DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
lepaskan!


__ADS_3

Elza membuka pintu apartemen setelah menekan password pada lock door yang memang ia telah ketahui. Gadis itu berjalan masuk kedalam apartemen dengan santai.


"dari mana saja kau?!"


Elza tersentak keget, gadis itu menoleh ke sumber suara dimana seorang Tama tengah berjalan mendekati dirinya. Jangan lupakan tatapan mata yang biasanya lembut dan jahil kali ini menajam.


Elza terdiam, dia berdiri membeku melihat aura yang Tama keluarkan. Sungguh Elza merasa gemetar takut.


"apa kau tuli?"


"a-aku baru pulang bekerja" jawabnya sedikit tergagap karena merasa terintimidasi oleh tatapan mata Tama yang menurutnya sangat menakutkan.


Tama tampak tergelak "bekerja atau pacaran?" tanyanya dengan suara rendah.


Elza memundurkan wajahnya ketika Tama berusaha mendekati wajahnya.


"kenapa? kau takut?"


Elza terdiam, dia sama sekali tidak berani mendongak "tu-tuan aku--"


"sssttt" Tama mendesis, dia meraih dagu Elza dan mendongakkannya agar mata hazle gadis ini bersitatap dengan matanya "kau mau mengelak?"


Elza menggeleng "ada apa ini? kenapa dia menakutkan sekali? apa yang membuatnya marah?"


"tidak? lalu kenapa kau berciuman dengan Davin? kalian berpacaran kan?"


Elza kembali menggeleng. "tidak!"


"oh tidak? apa kau tahu jika Davin itu keponakanku?"


Mata Elza membola mendengar fakta yang baru saja dia dengar "di-dia keponakanmu?"


"hahaha.. jangan berlagak bodoh El! kau sengaja mendekati dia kan?" Tama mer-emas dagu Elza karena merasa emosi. Bagaimana dia tidak emosi dan marah jika dia mendapatkan laporan dan foto ciuman antara gadis yang dia cintai ini bersama dengan keponakannya sendiri.


"aku tidak tahu jika dia keponakan anda tuan"


"oh ya? aku harus percaya padamu?" tanya Tama, dia masih memegang dagu milik Elza.

__ADS_1


"aku berbicara jujur"


Tama terdiam, dia melihat kejujuran dimana gadis dihadapannya ini "apa aku harus percaya padamu El? kalau awal aku mengenalmu juga bisa tertipu dengan wajahmu ini?"


"kalau kau bukan kekasih Davin, lalu apa yang membuatmu mau dicium olehnya? apa kau semurahan itu?"


plak


Elza yang sudah tidak tahan lagi memukul pipi Tama, dia merasa sakit hati saat dihina dan direndahkan seperti ini. "bukan aku yang murahan tapi dia yang terlalu baji-ngan dan menciumku tanpa permisi" ujarnya memekik. Elza berani berkata seperti itu karena sedang dilanda emosi. Tubuhnya yang lelah membuatnya mudah terpancing amarah, apalagi sedari tadi dia terus diintimidasi oleh Tama.


Elza mendorong tubuh Tama agar menjauh dari tubuhnya, gadis itu segera lari menuju kamarnya.


brak


Elza menutup pintu dengan keras untuk melampiaskan amarahnya, dia segera mengambil tas yang dia bawa dan segera memasukkan baju dan semua barangnya "hiks.." gadis itu terisak, dia merasa sakit hati setelah dihina oleh Tama. "maafkan aku kak Zara, aku tidak tahan lagi" gumamnya ditengah isakan. Elza terus memasukkan baju yang dia bawa kedalam tas.


Elza yang semula hendak membalas dendam dengan cara menggoda Tama dan membuatnya jatuh cinta lalu dia akan meninggalkannya, akan dia urungkan saja. Elza tidak kuat. Apalagi melihat peringai pria itu yang selalu membuatnya mengingat bagaimana keadaan kakaknya yang meregang nyawa akibat perbuatannya. Pria itu menurutnya sangat jahat dan baji-ngan.


***


Bagaimana dia tahu Elza terluka? karena tadi dia dapat melihat mata gadis itu berkaca-kaca. Setelah dia menghinanya.


Tama yang tadi dilanda emosi akibat cemburu itu tanpa sadar menyakiti gadis yang ingin dia dapatkan hatinya "Lo bodoh Tam!" batinnya mengumpati dirinya sendiri.


Terdengar langkah kaki yang cepat membuat Tama menoleh, dia segera berdiri saat melihat Elza yang berjalan sembari membawa tas "mau kemana kau?!" Emosi yang semula reda kembali naik.


"aku mau pulang" jawab Elza tanpa menoleh kearah Tama.


greeb


Tama menangkap lengan Elza, membuat gadis itu membalik badannya "lepas!"


"tidak! aku tidak akan melepaskan dirimu!" ucap Tama dengan tegas. Dia tidak akan membiarkan Elza pergi.


"apa hak mu?! lepaskan aku!" Elza meronta dan menarik tangannya.


"El..!! jangan membuatku marah!"

__ADS_1


"kenapa? aku sudah lelah tinggal bersama baji-ngan seperti dirimu !! aku muak melihat wajahmu itu!"


"El..!!!"


"Lepaskan aku sialan!!"


"jangan memakiku!"


Elza terdiam, dia tergelak "kau memang pantas dimaki, pria hidung belang mesum! kau baji-ngan! kau kepa-rat!!" pekiknya dengan sangat kencang. Rasanya beban yang selama ini dia rasakan sedikit mereda setelah memaki pria yang telah membuatnya menjadi sebatang kara.


Apalagi selama ini gadis ini berpura-pura bersikap baik didepan pria yang menurutnya telah membuat hidupnya berantakan. Dia merasa lelah sekali.


"kenapa? kau marah? hahahaha.." tawa Elza pecah, tawa bercampur dengan derai air mata.


"hiks.. lepaskan aku sialan! aku mau pulang!"


Wajah Tama semakin memerah "cukup El! aku tidak akan membiarkanmu pergi dari sini! "


"kau memang pria sialan!"


dug


"ahhhk--" pekik Tama saat gadis yang tengah dia pegang ini menendang masa depannya.


Saat melihat kesempatan Elza menghentakkan tangannya sampai lolos, lalu dia berlari menuju pintu.


Tama mendongak, dia memegang juniornya yang terasa ngilu "shh.. tidak akan kubiarkan kau kabur!" ujarnya sembari berjalan mengejar Elza.


greb


Lagi-lagi Elza terkesiap saat tangannya dipegang oleh Tama.


"maafkan aku El" ucap Tama.


dug


Tama memukul tengkuk Elza, melihat gadisnya yang pingsan Tama segera menangkapnya sebelum jatuh keatas lantai. Tama jatuh terduduk sembari menopang tubuh lemas Elza "maaf El" ujarnya sembari mengusap wajah Elza dengan lembut. Dia berjanji akan menjelaskan semua kesalahpahaman yang selama ini terjadi.

__ADS_1


__ADS_2