
Elza berdiri didepan pantai. Rambut panjangnya yang tergerai terbang mengikuti arah angin.
Wajahnya lurus kedepan, menatap laut lepas yang tak terlihat ujungnya dari sana. Matanya tampak kosong dengan berbagai isi pikiran didalam kepalanya.
Cuaca yang cerah dan tempat yang indah membuat siapa saja betah berdiri berlama-lama disana.
huuuhh
Helaan nafas lelah berhembus, dia mengingat kembali bagaimana tadi Tama mengutarakan perasaannya padanya.
Mungkin ini kedua kalinya karena sebelumnya Tama pernah berkata menyukainya.
Tapi kali ini berbeda, dulu saat Tama mengutarakan perasaannya ia masih diliputi oleh dendam yang membara. Berbeda dengan sekarang saat ia telah mengetahui kebenarannya.
Jika sebab meninggalnya kak Zara bukan disebabkan oleh Tama. Melainkan orang lain.
Tangannya terangkat untuk mengusap wajahnya. Lalu ia beralih pada dadanya yang masih saja berdebar-debar jika teringat ucapan serius yang keluar dari mulut Tama tadi.
Elza masih bingung langkah apa yang akan ia ambil. Setelah Tama menyatakan cinta padanya, Elza hanya diam. Dia tidak menjawab karena ia bingung hendak menjawab apa.
Dan Tama dengan lembut mengatakan jika ia akan menunggu Elza sampai ia bisa menerimanya.
Tama yang awalnya sering kali main wanita, sekarang Elza dapat mengetahui jika pria itu telah berhenti.
Yang awalnya Tama adalah pria brengsek yang tak memiliki hati ternyata setelah ia selami dan dekat dengannya, pria itu begitu lembut dan sangat memikirkan perasaan nya.
"oi..!!"
Elza tersentak saat seseorang berteriak sembari menepuk bahunya, dia benar-benar terkejut karena ia tengah melamun. "Lo ngagetin aja sih Lis" keluh Elza saat mengetahui jika pelakunya adalah Lisa, sahabatnya.
"ck.. gue udah manggilin elu dari tadi juga! apa elu nggak pernah ngebersihin tuh telinga ya?"
"sialan Lo! plak.." Elza memukul lengan Lisa sembari menatap kesal sahabatnya itu. Dia mendengus kesal.
"hahahah" tawa Lisa pecah melihat Elza yang tampak kesal akibat ulahnya. Gadis itu memegang tangan Elza dan menariknya agar duduk diatas pasir putih.
Mereka duduk bersisian sembari memperhatikan cantiknya pulau ini. Laut yang berwarna biru jernih dengan pasir putih. Sungguh tempat ini adalah salah satu tempat tercantik yang pernah mereka kunjungi.
"Apa yang elo pikirkan?" tanya Lisa dengan serius, tak ada lagi wajah tengil seperti tadi.
Lisa tahu sekali bagaimana sahabatnya ini sehingga ia memilih untuk menanyakannya.
"nggak ada"
"oh ayolah Elz.. gue tahu sekali bagaimana elu" ujar Lisa sembari menyikut pelan lengan Elza.
__ADS_1
Elza tampak menghela nafas panjang, belum mau menceritakan kegundahan hatinya.
"Apa ini karena tuan Tama?"
Elza menoleh dan menatap wajah Lisa "bukan"
"jangan bohong! tadi gue liat elu---"
"liat apa?" tanya Elza dengan cepat karena penasaran saat Lisa tidak melanjutkan ucapannya. Alisnya menyernyit melihat gelagat aneh Lisa "Lo ngintipin gue ya?"
Lisa menggeleng dengan cepat "tidak!! sumpah El"
"kita lihat saja, besok lu pasti bintitan" ucap Elza menakut-nakuti Lisa agar sahabatnya itu mau mengatakan yang sebenarnya.
"akkhh.. jangan sampai! sumpah Elz, gue nggak sengaja" ujarnya panik.
"jadi benar? Lo nguping dan ngitipin gue?"
Lisa menggeleng "nggak sengaja Elz.. Dan gue juga nggak denger apa-apa cuma melihat tuan Tama meluk elo doang. Sumpah!" ucapnya sembari mengangkat dua jarinya membentuk huruf v. Meyakinkan Elza bahwa ia memang benar-benar tak mendengar apapun.
Elza memutar bola matanya mendengar penjelasan Lisa.
"jadi cepat ceritakan semuanya... Apa yang tuan Tama katakan tadi!" ujar Lisa yang memang sangat penasaran. Bahkan sekarang gadis itu sudah mencondongkan tubuhnya kearah Elza.
Lisa memang tidak berbohong, gadis itu tidak terlalu mendengar karena Tama berbicara lirih, dan lagi Tama berbicara dengan membenamkan mulutnya dileher Elza. Suaranya benar-benar tidak terdengar. Hanya gumaman kecil saja yang dapat ditangkap oleh indera pendengaran nya tadi.
Dia sampai memarahi dan mengumpati Arlendra saking kesalnya tadi saat mereka telah sampai ditempat yang menurut mereka aman.
"lalu.. Lo kemana saja seharian ini tidak terlihat?" tanya Elza yang merasa curiga. Jika sahabatnya ini penasaran akan apa yang terjadi lalu kemana ia seharian ini pergi? bahkan ia sama sekali tidak melihat batang hidung nya sama sekali.
"oh itu.. hehehe"
Elza menghadap Lisa dengan cepat "cepat katakan?! Lo mencurigakan sekali"
"gue seharian bersama Arlendra dikamar--"
"apa?! kenapa kalian dikamar?! jangan bilang kalau kalian beradu cinta disana" tuduh Elza sembari menggoyangkan tubuh Lisa dengan kencang.
"ish.. Lo apa-apaan sih! gue juga nggak tau kenapa bisa terkunci dikamar bersama dengan tuan Arlendra tadi. Padahal tuan Arlendra cuma membawa gue ke kamar untuk bersembunyi dari seseorang"
Elza bernafas lega mendengarnya.
"dan lagi. Otakmu ada dimana sih?! gue masih perawan tingting ya! dan gue nggak akan memberikan kehormatan gue pada pria yang baru dikenal"
"baguslah kalau elo berfikiran seperti itu" ucap Elza terdengar lega.
__ADS_1
"tapi kalau prianya setampan tuan Arlendra bisa saja gue berubah pikiran" ujarnya sembari tersenyum centil sembari membahayangkan wajah tampan Arlendra yang bisa dikatakan masuk ke kategori pria idamannya.
Mata Elza terbelalak "Lisa! Lo gila ya?!"
"hahaha" tawa Lisa pecah melihat keterkejutan diwajah Elza "santuy sayang. Gue bercanda kok"
Ketegangan dan kegelisahan yang awalnya Elza rasakan berangsur menghilang setelah perbincangannya bersama dengan Lisa.
Obrolan seru terus berlanjut sampai menjelang malam.
**
Setelah membersihkan diri, Elza turun kelantai bawah bersama dengan Lisa untuk makan malam.
Sesampainya disana, ternyata Tama sudah menunggu.
Senyum hangat tercetak menyambut kedatangan gadis pujaannya.
"lihat pangeran elu! ganteng parah gila" ujar Lisa dengan berbisik heboh.
"ssstt" Elza berdesis agar Lisa diam, dia yang merasa gugup bertemu dengan Tama setelah seharian ia terus menghindarinya. "bantu gue agar jauh-jauh darinya oke?"
Lisa mengangguk "oke"
"selamat malam Elza.." sapa Tama, ia lalu menarik kursi agar Elza duduk disisi dirinya.
"ah.. tidak perlu tuan, saya duduk disebelah sana saja sama Lisa"
Tama menoleh kearah Lisa, hal itu membuat gadis itu gelagapan. Bagaimana tidak? jika pria itu menatapnya dengan pandangan yang mengancam.
"awas kau kalau sampai Elza duduk disisimu" begitu mungkin arti dari tatapan Tama padanya. Bagaimana ia bisa takut pada Tama itu dikarenakan sebelum dirinya diizinkan ikut kepulau ini , ia sudah diancam oleh Tama terlebih dahulu.
"jika kau melakukan hal yang tidak Kusuka, kau akan kutinggal sendiri dipulau! biar saja kau menjadi seorang Tarsanwati sekalian karena tidak ada siapapun nantinya nanti"
Gluk
Lisa teringat akan ancaman itu lagi, dia buru-buru berjalan kearah Arlendra yang memang berada di ruangan ini juga "Lo duduk disisi tuan Tama saja Elz.. Gue bareng tuan Arlendra"
Tatapan tidak setuju Elza dan Arlendra tercetak jelas diwajah keduanya.
"tapi nona--"
"ssstt.. diamlah!" ucap Lisa dengan galak, ia menarik tangan Arlendra dan mendudukkan nya disisinya.
"ahh... sepertinya gue aman sekarang" batin lega Lisa saat melihat Elza terpaksa duduk disisi tuan Tama.
__ADS_1
Lisa sesekali menghindari kontak mata Elza karena merasa bersalah tidak bisa membantunya.
"maaf Elz.. gue terpaksa berkhianat karena takut jadi tarsanwati nanti" batinnya berucap sembari menangis pilu.