
Tama berdiri diambang pintu saat melihat tiga orang tengah terlelap diatas kasur yang tergeletak diatas lantai.
Matanya terbelalak saat melihat dua orang wanita yang tengah mengapit seorang pria.
"breng-sek!!" ucapnya sembari menggeram lalu dia melangkah menuju kasur itu saat melihat salah satu gadis itu adalah gadisnya.
Membungkukkan tubuhnya lalu ia memegang kasur busa yang tengah ditempati oleh ketiga orang itu.
gedubrak
"aaahhhkk.." pekik ketiga orang yang terkejut saat kasur yang sedang mereka tempati terbalik. Tubuh mereka terjatuh kelantai lalu kasur itu menipa tubuh mereka.
Setelah beberapa saat Elza menyingkirkan kasur itu. Dengan wajah bantalnya ia mencari siapa pelaku yang telah berbuat hal konyol ini "kau.."
"kenapa? kau terkejut saat ketahuan tidur bersama dengan pria lain?" tanya Tama dengan raut wajah datar, dia berjalan kearah pria yang membelakangi dirinya. Lalu ia menarik kaos bagian belakangnya.
"hey.. apa yang kau lakukan?! lepas!" ucapnya sembari memberontak.
Alis Tama menyatu, dia seperti mengenali suara pemuda ini. Dengan cepat ia menarik kaos pemuda ini agar ia berdiri kemudian ia membalik tubuhnya.
"Vino!!"
"Bang Tama!!"
Pekik mereka secara bersamaan dengan raut wajah yang sama, menganga dan tak menyangka. Mereka terkejut dan tak menyangka jika mereka bisa bertemu disana. Dalam keadaan yang tak terduga pula.
"jadi kau yang telah bermain-main dengan wanitaku! dan kau juga tidur dengannya!"
plak
Tama dengan kesal menepuk kening Vino dia benar-benar merasa jengkel.
"aw.. sakit bang!" pekik Vino sembari meringiskan giginya. Dia menoleh kearah Elza yang sepertinya juga tak menyangka jika ia dan Tama saling kenal "dia kekasihmu Elz?"
"kalian saling kenal?" tanya Elza, dia berdiri diantara dua pria ini. Tak menghiraukan pertanyaan Vino barusan.
"ck.. apa benar dia kekasihmu Elz?!"
Elza menghela nafasnya panjang. Lalu menggeleng.
"hahahah bagus.. Jangan mau dengannya Elz! dia itu buaya darat yang suka sekali bermain wanita" ucapnya sembari mendekati Elza, dia memeluk bahu sahabatnya ini.
"hey! lepaskan dia bocah letoy!" pekik Tama, ia menampik tangan Vino agar melepaskan Elza. "dan gue juga belum memberimu pelajaran setelah kau tidur dengannya!" ucapnya kesal, lalu ia memeluk Elza. Mengusap-usap bekas tangan Vino tadi.
"bicaramu ambigu seperti itu bang! gue nggak hanya tidur dengan Elza, tapi ada Lisa" ucapnya membela diri, dia menunjuk Lisa yang hanya duduk diam memperhatikan perdebatan ini.
Lagian mereka bertiga tidak sengaja tertidur saat lelah bermain game. Tak ada yang terjadi diantara mereka.
__ADS_1
"dan kata Elza kalian nggak ada hubungan apapun! untuk apa lo melarangnya bang? Lo nggak ada hak.." ucap Vino menantang dan saat melihat Tama mengepalkan tangannya saat dirinya kalah telak, ia merasa senang karena berhasil membungkam mulut Tama.
Vino yang tahu bagaimana kelakuan Tama selama ini harus melindungi Elza dari pria hidung belang ini. "sini Elz.. jauh-jauh dari pria ini" Vino menarik tangan Elza agar lepas dari pelukan Tama.
Tama menggeram, dia kemudian menarik tangan Elza dan mendorong Vino sampai ia jatuh tersungkur diatas kasur. Tama tak akan melukai Vino atau nanti Valey atau Arsen akan memarahinya habis-habisan saat adiknya ini ia lukai. Mereka berdua kan pasangan yang mengerikan.
"ck.. Kau kasar sekali bang.." keluh Vino meski tak sakit tapi ia merasa kaget saat didorong secara tiba-tiba.
"Lo yang meminta gue untuk melakukan itu Vin! sudah kubilang jauhkan tanganmu itu dari gadis ku ini" ucap Tama dengan tegas, dia memberi kode pada anak buahnya untuk membawa pergi Vino dari sana. Melihat wajahnya benar-benar membuatnya bernaf-su ingin memukulnya.
"oi.. Lepaskan!" pekik Vino, saat ia ditarik menjauh dia kembali memekik "sialan kau bang! Elza.. Jangan mau bersama dengan dia! wanita simpanannya banyak sekali, percayalah padaku!" dia berpegangan pada kusen pintu agar anak buah Tama kesulitan membawanya.
Elza memijit pelipisnya yang terasa berdenyut "lepaskan dia!"
"kamu membelanya?" tanya Tama terdengar kecewa saat gadisnya ini lebih memilih untuk menghentikan anak buahnya memaksa Vino pergi.
"aku pusing.. Tolong jangan membuat keributan" mohon Elza dengan wajah memelas, dia sungguh pusing sekali rasanya.
Tama menghela nafasnya panjang, lalu menyuruh anak buahnya melepaskan Vino.
"kalau Lo teriak-teriak seperti tadi, Abang nggak akan sungkan untuk mengikatmu diatas pohon!"
Vino mencebikkan bibirnya "bodo amat!" ucapnya acuh tak acuh. Hal itu membuat Tama kesal.
"kalau Lo bukan adiknya kakak ipar, udah gue bejek-bejek wajah menyebalkan Lo Vin!"
"ck.. Gue udah bangun, tapi masih rada bingung nih gue" ucapnya dengan jujur. Kepalanya terasa pusing akibat jatuh dari atas kasur saat ia tengah nyenyak tertidur, apalagi setelah itu ia melihat perdebatan antara kedua pria itu membuatnya bertambah pusing saja.
"sini gue pijitin.. duh kasihan sekali sih Lisaku terkasih"
Lisa menatap jengah Vino yang tengah memijit kepalanya, lalu ia menampik tangan itu agar menjauhinya "jauh-jauh Lo sana!" ucapnya dengan ketus agar pria ini berhenti bersikap seperti ini.
Sedangkan Elza dan Tama masih saling diam dengan mata yang menatap satu sama lain.
huuuh..
Helaan nafas panjang Elza terdengar membuat Tama pun ikut menghela nafas juga.
"kamu kenapa datang kemari?" tanya Elza setelah beberapa saat hanya diam.
"apa aku tidak boleh datang kerumah calon istriku?" Tama berbalik bertanya.
"yang benar saja bang, Elza bilang kau bukan siapa-siapa nya!"
Tama menoleh dan menatap tajam pemuda yang tadi dengan berani tidur disisi gadisnya, apalagi ia menimpali ucapannya membuatnya ingin sekali mencekik leher Vino sekarang.
"benar apa yang dia katakan, kita memang tidak memiliki hubungan. Aku tidak pernah mendengar ucapan lamaran atau semacamnya" ucap Elza malas, tapi sejurus kemudian matanya terbelalak saat ia menyadari telah salah bicara.
__ADS_1
Tama yang juga terkejut langsung menggenggam tangan Elza "kalau begitu, Elza Rose Arabella maukah kamu menerima lamaranku?" ucap Tama sembari berlutut dihadapan Elza.
"jangan mau Elz.. Kekasih bang Tama ada disetiap tikungan.."
Lagi-lagi Tama menggeram saat mendengar celetukan Vino. Dia melirik anak buah yang stand bye disisi pintu.
"hey... mau apa kalian?!" pekik takut Vino saat melihat dua orang berbadan besar mendekatinya.
"kami hanya mau membawa anda keluar sebentar tuan," ucapnya dengan sopan lalu ia menarik dan menggotong tubuh Vino seperti karung beras.
"hey kau baji-ngan!! lepasin!" pekik Vino sembari mencoba memberontak.
Elza yang terlihat memperhatikan dan mengkhawatirkan Vino kembali menghadap kearah Tama saat tangannya ditarik oleh Tama "jangan kau hiraukan bocah itu! anak buahku tak akan menyakiti nya"
Elza menatap Tama dengan pandangan yang begitu dalam.
"bagaimana Elz.. kamu mau kan menerima lamaranku?" tanya Tama dengan penuh harap.
Elza menoleh kearah Lisa yang sedang memperhatikannya, dia meminta pendapat dari sahabatnya itu melalui tatapan mata.
"ikuti kata hatimu" ucap Lisa dalam hati, ia memegang dadanya agar Elza paham akan apa yang ia bicarakan.
Elza kembali menatap Tama "awalnya aku meras bimbang, tapi setelah apa yang terjadi antara kita. Aku yang sudah tahu bagaimana karaktermu yang sebenarnya, sudah tak ragu lagi. Aku mau bersama denganmu, mari kita melangkah kedepan bersama-sama" batin Elza.
Tama yang melihat perubahan raut wajah Elza menarik kedua sudut bibirnya, mata Elza sudah melembut menandakan jika ia menerimanya. Tangan Tama merogoh sesuatu didalam saku jas yang ia kenakan. Mengambil satu benda yang sudah lama ia persiapkan untuk Elza, dan tanpa ia duga hari ini ia dapat memberikannya pada gadis yang ia cintai ini.
"ini..."
Tama tersenyum hangat "Aku sudah menyiapkan cincin ini cukup lama tapi aku belum berani memberikannya untukmu. Tapi kali ini aku bertekad untuk memilikimu Elz.."
"mari kita berjalan bersama, aku akan mendukung semua yang akan kamu lakukan kedepannya" tambah Tama dengan serius, termasuk rencana Elza yang berniat membalas dendam akan meninggalnya Zara tentu saja Tama akan membantunya.
Elza tersenyum dan mengangguk.
prok prok prok
Lisa bertepuk tangan dengan senang melihat betapa manisnya pasangan baru ini. "selamat Elz.."
Elza menoleh dan menatap Lisa dengan haru "terimakasih.. Eh--" gadis cantik itu terkejut saat Tama menarik tangannya menuju keluar "mau kemana?"
"ayo kita langsung kekantor catatan sipil, kita menikah sekarang!"
Mata Elza terbelalak dan menahan tangan Tama "kau gila tuan! aku tidak mau!"
"kamu harus mau! aku takut jika kamu akan berubah fikiran!"
"hahaha.. calon suamimu benar-benar gila Elz.." tawa Lisa menggeleng melihat Tama yang masih memaksa Elza untuk ikut dengannya.
__ADS_1