kedekatan Valey dan Vino siang tadi. Rasanya ia sangat merindukanmu kakaknya yang telah tiada.
Tama terus menatap mata Elza yang terlihat sedih. Mata adalah jendela hati dan Tama bisa menerka jika Elza tengah memikirkan sesuatu, tapi entah kenapa ia merasa jika gadis ini sulit untuk ia terka isi hatinya.
"ayo ngobrol diteras" Tama menarik lembut tangan Elza. Lalu saat sampai diteras ia duduk dikursi yang ada disana "kamu mau kemana?"
__ADS_1
Elza yang hendak duduk dikursi yang satunya menoleh "aku mau duduk"
Tama terlihat tersenyum kecil. Lalu menyentak tangan Elza sehingga membuat gadis cantik ini jatuh di atas pangkuannya.
"akhh" pekik Elza yang merasa terkejut. Dadanya bergemuruh saat menyadari posisi mereka saat ini begitu dekat dan intim.
Tama terkikik lalu mencubit pelan pipi Elza "kamu sangat menggemaskan"
Elza berdecak, rasanya tak nyaman sekali duduk diatas pangkuan seorang pria. Apalagi tangan kekar Tama melingkari pinggangnya.
Meski Tama adalah suaminya, tapi berinteraksi dengan lawan jenis dengan begitu intens baru ia alami saat berdekatan dengan Tama.
Selama ini Elza tak pernah memikirkan menjalin hubungan dengan seseorang sehingga ia selalu merasa gugup hanya dengan berinteraksi kecil dengan Tama.
Tama yang merasa Elza tak nyaman menarik tangannya agar melingkar dilehernya. Dia tersenyum dengan hangat dan kemudian mengecup pipi Elza sekilas "I love you"
blushh
Wajah Elza seketika memerah. Dia blushing saat mendengar ucapan cinta dari mulut Tama. "apa sih" mengalihkan muka agar tak bersitatap dengan Tama.
"ishhh.. diamlah!" ucap Elza dengan ketus, dia membungkam mulut Tama dengan tangannya.
Tama kembali tergelak. Dia tarik tangan Elza kemudian dia kecup punggung tangannya dengan lembut "aku benar-benar mencintai mu Elz.." ucapnya dengan lemah lembut tapi terdengar sangat serius.
Entah sudah semerah apa wajah Elza saat ini. Yang jelas ia merasa jantungnya berdetak kencang sekali, wajahnya juga terasa memanas sampai ketelinga. Darahnya berdesir mendengar ucapan cinta yang diberikan Tama untuknya.
Elza jadi salah tingkah.
Tangan Tama terangkat, dia menyusupkan tangannya kebelakang leher Elza. Kemudian ia menarik tengkuk Elza sampai bibir istrinya itu menabrak bibirnya. Dengan lembut ia menyesap bibir bagian bawah Elza lalu ia melakukan hal itu bergantian dengan bibir bagian atas milik Elza.
Elza hanya diam. Dia ngeblank saat tindakan tiba-tiba Tama membuatnya hampir terkena serangan jantung. Terlebih ia merasa aroma mint dari bibir Tama membuatnya hampir gila, dia secara tak sadar membuka mulutnya memberikan akses lebih dalam untuk suaminya itu.
Ciuman disore hari dengan background taman milik Elza membuat suasana semakin hangat. Mereka semakin larut akan suasana nyaman itu. Kecapan dan gumaman beberapa kali terdengar.
Elza mendorong dada bidang Tama saat merasa ia hampir kehabisan nafas. Wajahnya semakin merah saja. Dia sembunyikan wajahnya dengan cara mengusal didada Tama.
Dapat Elza rasakan gemuruh jantung Tama yang sangat kencang, sama seperti jantung milik nya.
__ADS_1
Nafas mereka berdua masih saling berlarian. Menghirup udara sebanyak-banyaknya. Elza mere-mas kemeja yang Tama kenakan saat menyadari sesuatu yang ada dibalik celana Tama terbangun, Elza merasa tak nyaman dan panik dalam waktu bersamaan.
Gadis itu menjauhkan kepalanya menatap mata Tama yang terlihat kilat gairah disana. "a-aku mau mandi dulu" saat hendak turun dari pangkuan, Tama mencegahnya.
Tama memeluk pinggang Elza dengan begitu erat. Nafasnya masih naik-turun. Sekarang giliran Tama yang membenamkan wajahnya dileher jenjang istrinya ini. Tangannya mengelus punggung Elza, naik dan turun dengan lembut. "kapan selesainya?"
Elza yang merasa merinding akibat sentuhan tangan Tama tak terlalu mendengar gumaman Tama.
"sayang. Kapan datang bulannya selesai?" tanya Tama mengulangi karena Elza sama sekali tak menjawab.
"se-sekitar satu Minggu lagi"
Terdengar helaan nafas lelah dari bibir Tama. Dia mendongak sehingga matanya bertemu pandang dengan manik hazel istrinya "aku mau mandi. Gerah sekali dekat denganmu"
Elza menjauhkan tubuhnya "aku juga sudah minta turun dari tadi" terdengar ucapan ketus dari bibir Elza.
Tamapun akhirnya melepaskan Elza. Dia benar-benar membutuhkan air dingin untuk meredakan nafsunya.
Elza mengajak Tama menuju kamarnya. Meski kamar milik Elza tak seluas dan semewah milik Tama, tapi setidaknya terdapat kamar mandi didalamnya.
"aku mau berbicara denganmu setelah mandi" ucap Elza saat ia menyerahkan handuk yang baru saja ia ambil dari lemari.
"kamu mau membicarakan apa?" tanya Tama penasaran. Dia meniti ekspresi wajah Elza tapi sialnya tak bisa ia terka apa yang ada dipikiran istrinya itu. Menurutnya Elza begitu pandai menyimpan rahasia.
"nanti saja! sana masuk dan tenangkan adik kecilmu itu!" ucap Elza sembari melirik bagian sensitif milik Tama.
Mata Tama terbelalak mendengar ucapan berani Elza, lalu ia tersenyum usil setelah berhasil menguasai mimik wajahnya "padahal hanya kamu yang bisa menidurkannya loh~"
"ish.. sana masuk!" ucap Elza sembari mendorong tubuh besar Tama.
Tama tergelak "iya.. iya.. aku bisa masuk sendiri sayang" saat Elza tak lagi mendorong tubuhnya. Tama berbalik menghadap Elza lalu mengecup bibir Elza sekilas kemudian pergi kekamar mandi.
Elza masih terdiam ditempatnya berdiri. Gadis itu mengusap bibir bekas kecupan Tama barusan "ck.. benar-benar!" menggeleng karena ia merasakan perasaan senang yang membuncah. Tama benar-benar sudah menguasai dirinya.
Pria yang dulu sangat ia benci sekarang malah menjadi pria yang dia cintai. Sungguh perjalanan cintanya ini terdengar seperti sinetron.
Elza menghela nafasnya panjang untuk menguasai dirinya. Kemudian, ia keluar kamar untuk membuatkan minuman untuk Tama.
__ADS_1