
Emmhh
Elza menggeliat, dia merentangkan tubuhnya. Matanya mengerjap beberapa kali. Gadis cantik itu sedang berusaha mengumpulkan nyawa rupanya.
"sudah bangun?"
Elza terkesiap saat mendengar suara bariton seseorang. Gadis itu menoleh kesumber suara "tuan" ucapnya cengo saat melihat Tama tengah duduk disofa. Hanya mengenakan jubah handuk dan ia terlihat sedang mengerjakan sesuatu dileptopnya. Kacamata bertengger diatas hidung mancungnya menambah kesan dewasa dan cool. Tama terlihat sangat tampan meski hanya mengenakan jubah mandinya saja.
Setelah mandi dia langsung mengerjakan pekerjaannya. Mengisi waktu luang selama Elza tertidur untuk bekerja.
"ck.. jangan panggil aku tuan! aku suamimu sekarang" keluh Tama terdengar tak terima.
"suami?"
Tama yang tadi masih fokus pada leptop menoleh "ya suami.. Apa kamu lupa kalau sudah memiliki suami yang tampan seperti ini?" tanyanya sembari mengibaskan rambutnya kebelakang. Tama berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekati Elza.
Gadis itu terlihat panik dan melindungi tubuh nya menggunakan selimut.
Tama menyeringai sembari menatap wajah bantal Elza yang terlihat cantik "kamu lupa statusmu?"
Elza menggeleng "ti-tidak" jawabnya terbata, Elza sungguh panik.
"good.. kalau kamu lupa aku akan mengingatkan dengan caraku"
"a-aku tidak lupa kok" sambar Elza dengan cepat. Dia takut saat melihat senyum simpul dibibir Tama, sepertinya ia merencanakan sesuatu.
Tama kembali menarik sudut bibirnya "kalau kamu tidak lupa, jangan panggil aku tuan"
"aku harus memanggilmu apa?"
Tama mengulurkan tangannya, dia usap bibir tipis berwarna pink itu dengan ibu jarinya "kamu bisa memanggilku sayang, honey atau sweetie juga boleh"
Elza menggeleng "bagaimana kalau aku memanggilmu kak?"
Tama menggeleng dengan cepat "panggil aku suami saja!"
"aku tidak mau! aku akan memanggil mu kak mulai saat ini"
Tama tergelak mendengar ucapan keras kepala istrinya itu"baiklah.. terserah kamu saja" memilih mengalah dari pada nantinya mereka berdebat. "sekarang mandilah.. Nanti kita makan malam bersama" ucap Tama dengan lembut, dia mengusap kepala Elza dengan sayang.
"tangannya hangat" batin Elza, ia mengangguk dan segera turun dari atas tempat tidur.
Saat hendak melangkah, Tama mencekal tangannya lalu menariknya sampai Elza berbalik badan dan menubruk tubuh Tama.
Dan tindakan Tama berikutnya membuat Elza membelalakan matanya dan lututnya tiba-tiba terasa lemas.
**
__ADS_1
brak..
Elza membanting pintu, dia bersandar pada pintu yang baru saja ia tutup itu. Wajahnya merah padam.
Tangannya terangkat dan berhenti diatas bibirnya. Bibir Tama yang kenyal dan basah masih terngiang-ngiang dibenaknya saat ia dengan semangat menciumnya barusan.
Dan saat teringat jika ia merespon dan menerima ciuman Tama tanpa adanya penolakan membuat wajahnya bertambah merah. Jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
"aaaahhhkk.. gue malu.." pekiknya dalam hati sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Setelah menenangkan diri, ia segera mandi karena Tama sudah menunggunya untuk makan malam bersama.
**
Setelah mandi, Elza bingung karena ia tak membawa baju ganti. Tidak mungkin kan ia memakai gaun yang tadi ia pakai. Pada akhirnya gadis itu keluar dari bathroom hanya mengenakan jubah handuk yang memang tersedia disana.
"eh" Elza yang hendak keluar tidak jadi saat melihat Tama ada didepan pintu. Tama sudah mengenakan kaos dan celana pendek. Saat Tama melangkah maju Elza mundur "ma-mau apa tuan?"
"tuan?" tanya Tama sedikit menggeram, dia tidak suka.
"ah maaf.. Aku belum terbiasa untuk memanggilmu kak" ucapnya sedikit bergetar, dia tidak nyaman saat ditatap dengan begitu intens oleh suami barunya itu. Apalagi ia hanya mengenakan jubah handuk saja.
"kenapa kamu memakai jubah handuk? seharusnya kamu keluar mengenakan handuk biasa saja" ucapnya sembari tersenyum usil.
Elza berdecak "jangan mesum!"
Mata Elza terbelalak lalu ia mendorong dada bidang Tama "jangan macam-macam!"
"macam-macam seperti apa? aku hanya ingin satu macam kok"
Nafas Elza tercekat saat Tama mulai mengusap lembut pinggangnya, bibir bawahnya ia gigit pelan untuk menahan perasaan panas yang tiba-tiba ia rasakan. jantungnya berdebar-debar kembali.
Tama tersenyum saat melihat wajah Elza memerah. Menggoda nya seperti ini sungguh menyenangkan.
"eh.." Elza terkejut saat Tama tiba-tiba saja menggotong tubuh nya seperti karung beras kemudian dia membawanya kearah ranjang.
Tama melempar tubuh Elza keatas tempat tidur, lalu ia mengungkungnya "kamu tahu sayang? aku selalu merasa panas saat dekat denganmu" ucapnya dengan jujur.
Apalagi dia sudah lama sekali tidak pernah bermain dengan wanita manapun setelah ia menyadari perasaannya pada Elza. Dia tidak bernaf-su dan tidak berselera sama sekali dengan wanita-wanita yang dulu selalu memuaskan nya.
Mereka saling tatap dengan pandangan yang sama, keduanya cukup tegang dengan situasi yang cukup intim ini.
Tama menatap lembut wajah cantik Elza, dia yang baru saja mandi mengeluarkan aroma harum yang semerbak. Hal itu membuatnya benar-benar menegang dan ingin menyentuhnya sekarang. Padahal tadi ia hanya berniat untuk menggoda Elza saja, tapi sekarang ia malah menginginkan lebih.
Tama mendekatkan wajahnya kearah wajah Elza, dia langsung mel-u-mat bibir yang entah sejak kapan menjadi candunya. Bibir tipis yang terasa manis ini benar-benar membuat Tama lupa diri.
Elza hanya bisa memejamkan matanya, meski agak terkejut dengan keagresifan Tama saat ini tapi ia berusaha untuk menikmati apa yang sedang dilakukan oleh suaminya, apalagi suaminya ini menciumnya dengan penuh kelembutan meski ia merasa ciuman kali ini Tama begitu mendominasi dan menggebu.
__ADS_1
Tidak ada niat untuknya menolak karena sejujurnya iapun sangat menyukai situasi intim seperti ini dengan pria yang dulu sangat ia benci.
Memang benci dan cinta itu bedanya tipis. karena sekarang Elza sudah menyadari jika hatinya memang sudah ia serahkan pada pria yang ia tahu adalah seorang casanova ini.
"tunggu" Elza mendorong dada Tama dan melengos kesamping.
"kenapa?" tanya Tama saat ciuman mereka terlepas, dia tatap intens mata cantik Elza.
"aku tidak mau dimadu atau diselingkuhi" ucap Elza saat teringat kembali jika suaminya ini adalah seorang casanova yang memiliki banyak kekasih.
Tama terkekeh "kamu satu-satunya wanitaku Elz.."
"aku nggak mau kamu jajan diluar!"
Tama mengangguk "aku berjanji padamu tidak akan menduakan mu sayang, aku sangat mencintaimu. Aku bahkan tanpa ragu membuang semua wanita yang dulu bersamaku hanya agar aku bisa bersama denganmu" ucapnya dengan serius.
Elza melihat kejujuran dimata suaminya "aku akan berusaha mempercayai ucapanmu"
"Percayalah sayang, aku sangat mencintaimu. Jadi aku tidak akan bermain-main lagi"
Elza mengangguk pada akhirnya.
"bisa dilanjut?"
Elza menghela nafasnya panjang "aku-- hmmppt" matanya terbelalak saat ucapannya terpotong ketika Tama kembali menciumnya lagi. Padahal tadi ia hendak mengatakan untuk menundanya nanti.
Elza kembali terbuai oleh ciuman yang terasa memabukkan ini, tanpa ia sadari, Tama sudah berhasil menarik tali yang mengikat jubah handuknya.
Tama terus mencium Elza sembari tangannya menggerayangi tubuh Elza.
Untuk pertama kalinya, Tama menyentuh dada Elza yang tanpa penghalang seperti ini. Rasanya benar-benar menakjubkan. Sudut bibirnya tertarik saat Elza sudah pasrah padanya. Tangan profesionalnya sangat lihai mempermainkan tubuh bagian atas Elza.
Tama melepaskan pagutan bibirnya, dia mengecup pipi Elza lalu ia beralih pada leher putih dan jenjang milik istrinya ini. Dia mulai mencium dan mencum-bu Elza dengan penuh gairah.
"ugh.." Elza tanpa sadar mengeluarkan des-ahanan yang membuat Tama bertambah semangat.
kruwuuuk..
Saat ciumannya mulai turun menuju kedua dada Elza, Tama terhenti saat mendengar suara perut Elza yang berbunyi. Dia menatap perut rata Elza dengan tatapan cengo.
"maaf" ucap Elza dengan malu, dia memang belum makan dari siang.
Tama ambruk diatas tubuh Elza, gairahnya yang melambung tinggi langsung down. Dia turun dari tubuh Elza, dia tidak mau istrinya ini sampai kelaparan.
Tama membantu Elza merapikan jubah handuknya dan mengikatkan tali yang tadi ia lepaskan. "ayo makan dulu" menarik tangan Elza agar istrinya ini turun dari tempat duduknya.
"maaf"
__ADS_1
Tama menoleh dan tersenyum, dia juga mengusap lembut pipi Elza "tidak papa, ayo kita makan dulu" ajaknya dan ia kembali menarik lembut tangan Elza keluar kamar dan membawanya keruang makan.