DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
good girl


__ADS_3

"kapan anda akan membawaku kembali?" tanya Elza setelah tadi ditarik oleh Tama sesudah makan malam .


Mereka tengah berdiri disisi dibalkon villa dengan view bintang dan lampu-lampu cantik yang terlihat dari sana.


Deburan ombakpun terdengar, bahkan desiran angin yang lumayan kencang menuju villa menerbangkan rambut Elza.


Tama yang melihat Elza tampak kedinginan karena beberapa kali gadis itu mengusap lengannya berinisiatif untuk menarik lengannya, lalu memeluknya dengan erat.


"ah- tuan! apa yang anda lakukan?!" pekik Elza saat tubuhnya menubruk dada bidang Tama, lalu pria tampan itu menarik pinggang rampingnya.


"kamu tampak kedinginan, makanya aku berinisiatif untuk menghangatkan mu. Seharusnya kamu berterimakasih loh" ucapnya dengan wajah tanpa dosa. Dia bahkan tersenyum senang karena dapat memeluk gadisnya ini.


"anda memang sangat pintar ya?" sindir gadis itu dengan ketus, ia mendongak agar dapat melihat wajah Tama.


Tapi hanya beberapa detik saja, karena setelah itu ia membuang muka kesamping "sialan.. kenapa dia tampan sekali sih!" Ternyata gadis itu tidak kuat melihat ketampanan Tama yang terlihat dari jarak yang begitu dekat.


"tentu saja, aku memang sangat pintar dan--"


"dan licik" sambung Elza dengan begitu ketus.


"hahaha... kamu manis sekali sih Elz.." ucap Tama dengan senang, ia mendekatkan wajahnya kearah wajah Elza.


"eitss.. mau apa kau?!" ucap Elza dengan galak, ia melotot saat tadi hampir saja pipinya dikecup oleh Tama.


"sedikit saja" rengek manja Tama. Ia kembali mendekatkan wajahnya kearah pipi.


Elza semakin melotot dan menggeram.


"ck.. dasar pelit sekali" ucap Tama sembari mendengus.


Elza memutar bola matanya jengah, ia kembali memandang wajah Tama "kapan anda akan membawaku pulang?" kembali bertanya karena sedari tadi Tama tak juga menjawab pertanyaan nya.


Tama angkat bahu cuek.


"tuaaan" keluh Elza saat melihat wajah Tama yang tampak tak peduli.


Tama menghela nafas, ia sedikit menunduk agar dapat melihat manik hazel milik Elza. Sang jernih dan cantik menurutnya "kenapa?"


"ck.. aku harus kuliah dan aku memiliki tanggung jawab disebuah restoran"


Tama kembali mendengus "restoran?"


"ya! aku masih bekerja direstoran, bukankah Anda mengetahuinya?"

__ADS_1


"kamu sudah dipecat"


Mata Elza terbelalak. Dia bahkan mendorong dada Tama sampai pelukan mereka terlepas "benarkah?!" pekiknya terkejut.


"ck.. kamu berisik sekali" keluhnya, ia mengulurkan tangan hendak memeluk Elza kembali tapi gadis itu dengan sigap mundur menghindar. Hal itu membuat Tama berdecak sebal. Tapi memilih mengalah, ia tak mau memaksakan kehendaknya yang nantinya malah akan menakuti Elza.


"apa anda berbicara serius tuan? padahal aku masih membutuhkan pekerjaan itu"


"untuk apa bekerja disana lagi, aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu kok. Kamu ingat kan jika aku kaya?" ucap Tama dengan sombong. Dia bahkan menepuk dadanya dengan begitu percaya diri.


Elza memutar bola matanya lagi "cih.. siapa yang sudi menerima uangmu"


"mulai berani kamu berbicara seperti itu hah? apa kamu lupa jika aku salah satu-satunya kunci untukmu bisa pulang?"


Elza terkesiap "bu-bukan begitu maksudku tuan. Maaf" ucapnya dengan pelan, dia menunduk.


Tama menyeringai mendengar permintaan maaf dari Elza. Bukannya ia hendak menindas gadis yang ia cintai ini, tapi Elza benar-benar akan membantahnya jika ia tak memakai cara ini. Gadis ini memang sangat keras kepala sekali.


"bekerjalah hanya padaku! agar kamu bisa fokus kuliah. Kamu tidak mau sampai kakakmu kecewa karena kamu tidak fokus belajar kan?"


Elza yang tadinya menunduk kembali mendongak saat Tama membahas kakaknya. Benar apa yang dikatakan oleh Tama, karena dulu kakaknya bekerja keras hanya untuk membahagiakan dirinya. Dan pesan yang selalu ia ingat adalah pendidikan adalah nomor satu. "tapi aku tidak mau tinggal denganmu lagi"


Tama menatap mata Elza dengan jengah, sepertinya ia keberatan jika ia harus berpisah dengan gadis itu.


"kalau anda keberatan lebih baik saya mencari pekerjaan yang lain saja"


Elza menyeringai "sedikit memanfaatkan keadaan tidak masalah bukan?"


"cih..aku baru tahu kalau kami itu ternyata adalah gadis yang sangat licik"


Elza tergelak "bagaimana tuan?" bertanya meski ia tahu pasti jawabannya.


Tama menarik pinggang Elza lagi, menyentaknya sampai menubruk dadanya lagi. Memeluknya dengan begitu posesif.


cuup


"kamu menang" bisiknya didekat telinga Elza. Dia melepaskan pelukannya lalu berbalik badan "besok kita kembali" ujarnya sebelum meninggalkan Elza yang masih mematung disana.


deg deg deg


Elza memegang bibirnya yang baru saja dikecup oleh Tama, matanya bahkan tadi melotot karena terkejut akan tindakan Tama yang berani dan mendadak itu.


Tangannya terulur untuk memegang tralis besi yang ada disisi tubuhnya, dia hampir saja jatuh terduduk karena lututnya lemas. Tangan yang satunya ia letakkan didepan dada, terasa sekali jika dadanya berdebar dengan sangat kencang.

__ADS_1


Lalu tangannya beralih kepipinya, terasa panas. Pasti sekarang wajahnya sangat merah "brengsek.. gue benar-benar jatuh kepesona casanova itu!" batinnya mengumpat.


*


*


*


Pagi harinya Tama benar-benar menepati ucapannya.


Mereka berdua telah duduk bersisian didalam sebuah helikopter mewah.


"tuan.."


Tama yang tengah mengecek pekerjaannya melalui tablet menoleh saat Elza memanggilnya. Gadis itu seperti tengah mencari sesuatu "apa yang kau cari?" tanya Tama penasaran.


"dimana Lisa? anda tidak meninggalkannya dipulau kan?" tanya Elza sedikit khawatir. Tadinya ia pikir jika sahabatnya itu sudah ada didalam helikopter ini. Tapi ternyata tidak ada.


"kalaupun iya, memangnya kenapa?" tanya Tama cuek, ia kembali menatap tabletnya.


"tuaaan"


Mendengar gadis itu yang terdengar jengah, akhirnya Tama kembali menengok kesamping "Arlendra sudah membawanya pulang"


Elza menghela nafasnya lega.


"kenapa kamu begitu mengkhawatirkan nya? aku cemburu loh Elz"


Elza yang awalnya menghadap kejendela kembali menatap Tama dengan pandangan aneh "cemburu? pfftt--"


"jangan tertawa! aku berbicara serius!"


Elza menghentikan tawanya, dia menatap serius mata Tama "bukankah kita tidak memiliki hubu---"


Ucapan Elza terpotong saat Tama membekap mulutnya dengan tangan "jangan diteruskan! kamu adalah calon istriku! ingat?!" ucapnya dengan wajah yang serius, wajahnya berbeda dari sebelum-sebelumnya yang selalu hangat padanya.


Ucapannya kali ini sungguh tegas.


Elza menelan ludah saat Tama berbicara dengan menekan suaranya. Dan Elza dapat merasakan aura kuat Tama tiba-tiba keluar.


Hal itu membuat Elza merasa hatinya tidak tenang. Apakah ini memang aura yang dimiliki oleh seorang CEO hebat?


Rasanya Elza tidak bisa menolak ucapannya. Ucapannya bak seorang bos yang berkuasa yang tidak bisa dibantah oleh karyawannya.

__ADS_1


Elza yang terkejut bahkan mengangguk tanpa sadar.


"good girl" ucap Tama, ia melepaskan tangannya lalu beralih untuk mengelus rambut Elza dengan lembut.


__ADS_2