
Selepas kepulangan Raka, Tama masih duduk diruang tamu dengan segala kerumitan yang dia fikirkan.
Memikirkan perasaan yang sebenarnya dia masih merasa ragu, tapi disisi lain dia ingin memiliki gadis kecil yang sekarang menjadi asisten di apartemennya.
"gue harus memastikan perasaanku dulu, baru tahu akan seperti apa gue melangkah"
Membuang nafasnya panjang, memikirkan hal tersebut membuat kepalanya ikut pusing, kepalanya menoleh ke arah jam dinding dia sedikit terkejut saat mengetahui ternyata hari sudah larut.
"elza kemana?" gumamnya, dia mengambil map yang tadi dibawa oleh Raka kemudian mengapitnya diketiak lalu berjalan meninggalkan ruang tamu.
Langkahnya berjalan kearah dapur hendak mencari keberadaan Elza tapi batang hidung gadis itu tak terlihat sama sekali, lalu dia melihat makanan yang telah dingin diatas meja makan.
Karena selera makannya tak ada, dia memilih pergi kekamar saja untuk beristirahat.
Tama melewati kamar Elza, dia pandang pintu kamar tersebut dengan pandangan penuh arti "suara apa itu?" gumamnya saat terdengar suara kecil dari dalam kamar Elza.
Tama menempelkan telinganya dipintu, terdengar isak tangis dari dalam sana "dia kenapa?" gumamnya bertanya tanya.
Tok tok tok
Dengan memberanikan diri Tama mengetuk pintu kamar Elza, dia takut terjadi sesuatu terhadap gadis itu "el" panggilnya agar sipemilik kamar segera keluar.
tok tok tok
__ADS_1
"el? are you oke?" tanya Tama memastikan.
ceklek
Pintu terbuka, terlihat wajah sembab gadis itu membuat perasaan Tama menjadi kacau "are you oke?" tanyanya lembut.
Elza mengangguk, dia mengusap hidungnya yang terasa hendak mengeluarkan cairan "saya tak papa tuan"
"lalu apa yang telah membuatmu sedih?" tanya Tama, dia ingin sekali merengkuh tubuh kecil gadis itu. tapi sungguh dia tak memiliki keberanian.
Tangannya mengulur, mengusap air mata yang tesisa diujung mata Elza,
Elza tertegun, dia membiarkan pria itu melakukannya dan sekarang dia mendongak sehingga matanya yang merah bersitatap dengan iris hitam Tama "tuan"
"boleh saya memeluk anda? satu menit saja" ucapnya memohon, dia sadar kalau Tama tampak iba, hal ini bisa dia manfaatkan agar Tama semakin bersimpati padanya.
Tama terdiam, fikirannya sedang mencerna apa yang Elza katakan barusan.
"maaf tuan, kalau anda keberatan sungguh tak apa" ucapnya dengan nada sedih sembari menunduk.
Tama sungguh semakin iba pada gadis itu, dengan gerakan cepat Tama menarik tubuh Elza sehingga masuk kedalam dekapannya.
Mengelus surai lembut gadis itu, perasaanya semakin berkencambuk, ada rasa tenang saat memeluk tubuh kecil gadis ini.
__ADS_1
Elza terdiam saat Tama mengelusnya, entah kenapa perasaannya malah resah saat mencium aroma maskulin pria ini, dia merasa sangat nyaman dan tenang.
Saat kesadarannya datang dengan gerakan kasar Elza melepas pelukan Tama, dia menatap wajah Tama yang tampak bingung akan sikapnya yang sedikit kasar itu apalagi sekarang matanya menatap marah pria itu.
Elza yang sadar akan tindakannya tersebut terkesiap, dia menunduk "maaf"
"kalau kamu membuthkan bahu untuk bersandar, saya siap memberikannya untukmu" ucap Tama lembut , dia kembali mengusap kepala Elza "beristirahatlah, hari sudah larut"
Tama tak mau memaksa Elza untuk bercerita akan masalahnya, sehingga dia memilih untuk pergi.
Tama melangkah meninggalkan Elza yang masih mematung, dia segera masuk kedalam kamarnya, setelah pintu tertutup Tama menyandarkan tubuhnya dipintu memgang dadanya yang berdebar tak karuan "ahh dadaku" gumamnya pelan.
Tama membuang nafas berkali kali agar dadanya tenang, dan itu cukup efektif "entah apa yang membuatmu sedih"
Tama mencari ponselnya dan segera menghubungi seseorang "tolong cari tahu segala tentang Elza Rose Arabella"
"baik tuan"
Tama mematikan sambungan telefonnya, dia tadi menghubungi Arlendra untuk mencari tahu segalanya tentang gadis itu, dia terlalu malas meminta bantuan Bastian yang dengan pasti nanti akan berbicara panjang lebar dan entah kemana.
Meski dia tahu kemampuan Bastian dalam hal ini sudah tak diragukan lagi, tapi Arlendra pun tak kalah hebat dalam bidang ini.
Tama merebahkan tubuhnya, dia memandang langit langit kamar dan kembali memegang dadanya yang tadi berdetak dengan sangat kencang, sampai dia sendiri tadi sedikit takut jantungnya bisa meledak.
__ADS_1
"elzaaa" gumamnya pelan, dia memikirkan gadis itu sampai tak sadar kalau sekarang dia sudah menjelajahi alam mimpi.