DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
episode 5 Masa Lalu 2


__ADS_3

Yuri dan Rio berjalan pulang dengan diam tanpa adanya percakapan, yuri merasa ini tidak benar dan sesekali melirik ke arah rio, berusaha mencari perhatian rio seperti pagi tadi saat mereka berangkat ke sekolah.


Tapi rio hanya berjalan lurus dan diam tidak seperti biasanya.


"hei, bagaimana dengan kelas baru mu ? "


tanya yuri memecahkan kesunyian mereka,


" kelasku? baik " ujar rio, sambil menatap ke arah yuri yang berjalan di sampingnya dan kemudian rio mendapati wajah khawatir yuri, kemudian ia pun segera memalingkan wajahnya ke depan, yuri sadar dengan apa yang barusan terjadi dan yuri pun menghembuskan nafas pendek," entah kenapa teman mu yang bernama kim itu, aku tidak terlalu suka " ujar yuri sekali lagi, rio pun seketika menghentikan langkahnya, "benarkah ? eemmm, kalau begitu kau tidak perlu dekat-dekat dengannya " suara rio terdengar ragu-ragu, sebenarnya yuri merasakan bahwa ini aneh, tetapi yuri tidak ingin bertanya dan mempersulit rio, yuri memutar untuk melihat rio yang menghentikan langkahnya di belakang yuri "baiklah, sewajarnya aku menjauhi orang yang tidak aku suka kan? ya kita harus jujur dengan perasaan kita " sahut yuri tersenyum lebar, melihat senyum yuri hati rio sedikit lega bersamaan menutupi kegelisahannya, rio bertekad untuk melindungi dan manjauhi yuri dari jangkauan kim karena kim adalah anak yang berbahaya serta kejam.


setibanya di dekat rumah kemudian mereka saling melambaikan tangan, rio dan yuri masuk kerumah masing-masing, itu sudah menunjukkan jam 5 sore.


" bu, aku pulang " ujar yuri, tapi tidak ada sahutan jawaban dari ibunya, "ibu kemana ya ? " pikir yuri dalam hati "ya sudah lah palingan membeli bahan untuk makan malam ke mart depan komplek " tambah yuri sambil melihat-lihat ke dapur siapa tau ibunya hanya tidak mendengarnya pulang. Tetapi tak mendapati ibunya ada di rumah, Yuri cuek saja dan segera melangkah ke lantai dua, untuk masuk kekamarnya, ia pun segera meletakkan tas dan melepas seragamnya, mengambil handuk dan kemudian mempersiapkan air hangat untuk mandi.


Saat yuri mandi, tak lama kemudian ibunya pulang dengan bahan makanan dan belanjaan lainnya di tangannya, lalu segera menuju dapur dan membuatkan makanan untuk makan malam. Setelah selesai mandi yuri pun turun dan mendapati ibunya sedang memasak dan wangi makanan buatan ibunya membuat yuri kelaparan, " emmm harum " suara yuri sedikit nyaring dan di buat-buat seperti nada pujian untuk ibunya, ibu yuri tersenyum, "yuri malam ini kita makan malam dengan rio dan papa nya yuk" sahut ibunya


tentu saja hal ini membuat yuri sangat girang "serius ma ? aku kesebelah ya panggil rio " sahut yuri sambil dengan cepat berlari keluar rumah dan segera menuju ke rumah rio tetangganya, "anak itu buru-buru sekali " ujar ibunya karena belum sempat menyahut pertanyaan yuri, yurinya sudah hilang berlarian.


"Riooooo ??!! " teriak yuri tanpa mengetuk pintu langsung masuk ke dalam rumah rio dan mendapati ayah rio sedang menonton tv di ruang depan, " paman rio di kamar ya " tanya yuri yang sebelum sahutan ayah rio sudah berada di tangga hendak menuju lantai dua, "iya ,yuri cek saja ke kamarnya" sahut ayah rio melirik ke tangga dan mendapati yuri sdh tidak sedang di tangga melainkan sudah di lantai dua, "waduh, orangnya sudah gak ada" ujar ayah rio dalam hati.


Yuri masuk ke kamar rio dan melihat rio tidak di sana dan sangat jelas di kamar mandi yang ada di dalam kamar rio berbunyi seseorang sedang mandi yang tidak lain pasti adalah rio sendiri.

__ADS_1


Yuri kemudian membaringkan badannya di kasur rio, karena mereka adalah teman sejak kecil jadi bagi yuri ini adalah hal yang sudah biasa terjadi antara mereka, yuri menatap langit-langit dan kemudian menolehkan kepalanya ke samping menghadap sebuah meja belajar di samping kasur rio, di meja itu terdapat foto yuri dan rio ketika masih SD, foto itu diambil saat mereka bermain air hujan di halaman rumah rio. Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka dan rio yang hanya menggunakan handuk keluar dan terkejut melihat yuri yang berbaring di kasurnya "astagaa" ucap rio terkejut sambil memegang dadanya "hei kau kira melihat hantu ? " ucap yuri dengan nada sedikit jengkel, "bukan begitu, aku tak tau kau datang " rio berjalan ke lemari pakaian dan berusaha mencari baju, setelah menemukan baju yang hendak ia pakai, ia pun kemudian masuk lagi ke kamar mandi untuk memakai baju.


Yuri kemudian bangkit dan duduk di pinggiran kasur rio dengan santai saja. Tak lama rio keluar dengan menggunakan bajunya rembut rio masih basah, dan tercium bau harum sabun dan sampo dari tubuhnya saat duduk di sebelah yuri, "ada apa, rasanya baru tadi pulang sudah kesini saja, kangen ?" ujar rio menggoda yuri, "iya, ibu ku mengajak mu dan ayah mu makan bersama, yuk ! " yuri tak mau terlalu lama mengobrol dan buru-buru berdiri dan menarik tangan rio agar segera berdiri, rio agak malas-malasan mengikuti tarikan tangan yuri dan kemudian berdiri, menutup kamarnya mengikuti yuri keluar dari kamarnya menuju lantai di bawah, "mau kemana kalian berdua ? mau kerumah yuri ? " tanya ayah rio lembut karena mendapati rio dan yuri sudah turun tangga dan menghampirinya, "iya sama paman juga, ibu mengundang makan malam bersama, yuri malas mengantar lauknya kesini sih " goda yuri ke ayah rio, "benarkah, wah enak ini" sahut ayah rio dengan sedikit tertawa riang, sambil mengambil remot di meja depannya kemudian mematikan tv dan segera berdiri dari sofa, "entah kenapa rasanya tidak tau malu " sahut rio datar saat melihat ayahnya yang buru-buru tidak sabar berkunjung ke rumah yuri, dan jawaban rio membuat yuri sedikit merasa kalau rio tidak senang, kemudian menengok ke arah rio yang sedang menatap ayahnya dengan wajah serius, "rio, kan di undang gak enak menolak " ujar ayahnya sambil tersenyum mencairkan suasana, "kenapa serius gitu sih, gak papa lah" ujar yuri berjalan duluan menandakan tidak ingin melanjutkan perbincangan agar segera kerumahnya saja.


" tolong jangan membuat ini semakin rumit " ujar rio dengan sedikit berbisik kepada ayahnya agar tidak terdengar oleh yuri, dan sebelum ayahnya menjawabnya, rio melangkah menyusul yuri.


Yuri membuka pintu depan rumah di susul oleh rio dan ayahnya "ma, kami datang" ujar yuri, tepat ibunya sedang menyiapkan makanan di atas meja makan, ibu yuri yang mendengar yuri datang bersama rio dan ayahnya langsung ke ruang depan untuk menyambut agar tak ada rasa sungkan kemudian mengajak semuanya menuju ke meja makan "ayo semuanya sini kita makan sama-sama" ajak ibu yuri.


Di meja makan ibunya membagikan nasi, dan mempersilahkan rio dan ayahnya untuk mengambil lauk, " enak buatan mama " ujar yuri tertawa gembira sambil sesekali curi-curi pandang ke arah rio, "ya, mama yuri memang hebat masak " canda ayah rio, " tentu saja " ujar ibu yuri dengan nada candaan yang seolah-olah menyombongkan dirinya, yuri tertawa kecil melihat kelakuan ibu nya yang seperti itu. " ya, tentu saja, setidaknya untuk makanan" suara rio datar, sekali lagi yuri merasa aneh, ada apa dengan rio, apa karena ada masalah di sekolah, dia tidak seperti biasanya, khususnya ketika di hadapan ibunya yuri, rio biasanya sangat lembut dan murah tertawa dan tersenyum.


"e. ee..hhee..hhmmm" ayah rio batuk sedikit, kemudian suasana makan menjadi diam, dan mereka pun hanya saling menikmati makanan masing-masing, dengan percakapan biasa-biasa saja.


Rio tak banyak bicara setelah mereka selesai makan pun ia tak peduli saat ayahnya, yuri dan ibu yuri sedang berbincang di ruang tamu, hanya diam sambil memperhatikan handphone nya saja. Yuri merasa kuatir dan segera menghampiri rio


Keesokan paginya, rio menunggu di depan pagar rumahnya seperti biasa, menunggu yuri untuk berangkat ke sekolah, yuri datang seperti biasa memberikan kotak bekal karena yuri tak ingin seperti kemarin memberikan bekal saat istirahat yang kemungkinan rio bisa tak ada lagi di kelas. mereka berangkat ke sekolah seperti biasa dan pulang pun seperti biasa. hari berganti hari, waktu tak terasa berjalan singkat, dan ini sudah bulan ketiga mereka, semenjak mereka bersekolah.


Dan di bulan ini lah yuri harus menerima kabar duka bahwa neneknya yang sedang di rawat ayahnya di desa meninggal dunia, yuri dan ibunya pulang ke desa neneknya, dan yuri ijin sekolah selama empat hari.


Pagi itu rio berangkat ke sekolah sendirian, rio memegang perutnya seolah ada yang sakit di sana, rio sangat malas untuk ke sekolah, selama ini ia terpaksa untuk sekolah karena ada yuri. Sesampainya di sekolah rio masuk kedalam kelas, ya seperti biasanya tak ada yang terjadi saat pagi hari, sebelum kim datang dan sampai saat waktunya kim tiba di kelas, inilah hal yang di takutkan rio.


"hai rio" ujar kim, suara kim saja sudah membuat rio ketakutan.

__ADS_1


"pagi tuan" rio berdiri dari tempat duduknya dan membungkuk, "inilah alasan aku suka besekolah, melihat budak ku menyambutku dengan hangat setiap hari dalam 2 bulan ini" ujar kim sambil melangkah mendekati rio dan menjulurkan tangannya meminta sesuatu "hari ini tak ada bekal, yuri tidak sekolah selama empat hari " ujar rio dengan senyum yang di paksakan sambil tetap berdiri tetapi tidak membungkuk hormat lagi "oh begitu, sini dompetmu" ujar kim "ini tuan" sahut rio buru-buru mengeluarkan dompetnya tanpa membela diri dan tanpa basa basi bertanya, "sedikit sekali isinya, pantas saja kau tak laku dikalangan anak perempuan" ujar kim sambil mengambil uang rio, "ya sudah duduk sana, ini dompetmu, aku ambil semua uang mu karena uang mu sedikit jadi hanya cukup untuk ku gunakan membeli makan siang ku nanti, bekal pun tak ada, kau tak mau kan tuan mu kelaparan" ujar kim dengan tatapan tajamnya "ya tuan tak apa" rio tersenyum lebar berusaha terlihat tulus dan duduk, menundukkan kepalanya, malu, karena di lihat oleh semua siswa di kelasnya, "lihatlah si bodoh itu, haha sangat menjijikan, aku malam ini ingin bermain dengannya" ujar seorang anak wanita di kelasnya sambil berbisik dengan siswa wanita yang lainnya, "iya seru juga, hihihi ".


Rio merenungkan apa yang terjadi dengannya setiap hari selama tiga bulan ini, rio menjadi budak kim karena perjanjian mereka, kim tidak akan mengganggu yuri asalkan rio mau memberikan bekal yang yuri berikan dan rio harus menjadi budak kim, maka kim juga akan menjaga sikapnya pada rio saat di depan yuri agar terlihat bahwa rio baik-baik saja. Rio pun sering berbohong pada yuri bahwa luka-luka lebam yang kadang ada di wajah rio adalah karena rio terjatuh saat pelajaran olah raga, dan terhantuk dinding kolam renang saat bermain dan sebagainya, berbagai alasan di buat rio agar yuri tak kuatir dan hal itu berhasil menipu yuri karena yuri tau bahwa rio memang anak yang sangat aktif dan suka bermain, dan berolah raga, yang yuri tak tau bahwa jam olah raga adalah neraka bagi rio.


Ting tong bel tanda istirahat berbunyi, rio hanya duduk di dalam kelas, rio tak belajar dengan benar pada jam pelajaran, dan saat jam istirahat pun yang ia lakukan tak berbeda hanya duduk diam atau hanya ke UKS dan Yuri yang sibuk dengan kegiatan ekskul,osis dan kegiatan belajarnya di kelas unggulan sering tak memperhatikan rio di sekolahan, hanya menghubungi rio melalui chat handphone.


sementara kim dan teman-temannya pergi ke kantin untuk makan, tiba-tiba seseorang menyapa rio "Rio, malam ini datanglah ke sini" seorang anak wanita di kelas rio memberikan sebuah kertas, di kertas tertulis "jam 7 malam, bukit ujung kota, jangan tidak datang atau terlambat ya, atau aku akan memberitaukan pada kim nomor kontak yuri" anak itu pergi setelah memberikan kertas sambil tertawa serta berbisik pada teman-temannya, rio tau anak perempuan itu, anak itu jelas adalah teman SD rio dan yuri dan yang pasti masih berteman dengan teman-teman wanita SD mereka dulu yang sekarang sekelas dengan yuri.


***sedikit sejarah tentang kim, kim bukan berasal dari SD yang sama dengan rio dan yuri, ia anak baru di sekolah SMP mereka karena kim dan keluarganya baru pindah ke kota kecil ini, dan entah kenapa tak seorangpun berani dengan kim dan keluarganya, di kota ini ayah kim adalah tuan tanah yang menguasai setengah dari tanah yang berisi bangunan rumah penduduk serta usaha-usaha toko penduduk di kota kecil ini.


Rio jelas tak bisa menolak semua ini, demi yuri, malam nanti rio tak peduli ada hal buruk apa


yang mungkin saja akan terjadi padanya.


Di kelas hari ini kim tak mengganggunya lagi, ini sudah cukup lumayan baik untuk rio karena sebenarnya tubuhnya sangat sakit, tendangan kim kemarin saat jam olah raga sangat berefek buruk bagi tubuh rio, kim menendang rio di perut sebelah kanannya. Dan alasan kim menendangnya hanya jadi pelampiasan kekesalan kim, karena tak terima kalah bermain bola dengan anak-anak dari kelas 1D, yang saat itu kebetulan satu jadwal olah raga dengan kelas mereka 1F, dan yang terburuk adalah rio bahkan tak bisa berbuat apapun untuk membela dirinya sendiri, apalah artinya perlawanan lemahnya dengan tubuhnya yang kurus dan kecil di bandingkan kim, yang bisa ia lakukan hanya menahan apapun serangan yang di perbuat kim dan teman-temannya. Dan rio merasa bahwa ia memang penakut dan seorang pecundang.


Bel pulang berbunyi kim dan teman-temannya sama sekali tak mengganggu rio, hanya cuek dan pergi tak ada kata-kata kasar, ini sebenarnya aneh pikir rio. Tak mau banyak berpikir rio pun segera pulang, ia tak mau terlambat datang ke bukit ujung kota.


Jam menunjukkan jam setengah 7 malam dan rio sudah berada di bukit tempat ia di suruh datang, rio pergi dengan buru-buru karena takut terlambat, ayahnya juga tak menanyakannya kemana ia pergi karena memang hubungan ayahnya dan rio belakangan ini kurang baik. Bunyi ranting kering di injak serta bunyi banyak langkah kaki pertanda ada yang datang menuju tempat rio menunggu, dan bersamaan terdengar dari kejauhan suara tawa anak-anak perempuan, kemudian tak lama muncul sekitar delapan orang wanita yang terdiri dari empat kakak senior kelas tiga SMP, dua orang lagi seperti sudah anak kelas dua atau tiga SMA dan dua lagi anak kelas rio yang membuat janji dengan rio, "ada apa lagi ini, kenapa banyak sekali yang datang" pikir rio dalam hati "wow, sudah datang, sudah tak sabar ya bermain" ujar salah satu kakak senior kelas tiga menggunakan baju kentat menunjukan lekuk tubuhnya, sangat sexy, dan tanpa lengan, serta memakai celana kentat dengan rambut panjang terurai yang jelas sekali menenteng sebotol kecil minuman beralkohol di tangannya, di sambut dengan tertawaan dari anak-anak perempuan lainnya.


dua orang wanita yang terlihat seperti anak SMA itu dua-duanya bertubuh tinggi, dan lebih tinggi 5 Cm atau 7Cm dari rio yang masih anak kelas 1 SMP, salah seorang dari mereka berdua mengambil sebatang rokok dari kotak rokok di saku rok jeans kentat yang di pakainya dan menyalakan rokoknya, serta menghisap rokok tersebut.

__ADS_1


Rio akhirnya merasa takut serta ragu dengan semua ini "benar-benar tak beres" bisik nya dalam hati dan mulai berjalan pelan-pelan mundur sampai akhirnya rio merasakan tubuhnya menyentuh sesuatu di belakangnya dan itu jelas sekali bukan pohon, rio tersentak dan memalingkan tubuhnya, betapa lebih terkejutnya rio saat mendapati kim dan teman-temannya sudah berdiri seperti pagar seolah-olah menjaga agar tio tak bisa kabur dan dengan senyuman jahat nya kim menyapa rio "Hai, rio cantik" ujar nya.


__ADS_2