DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
teman


__ADS_3

Elza keluar dari dalam cafe dalam keadaan kesal, dia berjalan menuju parkiran dimana mobilnya berada. "menjengkelkan sekali!" pekiknya lalu ia menendang kaleng bekas yang tergeletak dibawah.


plak


"aww.."


Elza terkesiap saat menyadari jika ulahnya ternyata mengenai seseorang "astaga.." dia segera mendekati orang tersebut. "maaf, tidak senga-- eh-" ucapannya terpotong saat menyadari jika orang yang terkena Keleng itu dia kenal.


"oh my God .. ternyata kau yang menendang kaleng ini sampai mengenai kepalaku! kurang ajar sekali Lo Elz..!!" sungutnya dengan kesal, dia juga mengacak-acak rambut Elza dengan gemas karena jengkel.


"maaf ya, gue nggak sengaja. Kalau tahu itu Lo Vin, sumpah gue bakalan ngincer wajah jelek Lo ini" ucap Elza sembari merapikan rambutnya yang berantakan.


"sialan Lo!"


Elza hanya acuh dan kemudian berjalan menuju mobilnya.


"oi.. Lo mau lari dari tanggung jawab ya? kepala gue sakit ogeb!"


Elza menoleh dan menatap teman kampusnya itu "ck.. nggak sampai benjol kan? dasar lemah!"


"ish.. kau menyebalkan sekali sih Elz.. btw Lo kemana aja akhir-akhir ini nggak pernah masuk kekampus?"


"gue ada urusan, gue pulang dulu ya, byee.." ucap Elza sembari masuk kedalam mobil, lalu ia terkejut saat melihat Vino juga masuk kedalam mobilnya "hey.. bocah kecil! keluar Lo dari mobil gue!"


"ck.. gue ini seumuran dengan elo Elz! jangan menghina rupa gue yang selalu awet muda seperti itu!"


"Lo emang kayak bocah! sana keluar!" ujarnya sembari mendorong tubuh Vino agar keluar dari mobilnya.


"ck.. gue bukan bocah ya! gue itu pria imut dan cute nggak kaya wajah Lo yang boros!"


"pergi"


"nggak mau, gue mau ikut kemanapun Elza Rose Arabella pergi" ucapnya dengan keras kepala, ia melipat tangannya didepan dada.


"kenapa Lo ngeselin banget sih Vin!"


Vino menoleh kearah Elza, dia menatap dengan polos wajah cantik temannya itu "gue ikut ya Elz.. please..." ucapnya sembari menautkan tangannya didepan dada.


"sialan.. kenapa dia bisa imut seperti ini sih! kayak kelinci" batinnya berucap. Lalu ia menghela nafasnya lelah saat merasa kalah telak.


"gue mau pulang! Lo mau gue anter kemana?"


"ikuuut Lo aja titik!"


"mau gue tonjok hah?!"


Vino terkikik geli "hihihi.. gue serius Elz, gue mau ikut elo pulang"


Elza menatap Vino dengan pandangan aneh "masa gue bawa berondong kaya elo kerumah, bisa kena gosip gue nanti"


"berondong? hahahah.." tawa Vino pecah mendengar ucapan Elza. "nggak akan kena gosip, bilang aja gue adik elo"


"dasar bocah gila!"

__ADS_1


"biarin..." ucap Vino tidak peduli, dia memakai saltbelt dan duduk dengan tenang.


"Ya Tuhan.. mimpi apa semalam bisa sampai bertemu dengan bocah jelek menyebalkan ini"


Vino tidak peduli, meski sebenarnya dia merasa kesal sekali.


Elza menghela nafasnya lelah, lalu meraih ponsel yang ada disaku hoodie nya.


Menekan-nekan ponsel tersebut lalu ia menempelkan nya ditelinga.


Sepertinya Elza hendak menelfon seseorang. Batin Vino.


"kerumah sekarang, gue nggak mau ada gosip miring saat gue pulang bawa seorang anak kecil ke rumah! nanti gue dikira penculik lagi"


"maksud elo apa?"


"Lo kerumah sekarang, nanti elo juga tahu"


"oke"


"siapa yang elo telfon? Lisa?" tanya Vino saat sambungan telefon tersebut telah berakhir.


"siapa lagi.." ucap Elza terdengar malas.


Vino mengangguk "bisa ditebak sih.. Elo kan hanya punya satu teman"


"ngapain punya banyak teman tapi tidak tulus? lebih baik punya satu tapi dia mengerti kita, menyayangi kita dan yang terpenting dia bukan musuh dalam selimut." ucapnya sembari menjalankan mobilnya keluar dari area parkir.


"benar juga sih.. semakin dewasa kita semakin sedikit sircle pertemanan kita. Kita hanya memiliki sedikit teman yang benar-benar mengerti bagaimana kita" ujar Vino membenarkan ucapan Elza.


"bukan urusan elu"


"ck.. ayolah Elz.. Kitakan bestie" ucap Vino terdengar seperti rengekan.


"bestie? hahaha ngaku-ngaku Lo!"


"ck.. Lo emang menyebalkan ya jadi manusia!" gerutu Vino. Tapi hanya sebentar karena dia itu tipe pemuda yang ceria. "Elza. Lo tadi kenapa? kelihatannya marah?"


Elza melirik Vino sekilas. Sudah pasti Vino tahu jika tadi dia kesal. Wajahnya sampai memerah dan lagi ia menendang kaleng bekas dan sialnya sampai mengenai kepala Vino. Sampai dia ikut pergi bersamanya. "hmm.. ada seseorang yang membuatku kesal"


"siapa?"


"gue juga nggak kenal.." ucapnya dengan jujur karena ia memang tak mengenali siapa wanita yang tadi menyuruhnya untuk meninggalkan Tama. Dan karena hal itulah ia merasa kesal dan marah.


"oh.. kenapa tadi Lo nggak bilang kalau ada yang membuatmu marah! bisa aja kan gue tonjok mukanya"


"hahaha" tawa Elza pecah saat mendengar ucapan serius Vino. Terlihat lucu sekali.


"nah gitu dong ketawa, lo jauh lebih cantik saat senang Elz"


Elza menoleh dan menatap mata Vino sebentar lalu ia kembali fokus kejalan "jangan-jangan elu naksir gue ya Vin?"


"hah?" Vino menganga mendengar ucapan Elza "hahahaha.. jangan kepedean ya! Lo itu bukan selera gue"

__ADS_1


"lalu kenapa Lo deketin gue terus?"


Vino menatap wajah cantik Elza "sebenarnya gue nyaman aja deket-deket sama Lo, bukan karena suka apalagi cinta tapi menurut gue Lo itu gadis yang baik meski sering berbicara ketus seperti itu. Gue suka karakter elo yang blak-blakan dan apa adanya. Nggak kaya cewek-cewek yang bermuka dua dikampus"


Elza mengangguk , dari ucapan Vino terdengar jujur. Setelah itu tak ada lagi obrolan antara kedua orang itu.


Sampai mobil sampai didepan rumah Elza "turun Lo! bukain gerbangnya"


"ck.. merepotkan sekali" gerutu Vino tapi ia menurut, dia turun dan membukakan pintu pagar yang tidak terlalu tinggi itu.


Elza keluar dari mobil dan menatap aneh Vino yang tengah bengong didepan gerbang "Vin.."


Vino terkesiap karena tadi ia sedang melihat keseberang rumah Elza "ya sebentar, gue tutup gerbangnya dulu" setelah tertutup dia menghampiri Elza.


"Elza.."


Elza yang tengah membuka kunci rumahnya menoleh "apa?"


"Lo nyawa bodyguard ya?" tanya Vino, tadi ia sekilas melihat orang yang memperhatikan dirinya. Dan saat didepan cafe juga dia menyadari jika Elza sepertinya dijaga oleh seseorang dari jauh.


Vino memiliki ketajaman dan kepekaan yang bagus sehingga ia menyadarinya.


"enggak, emang kenapa?"


Vino mengeleng "nggak papa" ucapnya lalu ia meringiskan giginya seolah tak ada apa-apa.


"ish.. dasar bocah aneh" ucapnya sembari berjalan masuk kedalam rumah.


"kalau bukan bodyguard lalu siapa? apa jangan-jangan orang jahat?" batin Vino masih penasaran.


"Lo disini dulu, gue mau ganti baju"


"mau gue temenein?"


Elza melotot lalu mengangkat kepalan tangan didepan wajah Vino.


"hahaha.. gue bercanda ya elah. Lo baperan amat."


Elza kemudian pergi meninggalkan Vino.


"Lo ada makanan? gue laper nih" pekik Vino saat Elza sudah berjalan cukup jauh.


Elza menoleh "Lo nggak punya malu ya Vin?"


"hehehe.. gue kan adik elo yang manis, masa Lo tega adik ganteng macam gue kelaparan dirumah ini"


"ck.. sana kedapur!"


"yeaay.. thank you Elza syantik" ucap Vino dengan senang lalu ia berlari menuju dapur.


Mereka berteman baru beberapa bulan, dan dalam jangka waktu itu mereka berdua dan juga Lisa cukup dekat.


Vino yang karakternya ceria dan baik tentu saja akan sangat mudah dekat dengan siapa saja.

__ADS_1


Begitupun Elza dan Lisa yang merasa nyaman berada didekat Vino. Apalagi pemuda itu juga sangat terbuka dengan mereka. Menceritakan semuanya masalahnya sehingga mereka menjadi semakin dekat.


***


__ADS_2