
Arlendra yang diberi tugas untuk mengawasi Elza hanya bisa mende-sah kesal karena melihat gadis yang sedang ia jaga hanya duduk ditepi pantai selama hampir seharian. Bahkan Elza sama sekali tidak menyentuh makanan yang disiapkan oleh pelayan.
"kenapa wanita banyak sekali jenisnya sih? dia sangat keras kepala" gerutu Arlendra saat merasa jika wanita Tama ini sungguh merepotkan sekali.
Kalau saja dia bisa meminta. Lebih baik duduk didepan komputer untuk bekerja dari pada menemani wanita yang tampak mengerikan itu.
Pria tampan yang masih betah melajang itu memilih untuk mendekati gadis itu.
Dia akan berusaha membuat Elza menuruti ucapannya, meski sepertinya itu hal yang mustahil terjadi "ehem"
Elza hanya diam. Dia memilih untuk memperhatikan laut lepas yang ada dihadapannya saat ini.
"apa kau tidak lelah duduk diam disini dari pagi? bahkan kau membuat para maid kerepotan untuk membawakan makanan untukmu kemari tapi kau sama sekali tidak menyentuh makanan itu, kau itu sama sekali tidak menghargai mereka" sinis Arlendra berucap.
Elza melirik sinis pria yang tengah menggerutu itu "aku tak menyuruh mereka melakukan itu" jawabnya acuh.
Arlendra menoleh kearah meja yang sengaja para pelayan bawa kesana untuk menaruh makanan yang satu jam lalu dihidangkan "kau tau nona, aku baru kali ini melihat gadis sekeras kepala dirimu"
Elza hanya diam. Dia yang tengah duduk dipasir meletakkan kepalanya di lutut "aku tidak peduli"
"aish.." karena Arlendra telah kehilangan kesabaran. Pria itu berjalan mendekati Elza dan menarik tangannya.
"kau!" ucap Elza saat pandangan mata mereka bertemu. Dia melirik tangannya yang digenggam oleh Arlendra "lancang!"
Arlendra tidak peduli. Dia menarik Elza dan segera mendudukannya dikursi.
"apa yang kau lakukan?!" ucap Elza tidak terima dipaksa seperti itu.
"makanlah! apa kau tidak memiliki rasa kemanusiaan hah?! lihat para maid itu!" Arlendra menunjuk beberapa wanita yang berdiri berjejer didepan Villa.
Gadis itu menoleh kearah tempat yang Arlendra tunjuk "mereka harus dihukum karena tidak berhasil memberimu makan! mereka semua juga tidak diperbolehkan makan oleh tuan Tama kau tahu?! bahkan mereka semua harus berdiri disana sepanjang hari"
__ADS_1
Mata Elza membola, dia tidak menyangka jika Tama bisa sekejam itu. Melampiaskannya pada para pekerja yang tidak tahu apa-apa.
"kau tahu bukan betapa beratnya tugas mereka? apa kau tidak merasa kasihan?!"
Elza menunduk. Dia tentu merasa bersalah telah membuat mereka semua dihukum hanya karena dirinya. Tangannya terulur untuk meraih makanan yang sudah terhidang dimeja.
Arlendra menyeringai. Ternyata menghadapi gadis keras kepala ini tidak bisa dengan paksaan. Dia harus menyetujui apapun atas kemauannya sendiri. Dan dia telah mendapatkan senjata untuk membuat gadis ini patuh. Meski jika dilihat gadis ini keras kepala tapi Elza ternyata memiliki hati yang lembut.
Gadis ini rela makan demi orang lain agar tidak menderita "ternyata dia tidak seburuk itu" batin Arlendra.
Pria itu menyernyit "apa makanannya tidak enak?" tanya Arlendra saat melihat Elza menghapus air mata yang menetes tiba-tiba. Pria itu merasa iba melihat kesedihan gadis ini. Meski dia tahu akar permasalan mereka tapi dia tidak ada kuasa untuk sekedar memberi tahunya.
Elza menggeleng "katakan pada pria jahat itu jika aku sudah makan, bebaskan mereka semua. Mereka tidak tahu apa-apa"
Arlendra mengangguk. Dia memilih untuk meninggalkan Elza yang tengah menyantap makanannya meski tampak tidak bernaf-su untuk melahapnya..
**
Sudah dua hari Elza berada dipulau ini. Dan Tama sama sekali belum memperlihatkan batang hidungnya sama sekali. Karena hal itu Arlendralah yang terus diteror oleh gadis itu sepanjang hari.
"Kau sadar apa yang sedang kau bicarakan nona?!" ucap kesal Arlendra setelah dua hari ini mendengar rengekan dan makian dari Elza. Untung saja gadis ini tidak melakukan hal anarkis sehingga Arlendra masih berbaik hati untuk tidak mengikat gadis ini.
"aku sadar sekali. Bagaimana kalau kau kuberi uang tuan? berapapun akan kuberikan, meski aku harus berhutangpun aku rela. Asal aku bisa bebas dari sini."
Arlendra menatap malas Elza saat mendengar jika gadis ini hendak menyuap dirinya "apa aku kelihatan semisikin itu?"
"ayolah tuan.. aku akan berterimakasih sekali pada anda jika anda mau membantuku, tuan jasamu akan selalu kukenang. Percayalah" ucapnya mulai melantur saking strees nya.
Arlendra menatap jengah Elza "apa kau pikir aku ini pahlawan nasional?"
"tentu saja. kau tahu tuan aku akan memberikan apapun maumu. Aku berjanji" masih mencoba untuk bernegosiasi tapi masih saja diabaikan oleh Arlendra.
__ADS_1
Elza mengacak rambutnya sampai berantakan. Gadis itu bahkan duduk dilantai saat ini saat bujuk dan rayunya tidak digubris oleh Arlendra.
"ck.. kau lakukan kegiatan apa sana! daripada duduk seperti gelandangan seperti itu!"
Elza menatap kesal Arlendra. Sumpah, dia ingin sekali meracuni bawahan Tama itu yang selalu berbicara seenaknya sendiri.
"kalian membuatku frustasi.. bagaimana kalau nanti aku benar-benar gila?!"
"tinggal taruh dirumah sakit jiwa. Apa susahnya?"
"aaaahhhhhkk... kau menjengkelkan sekali" pekik Elza saat merasa kesabarannya telah habis. Dia berdiri dan menarik kaos yang Arlendra kenakan "lepaskan aku sialan!" kembali ke mode bar-bar setelah usahanya untuk bernegosiasi gagal.
Arlendra yang sudah jengah mencengkeram tangan Elza "kau mau membuat kesabaranmu habis hah?!"
Elza terdiam. Dia merasa takut melihat tatapan Arlendra yang marah seperti itu.
"diam atau akan ku bun-uh kau!! "
Mata Elza membola mendengar ancaman Arlendra. Dia menampik tangan Arlendra dan mundur beberapa langkah.
"kenapa? kau takut?"
Elza menelan saliva nya susah payah saat mendengar ucapan Arlendra. Apalagi melihat seringai tipis dibibir pria itu seperti seorang psycopat membuat Elza takut.
"kalau kau terus menggangguku dan membuatku kesal. Akan kumutilasi tubuhmu itu lalu kucincang halus untuk memberi makan ikan dilaut. Tidak akan ada yang tahu apa yang kuperbuat. Disini sangat aman untuk melakukan apapun"
"kyaaaa... kau mengerikan sekali" pekik Elza. Dia semakin mundur beberapa langkah menghindari Arlendra.
"hahaha sekarang kau baru merasa takut? mana keberanianmu saat memakiku sedari kemarin?"
"dasar kau jahat!! sama seperti tuamu yang breng-sek itu!"
__ADS_1
"siapa yang kau sebut breng-sek?!"
Mata Elza terbelalak saat mendengar suara seseorang, seseorang yang dia kenali.