
Raka mengetuk pintu ruang kerja Tama, sudah beberapa kali dia ketuk tapi tak kunjung ada jawaban.
"Reyna"
Reyna yang terpanggil menoleh kearah Raka "ya tuan"
"tuan sudah datang kan?" menanyakan hal ini untuk memastikan.
"sudah, sudah hampir setengah jam yang lalu tuan" jawab Reyna.
"tapi kenapa tak ada respon apapun saat saya mengetuk pintu?"
Reyna menggeleng tak tahu "masuk saja tuan, takutnya terjadi sesuatu"
"benar tuan, takutnya terjadi sesuatu, apa mau saya temani?" Laras yang sedari tadi diam menimpali.
Raka menatap malas sekertaris Tama yang selalu mencari cara untuk mendekati Tama itu "tak perlu!"
Laras memberengut, dan kembali duduk padahal dia berniat mencari cara agar dapat mencari kesempatan berdekatan dengan atasannya itu.
Raka membuka handle pintu dan kepalanya melongok kedalam.
"eh dia kenapa?"
Raka melangkah mendekat dan berdiri dihadapan Tama, menatap aneh teman sekaligus atasannya itu, apalagi sekarang Tama sedang tersenyum malu malu sembari memperhatikan tangannya sendiri sedari tadi.
ehem
Tak ada respon.
__ADS_1
ehem
Tak ada sahutan.
ehem
Masih tak menyadari keberadaan Raka saat ini.
"ada apa dengannya? pagi pagi begini tampak mengerikan sekali" gerutunya dalam hati.
Raka yang sudah berdiri dihadapan Tama beberapa menit merasa jengah melihat kelakuan atasannya itu, kalau saja sekarang mereka tak sedang dikantor mungkin sekarang dia telah memukul kepala Tama agar lamunan pria itu berakhir.
brak
"buaya buaya buaya" pekik Tama terkejut, dia sampai terlonjak dari duduknya.
"anda memang buaya tuan, tidak usah menjelaskannya pada saya"
"maaf tuan mengagetkan anda, tapi saya sudah berdiri disini sedari tadi merasa lelah"
"kenapa tak duduk bodoh!"
"saya belum diizinkan oleh anda, bagaimana kalau nanti anda marah dan memotong gaji saya?"
Tama menyandarkan tubuhnya, dia malas sekali mendengar ucapan menyebalkan asisten nya itu.
"dan lagi, sepertinya anda sedang jatuh cinta" terka Raka kemudian.
Tama menatap Raka serius "apa begitu terlihat? ah maksudku apa aku terlihat seperti sedang kasmaran?" tanya Tama penasaran.
__ADS_1
"ya sepertinya , karena wajah anda merona senang begitu dan sedari tadi menatap tangan anda sendiri, apa anda jatuh cinta pada jari anda itu?"
Tama menatap jengah Raka "aisshh sudahlah, ada apa kemari?"
"tentu saja hendak mengantarkan surat cinta"
Tama menerima amplop yang disodorkan oleh Raka, membukanya dan mengambil kertas tersebut "ck, ini kan surat tagihan kartu kredit" ucap Tama malas.
"ya, dan sepertinya pacar anda mulai bertingkah dan mulai tak bijak lagi saat menggunakan uang anda" ucapnya terdengar profesional, tapi dari nada suaranya juga terdengar mengejek.
"kartu kredit yang mana ini?" tanya Tama, dia melihat betapa fantastisnya nominal yang tertera dikertas tersebut.
"siapa lagi kalau bukan kartu yang anda berikan pada kesayangan anda, nona Sella"
Tama memijit pelipisnya, sepertinya dia terlalu baik pada wanita itu sehingga membuatnya jadi bertingkah seenaknya sendiri.
"cari tahu apa saja yang dia lakukan selama ini, dan kau tulis siapa saja yang masih terikat hubungan denganku, kirim lewat email"
Raka menganga "apa maksud anda tuan?"
"aku sudah lupa siapa saja wanita yang masih terikat denganku, akan kubereskan mereka semua agar kedepannya tak menyulitkanku!"
Raka tersenyum "kenapa tiba tiba? bukankah anda selalu membanggakan semua wanita wanita cantik dan **** itu?"
"diam dan kerjakan!" pekik Tama.
Raka memicing tapi kemudian menghela nafas melihat keseriusan wajah Tama "baiklah baiklah, saya permisi, dan dalam satu jam kedepan semua informasi yang anda butuhkan akan masuk kedalam email anda"
"good, pergilah"
__ADS_1
Raka mengangguk dan segera pergi keruangannya yang bersebelahan dengan ruang kerja Tama.