DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
merasa bodoh


__ADS_3

Pagi harinya Elza sedang berkutat dengan alat dapur, dia sedang masak untuk sarapan.


Setelah kejadian semalam Elza sungguh menyesal dan merutuki dirinya yang sempat terbuai, semalam dia benar benar merasa malu dan tak menampakan batang hidungnya sama sekali.


"apa yang akan kubicarakan nanti dengan tuan Tama? kejadian kemarin sungguh memalukan sekali"


"selamat pagi"


deg


Elza tersentak saat suara seseorang berseru didekat telinganya, dia merem*s spatula yang sedang dia pegang.


Jantungnya bertalu talu saat mendengar suara bariton nan se*y milik Tama.


Elza memberanikan diri menoleh kesamping, dia melihat wajah tampan Tama yang tampak segar pagi ini.


"ya Tuhan.. dia tampan sekali"


plak plak


Elza menyadarkan fikirannya kembali dengan cara menepuk pipi, dia tak mau sampai terbuai saat melihat wajah tampan pria breng*ek itu.


"apa yang kau lakukan?"


Elza mematikan kompor dan berbalik badan, dia tersenyum canggung dihadapan pria itu "ti-tidak"


Tama tampak tersenyum sembari menatap hangat gadis cantik yang ada dihadapannya "kau masak apa?"


Elza melirik hasil masakannya "na-nasi goreng" jawabnya masih terbata.


Tama mengangguk "sudah matang?"


Elza mengangguk cepat "sudah"


"cepat siapkan, aku tunggu dimeja makan" berbalik badan lalu pergi menuju meja makan.


Elza menatap punggung Tama, dia menyernyit sinis, dia segera menyiapkan sarapan tersebut untuk Tama.


Gadis itu meletakan sepiring besar sarapan diatas meja, matanya sesekali melirik Tama yang sedang fokus menatap ponselnya "apa ciuman kemarin tak berarti apa apa untuknya?"


"silahkan sarapannya tuan" ujar Elza setelah dia menyendokan nasi itu kepiring Tama.


"terimakasih, temani aku makan!"


Elza mengangguk dan segera duduk diseberang Tama, dia juga menyendokan nasi kedalam piringnya lalu makan dengan tenang.


"el"


Elza mendongak tapi sejurus kemudian menunduk lagi, dia menghindari tatapan mata dengan Tama "iya tuan"

__ADS_1


"untuk kejadian kemarin... maafkan aku" ujar Tama dengan suara yang terdengar tulus dan sedikit menyesal.


Elza menggeleng "jangan dibahas! saya sudah melupakannya kok jadi jangan merasa terbebani tuan" kalau saja kemarin Elza tak membalas ciuman itu, sudah dia pastikan akan memaki pria itu.


"oh kamu sudah melupakannya?" tanyanya terdengar kecewa, dia memasukkan nasi goreng kemulutnya.


"itu kesalahan kita berdua kemarin, jadi tolong jangan dibahas lagi" ucapnya sembari membuang muka karena merasa malu, dia berdiri "saya sudah selesai, permisi"


Tama mengangguk lemah, sepertinya dia akan sulit mendapatkan hati Elza. Pria tampan itu memakan sarapannya dengan perasaan kecewa, dia menatap punggung gadis itu yang masuk kedalam dapur.


Elza berdiri didepan tempat cuci piring, wajahnya memerah akibat teringat ciuman kemarin "sial! kenapa juga dia bahas?! memalukan sekali" gumam guman kecil sembari mencuci piring dan alat masak "ini tidak bisa dibiarkan! kalau begini ceritanya nanti aku akan mencintainya!"


Gadis itu mengelap tangannya dengan kain lalu beranjak keluar, disana sudah tak ada Tama kemungkinan dia sudah pergi bekerja.


Dengan menghela nafas lega, Elza membereskan meja dan kembali kedapur untuk mencucinya.


Setelah itu Elza hendak kembali kedalam kamar, dia akan pergi kekampus setelah ini.


"el"


Elza tersentak saat tangannya hendak memutar handle pintu kamar, Elza memutar tubuhnya sembari memaksakan senyum tadi dia fikir pria itu sudah berangkat bekerja "ada apa tuan?"


Tama berhenti didepan gadis itu, dia menatap mata hazle Elza dalam, mata yang sangat cantik dihiasi bulu mata lentik "kamu kuliah?"


Elza mengangguk.


"biar saya antar" ujarnya mengintrupsi, hal itu membuat gadis itu langsung menggeleng.


Tatapan hangat tadi sekarang menajam "ini perintah!"


gluk


Baru kali ini Elza melihat tatapan mata Tama yang seperti ini, hal ini membuatnya membeku dengan tubuh yang tegang "ba-baik, saya ambil tas sebentar" segera masuk kedalam kamar.


"ternyata kamu itu harus dipaksa terlebih dahulu ya?" bergumam sembari menyeringai, dia sudah tahu bagaimana cara menghadapi gadis itu, kalau dengan kelembutan gagal maka dengan sedikit pakasaan tak masalah kan?


Elza segera keluar sembari menggendong tasnya "ayo tuan" gadis itu mengikuti langkah kaki Tama yang sudah berjalan terlebih dahulu "kenapa aku jadi melunak begini?"


Mereka berdua sudah duduk didalam mobil, suasana entah kenapa jadi secanggung ini, Elza dan Tama sebenarnya tak menyukai suasana ini tapi juga enggan untuk memulai sebuah obrolan.


"nanti pulang jam berapa?" Tama pada akhirnya memecah keheningan.


"kemungkinan malam tuan"


Tama menoleh sebentar dengan padangan tak suka.


Elza yang tahu arti tatapan Tama yang seolah keberatan segera menyanggah "tapi anda tenang saja, saya sudah ada diapartemen saat anda pulang"


Tama hanya diam saja tapi sebenarnya dia sangat penasaran sekali kenapa gadis itu pulang malam, tatapan matanya lurus kedepan fokus menyetir.

__ADS_1


"saya akan kerja setelah kuliah" tak ditanya tapi tiba tiba saja Elza membuka suara dan menjelaskan, dia tak mau kalau sampai Tama berfikir buruk tentangnya.


"bisakah kamu berhenti bekerja disana?! kamu hanya fokus bekerja padaku?"


Elza yang tadi sedang memperhatikan jalan menoleh kearah Tama.


"bukankah melelahkan harus bekerja didua tempat sekaligus?" tambah Tama lagi.


Elza tampak menimbang dan memikirkan ucapan Tama barusan , memang kalau difikir ini sangat melelahkan sekali tapi kalau dia harus berhenti bekerja bagaimana nanti dia hidup kalau dia sudah tak bekerja dengan Tama?


"aku akan menaikkan gaji untukmu jika kamu hanya bekerja denganku" Tama yang tahu jika Elza tampak bimbang kembali berbicara.


"akan saya fikirkan lagi"


Tama mengangguk pasrah, dia tak mau memaksa gadis itu dan nantinya malah akan menyakiti perasaannya.


Mobil berhenti didepan gerbang universitas tempat Elza belajar "terima kasih banyak tuan, saya turun dulu"


Tama hanya diam, dia membiarkan gadis itu turun tanpa adanya percakapan lagi.


drreet dreett


Tama mengambil ponsel yang dia simpan diaras dasboard, alisnya menyernyit saat melihat siapa yang menelefon dirinya "ya Ar" ucapnya setelah mengangkat telefon dari Arlendra.


"saya sudah menyelidiki gadis itu tuan, dan sepertinya dia mendekati anda hanya untuk membalas dendam"


"maksudnya?"


"nona Elza berfikir andalah penyebab meninggalnya nona Zara, dia hendak menghancurkan anda karena telah membuat kakak satu satunya meninggal"


"jangan asal bicara kau Ar!" pekiknya tak terima.


"saya tidak bicara omong kosong tuan, saya sudah menyelidiki semuanya dan kalau anda masih ragu bukalah email karena saya sudah mengirimkan segala buktinya pada anda, kemungkinan nona Elza mengira anda lah yang telah membuat kakaknya hamil dan kemudian bunuh diri karena anda mencampakannya"


"sial, bagaimana bisa dia mau membalas dendam? bukan gue yang menyebabkan kakaknya meninggal"


"saya juga sudah menemukan bajin*an yang telah memper*osa nona Zara tuan"


Tama memejamkan matanya, sebuah fakta yang baru saja dia dengar sungguh mengusik perasaannya "terimakasih Ar, gue cek email nya nanti"


"sama sama tuan, saya rasa anda harus berhati hati dengan gadis itu"


"ck.. gue tahu!"


tut


Tama mematikan ponselnya, dia merebahkan kepalanya diatas setir mobil sekarang dia paham kenapa gadis itu seolah sengaja mendekatinya bahkan sampai meminta Reyna untuk melamar pekerjaan padanya.


"jadi begitu ya? hehehe.. gue emang bodoh!" ucapnya dengan disertai kekehan frustrasi.

__ADS_1


Tama mendongak dan menjalankan mobilnya dia akan pulang saja untuk memikirkan dan mecerna fakta yang baru saja dia dapat dan yang pasti dia akan menenangkan perasaannya.


__ADS_2