
Tama telah selesai bersiap untuk pergi kekantor, dia membawa tas kerjanya keluar dari kamar.
Dengan langkah pasti pria itu berjalan menuju ruang makan, ruangan itu tampak sepi tapi diatas meja sudah tersedia sarapan dan satu gelas susu.
"dimana gadis itu?" bergumam palan, Tama meletakan tas kerjanya dikursi kemudian mencari Elza didapur.
Tapi gadis itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya.
Tama memutuskan untuk kembali keruang makan dan duduk dikursi, dia mengira bahwa Elza berada dikamar mungkin.
Tapi arah pandang pria itu tertuju pada secarik kertas yang tergeletak dibawah gelas susu, dia mengambilnya kemudian membacanya.
Sudit bibirnya tertarik keatas "apa dia semalu itu sampai pergi tanpa berpamitan?" menggeleng sembari terkekeh setelah membaca secarik surat dari Elza yang mengatakan dia harus berangkat lebih pagi karena tiba-tiba jam kelas dimajukan oleh dosen.
Senyum Tama semakin lebar saat membayangkan wajah merah Elza tadi pagi saat dia memojokannya "dia imut sekali, sangat menggemaskan"
Tama akhirnya sarapan sendiri, dan setelah itu pergi kekantor.
**
Di kampus, Elza berjalan cepat menuju kelasnya.
Hari ini kelas tidak dimajukan, dia hanya memberi alasan saja pada Tama karena masih malu menatap wajah pria itu, padahal seharusnya dia marah karena semalaman dipeluk oleh pria itu.
Tapi saat bangun malah dirinya yang dipojokan dan sialnya dia tak memiliki bukti apapun untuk dia perlihatkan pada Tama soal semalam, yakali Elza mau menggoda pria yang menurutnya brengsek itu, sungguh tak sudi bukan?
Grep
Tangan Elza tiba-tiba dipegang dan dicekal oleh seseorang "ahhkk" pekiknya karena tangannya ditarik dan disentak oleh orang tersebut hingga Elza berbalik badan dan langsung menubruk dada orang itu.
Elza mendongak dan tatapan matanya satu kontak dengan orang tersebut "Davin!" ucapnya memekik, dia mendorong dada bidang Davin tapi bukannya terlepas malah sekarang pemuda itu memeluk pinggangnya dengan erat.
"apa yang kau lakukan?!" ucap Elza tak terima.
Davin menatap netra Elza dengan pandangan yang serius "ada hubungan apa lo dengan pria kemarin?"
Alis Elza menyernyit, oh ternyata Davin menanyakan soal Tama, dia sebenarnya juga begitu penasaran ada hubungan apa antara Davin dan Tama karena kemarin dia sempat terkejut saat Davin memanggil Tama dengan sebutan bang.
"siapa?" tanya Elza berpura pura.
"jangan berlagak bodoh! lo tahu siapa yang aku tanyakan barusan" ucap Davin mulai ketus.
Elza menghela nafasnya dengan kasar "kalau begitu lepaskan tanganmu itu! elo berani-beraninya mengambil kesempatan dariku! dasar kep*rat!"
Bukannya melepaskan Davin justru semakin erat memeluk pinggang ramping gadis itu "jawab dulu!"
__ADS_1
"apa kau tidak malu menjadi pusat perhatian begini?"
Davin menyernyit, lalu menoleh kekanan dan kiri, ternyata benar kalau saat ini mereka berdua menjadi pusat perhatian semua mahasiswa "aku tak peduli" ucapnya acuh.
"lepaskan atau lo nggak akan pernah mendengar jawaban dariku!"
Davin mendengus kemudian melepaskan pinggang Elza, dia menarik tangan gadis itu pergi.
Ternyata Davin mengajak Elza pergi ketaman belakang kampus yang jarang sekali ada mahasiswa yang datang, meski ada tapi sepagi ini tentu taman akan kosong dan tak ada seorangpun di sana.
"aihh.. kenapa mengajakku duduk disini? sudah sepi tak ada makanan lagi, aku lapar tau!" keluh Elza, sejujurnya dia memang merasa sangat lapar karena tak sempat sarapan guna menghindari Tama.
Davin tampak membuka tas yang dia kenakan lalu memberikan satu plastik dan menyerahkannya pada Elza.
"apa itu?" tanya Elza dengan alis yang mengkerut, dia tak mau menerimanya.
Davin meletakan bukusan itu dipangkuan Elza "makanlah!"
Elza membuka kantung itu, dan alisnya menyernyit lagi saat melihat sandwich dan dua cup coffee kaleng "lo bawa bekal?"
Davin mendengus "itu beli dimini market tadi, niatnya mau buat sarapan gue, tapi tak ada salahnya kan memberi orang yang kelaparan?"
Sekarang Elza yang mendengus, dia membuka pembungkus roti isi itu "nah"
Davin mengerutkan keningnya saat Elza mengulurkan satu potong sendwich yang memang berisi dua itu kehadapannya.
Davin tergelak dia menerimanya "terimakasih"
Elza juga tergelak "sama sama"
Mereka menikmati sendwich itu bersama setelah selesai mereka meminum coffee kaleng itu, tadi entah kenapa Davin malah mengambil dua kaleng saat membeli, ternyata dia akan meminumnya bersama Elza.
Sudut bibirnya tertarik, dia senang sekali.
ehem
Elza menoleh saat mendengar suara deheman Davin.
"sebenarnya lo ada hubungan apa dengan nya?" tanya Davin.
"kenapa memang? apa itu penting untukmu?" bukannya menjawab Elza malah memberi pertanyaan.
"tidak terlalu penting kok, gue hanya penasaran saja"
"kalau tak penting berarti aku tak perlu menjawabnya kan?" ucap Elza santai, dia menarik sudut bibirnya saat melihat Davin tampak kesal "dan lo sendiri, ada hubungan apa antara elo dan tuan Tama?"
__ADS_1
"tuan? apa elo sugar baby nya?"
plak
Elza menepuk kening Davin karena kesal "asal bicara saja!"
"lalu apa?" keluh Davin, dia mengusap keningnya yang sebenarnya tak sakit sama sekali.
"kan gue yang tadi nanya, lo punya hubungan apa dengan tuan Tama? hisshh kenapa jadi menjudge gue begitu" keluh Elza.
"maaf, bukan maksudku begitu tadi aku salah bicara"
Elza menghela nafasnya panjang "gue enggak ada hubungan apapun dengannya, hubungan gue dengannya hanya antara bawahan dan boss saja" ucapnya jujur.
Davin mengangguk "lo kerja apa memangnya?"
"gue tinggal diapartemennya ---"
"kan! apa yang gue bilang tadi benar kalau elo itu sugar babynya " ucap Davin memekik.
Elza membekap mulut Davin "diam! belum juga gue selesai bicara lo udah potong duluan!" keluh Elza.
Davin menatap wajah cantik Elza yang sekarang cukup dekat dengannya, ada perasaan aneh yang tiba tiba dia rasakan, badannya terasa seperti tersengat aliran listrik tegangan kecil saat tangan lembut gadis itu membekap mulutnya.
deg
deg
deg
Jantungnya pun berdisco ria.
"lo kenapa?" tanya Elza khawatir saat melihat wajah Davin yang memerah.
"oy.. kalian pacaran ditempat yang sepi begini, mau berbuat mesum ya?!" pekikan seseorang yang berada dibelakang Elza dan Davin.
Elza terperanjak karena terkejut, dia menarik tangannya dan kemudian menoleh kebelakang.
"panik nggak? panik nggak? ya panik lah masa enggak! hahaha" tawa seseorang yang tadi dengan iseng memekik dan mengagetkan dua orang yang dia kira sedang pacaran itu.
"Vino!" pekik Elza, dia berdiri dan kemudian berkacak pinggang "belum puas tertawa?"
"hahaha.. belum hahaha" masih tertawa terbahak dia.
Elza yang kesal akhirnya pergi begitu saja, padahal dia belum mendapatkan jawaban yang dia inginkan dari Davin.
__ADS_1
"oy Elz.. lo marah?" pekik Vino dia mengejar Elza yang sudah semakin jauh.
**