
ugh..
Elza melenguh saat merasa ada seseorang yang menciumi lehernya, antara sadar dan tidak Elza menikmati setiap sentuhan lembut yang membuatnya hampir melayang.
Matanya mengerjap lalu mulai terbuka perlahan. Dia menatap seseorang yang berada diatasnya tengah mencu-mbu dirinya. "apa yang terjadi?" otaknya ngeblank saat tubuhnya merasakan geleyer nikmat yang baru pertama kali ia rasakan.
Saat merasa lehernya sakit ketika dikecup, Elza terkesiap. Dia benar-benar sudah sadar dari tidurnya. "siapa kau?!" pekiknya sembari menendang perut pria yang ada diatas tubuhnya.
"ahhk--" pekiknya karena ia terjungkal kebawah. Dia tak menyangka Elza akan menendangnya sampai terjatuh dari atas tempat tidur. Dia sedang lengah dan tak siap mendapatkan serangan mendadak dari Elza.
Elza yang mengetahui itu suara siapa segera merangkak kepinggir ranjang. Dia melongok dan menatap pria yang sedang kesakitan dilantai "kau tidak papa kak?" tanyanya dengan wajah yang polos, dia baru menyadari jika yang jatuh itu adalah Tama. Suaminya.
Tama mendongak dan menatap kesal istrinya"kenapa kamu menendangku?" gerutunya tampak tak terima.
"aku hanya refleks melindungi diriku saat aku merasa terancam"
"ck.. yang benar saja! aku ini suamimu sekarang, kenapa juga kamu merasa terancam " gerutunya sembari berdiri kemudian duduk disisi Elza.
"aku sedang tidur dan kamu malah mencuri kesempatan untuk menciumi aku. Jangan salahkan aku karena aku juga dalam setengah sadar saat menendangmu tadi" ucapnya membela diri. Memang benar tadi dia sungguh terkejut.
Bagaimana tidak terkejut saat ia sedang tidur tiba-tiba saja merasa ada yang sedang melecehkannya. Tentu saja alarm kewaspadaannya langsung on. Secara naluriah dia hendak melindungi dirinya sendiri. Meski Tama adalah suaminya, Elza belum terbiasa akan kehadirannya yang tiba-tiba saja mencu-mbu nya dengan penuh nafsu seperti tadi.
Tama mendengus lagi, dia yang awalnya terkejut dan terbangun saat menyenggol tubuh Elza. Malah melakukan hal gila karena ia sudah tak bisa lagi tidur.
Elza meraih ponsel, ternyata baru jam tiga dini hari. Sungguh kurang kerjaan sekali pria yang saat ini tampak masih kesal itu. Bukannya tidur malahan dia-- Elza yang sedang berfikir apa yang dilakukan oleh Tama menggeleng. Mengenyahkan pikiran mesum yang hampir saja ia pikirkan. Wajahnya pun memerah.
Elza menguap "ayo tidur lagi" ajaknya pada Tama.
Tama menatap kesal istrinya itu. Tidak tahukah bahwa ia saat ini ingin sekali menyalurkan gairahnya yang sempat tertunda "tidur?" ucap Tama dengan nada suara rendah.
"ah.." pekik Elza saat tiba-tiba saja Tama menyergah dirinya. Lalu mengungkungnya.
"karena kamu sudah bangun, bukankah kita bisa melakukan sesuatu hal yang mengasyikkan?" tanyanya dengan nada suara sensual dan menggoda. Dia menatap mata Elza dengan pandangan memuja.
Elza gelagapan. Dia tentu saja tahu apa maksud dari perkataan Tama barusan. Elza tidak sepolos itu sampai tak tahu arah pembicaraan Tama.
Matanya terbelalak saat Tama mulai menyentuh tubuhnya. Membelai lembut pipi dan lehernya. Dia memberikan rang-sa-ngan melalui sentuhan tangan profesionalnya.
Tubuh Elza menegang, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Darahnya berdesir saat untuk pertama kalinya ia bersentuhan dengan seorang pria dengan sangat intim.
Mata Tama langsung berkabut gair-ah saat menyentuh tubuh wanita yang sangat ia cintai. Hasrat yang tadi sempat menurun akibat dirinya yang jatuh sekarang kembali naik.
Tama mengusap bibir lembut milik gadisnya "sayang aku sangat mencintaimu" ungkapan cinta yang membuat jantung Elza kembali menggila.
Tama mendekatkan wajahnya kearah wajah Elza. Elza secara reflek menutup mata.
__ADS_1
Tama tersenyum senang saat melihat Elza memejamkan matanya. Secara sadar istrinya ini tidak menolak dirinya. Pria tampan itu mencium lembut bibir merah milik Elza. Mel-u-mat nya dengan penuh perasaan.
Bibir mereka menyatu, terdengar sesekali kecapan dari bibir mereka.
Lama-kelamaan ciuman yang awalnya sangat lembut mulai menuntut. Tama semakin liar mencium bibir istrinya. Ia mengeksplor mulut istrinya dengan begitu bergairah.
Ciuman terlepas, Tama beralih pada leher jenjang Elza. Dia menji-lat dan kemudian menyesapnya. Membuat stempel kepemilikan disana.
"ugh.. ah..."
Tama semakin bersemangat saat mendengar rintihan kecil yang keluar dari mulut Elza. Dia membuat beberapa tanda merah disana.
Tama mendongak, ia tersenyum saat melihat wajah pasrah istrinya. Apalagi tatapan matanya yang juga terlihat bergairah itu membuat Tama semakin panas.
Dia kembali mencium bibir Elza, sembari tangannya yang memang sudah profesional jika berkaitan dengan hal-hal seperti ini langsung membuka baju yang dikenakan oleh Elza.
Elza yang terbuai akan sentuhan lembut dari Tama sampai tak menyadari jika ia sudah setengah telan-jang sekarang.
Tama melepas pagutan bibirnya, lalu ia menahan tubuhnya dengan kaki. Tama menyeringai saat melihat tubuh bagian atas istrinya "sesuai dugaan ku. Mereka sangat cantik" ucapnya dengan senang. Lalu ia mulai mendaratkan mulutnya diatas tubuh bagian atas Elza.
"ah.. kak~" Elza semakin menggila, dia merasakan nikmat yang baru pertama kali ia rasakan.
Tama menyesap dada Elza, sembari tangan yang satunya mere-mas yang satunya lagi.
Ini sungguh gila. Tama memang bukan pertama kalinya melakukan hal ini dengan wanita, tapi entah kenapa saat ia melakukannya bersama dengan wanita yang ia cintai rasanya jauh lebih nikmat dari yang biasanya ia rasakan. Tama hampir kehilangan akal apalagi mendengar des-ahanan nikmat dari bibir Elza membuat gairah nya semakin menggila.
"eh--"
Elza menahan kepala Tama saat ia merasakan sesuatu. "tunggu-- aku ingin ketoilet"
Tama tak mau mendengar, dia sedang asik menyesap dada Elza dengan begitu rakus.
"kak.. lepaskan aku dulu" Elza mendorong kepala Tama agar menjauhinya.
"ada apa?" tanya Tama dengan sedikit kesal karena Elza menghentikan aksinya.
"aku ketoilet sebentar"
"mau apa ketoilet? aku--"
Elza mendorong tubuh Tama, saat Tama menjauhi Elza ia segera lari kedalam bathroom.
Tama merebahkan tubuhnya. Ia pijit pelipisnya yang terasa berdenyut "apa dia berniat menolakku?" gumamnya sembari menatap pintu bathroom. Dia menghela nafasnya panjang.
**
__ADS_1
Sudah beberapa menit, Elza membuka pintunya sedikit "kak" panggilnya pada Tama.
Tama terduduk dan menatap Elza "apa?"
"em--"
Tama yang melihat keraguan diwajah istrinya menyernyit "apa? kamu mau menolakku kan?" tanyanya dengan nada ketus, dia tahu apa yang akan istrinya itu katakan.
"ck.. bukan itu"
"lalu apa?" tanyanya masih ketus.
"aku bukan menolakmu kok, aku mau-mau saja karena kita sudah sah melakukan hal itu" ucap Elza, tapi ia masih berada didalam toilet.
Wajah Tama berbinar, dia turun dari ranjang kemudian berjalan mendekati Elza "lalu tunggu apa lagi? ayo kita lanjutkan!"
Elza menggeleng "maaf kak, tapi aku datang bulan sekarang. Kita tunda dulu ya"
"apa?!" Pekik Tama dengan kencang, dia hampir saja pingsan karena gairahnya tidak bisa tersalurkan.
"bisakan kakak membelikan ku pembalut?" tanya Elza penuh harap, dia sungguh merasa tak nyaman sekarang.
"apa?!" pekik Tama lagi.
"ayolah kak, kamu tidak mau aku mengotori kasur dengan darahku kan?"
Tama menghela nafasnya dengan panjang mencoba bersabar "aku tidak tahu harus beli dimana, aku akan menelfon dan menyuruh anak buahku saja" ucapnya sembari berbalik badan.
Greb
Elza menahan lengan Tama. Saat Tama berbalik dan kembali menatapnya, Elza menggelengkan kepalanya beberapa kali "jangan.. Aku malu, kamu saja yang beli" ucapnya memohon.
Dengan terpaksa Tama mengangguk lalu pergi meninggalkan Elza. Dia mengambil kunci mobil dan dompet. "aku pergi dulu"
"oke"
Tama keluar dari dalam apartemen, saat membuka pintu anak buahnya yang bertugas menjaga pintu terkesiap. Dia yang tadi sedang duduk sembari minum coffe segera berlari mendekati tuannya.
"selamat malam tuan. Anda mau kemana?"
"diam!" pekik Tama membuat anak buahnya langsung refleks menutup mulutnya dengan tangan. Dia menatap tuannya itu dengan alis yang mengkerut "tuan kenapa?" gumamnya saat melihat Tama saat ini tengah menendang pintu lift.
Dan setelah tuannya masuk kedalam lift dia angkat bahu dan memilih untuk kembali duduk.
**
__ADS_1
Sesampainya didalam mobil, Tama kembali memijit pelipisnya "apa ini karma bagiku?" rasanya Tama ingin sekali berteriak tapi ia urungkan.
"ck.. kenapa datang saat aku hampir memakannya sih! menjengkelkan sekali" masih sewot sembari membawa mobilnya mencari minimarket yang buka selama dua puluh empat jam.