DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
gadis cilik


__ADS_3

Seperti biasa saat Elza berada didalam rumahnya. Dia akan menghabiskan waktunya didalam kamar.


Dia duduk dikursi tempat biasanya ia belajar. Meraih leptop dan kembali mencari tahu tentang Nicola Neil. Pria baji-ngan yang telah menghancurkan kakaknya sampai ia depresi dan bunuh diri.


Dia melihat kegiatan apa saja yang selalu ia posting diakun media sosial miliknya. Meski kebanyakan adalah foto-foto syur nya bersama wanita, tapi ada beberapa foto yang ia unggah saat ia sedang bersama dengan rekan-rekan kerjanya.


"sepertinya aku harus meminta bantuan kak Tama agar aku bisa melihat pria baji-ngan ini" gumamnya ketika mengingat pria itu bekerja dibawah perusahaan miliki suaminya.


Dia akan kesulitan bertemu karena ia bekerja di lapangan. Jika dilihat dari foto-fotonya, Nicola sering kali berpindah-pindah tempat saat bekerja.


Elza memang harus meminta bantuan Tama agar ia bisa melihat bagaimana pria itu sebenarnya. Selain itu, ia juga akan mencari bukti supaya ia bisa menyeretnya untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya.


Akan ia bicarakan hal ini saat nanti Tama pulang saja. Rasanya tubuhnya merasakan lelah, sehingga ia memilih untuk ambruk dikasur saja.


**


Hari semakin siang, Elza yang awalnya hanya mau tiduran pada akhirnya benar-benar tertidur.


Dia bangun karena terkejut mendengar suara bel rumahnya berbunyi.


Karena penasaran, akhirnya Elza berjalan gontai keluar dari kamar. Melangkah dengan malas menuju pintu utama.


Elza membuka pintu, dia menatap pemuda yang berdiri dengan wajah cerianya. Siapa lagi kalau bukan Vino.


Lalu ia menunduk saat menyadari jika pria itu tak datang sendiri. "dia siapa Vin? anak Lo?"


Gadis cilik itu mendengus "mana ada plia kecil memiliki anak. Tante ini ngawul ya kak.." ucapnya dengan cadel. Bibirnya yang kecil memberengut setelah berucap. Sangat lucu sekali.


plak


Elza memukul lengan Vino membuat pemuda tampan yang katanya memiliki wajah babyface itu terkejut.


"dia anak siapa? Lo nggak nyulik dia kan?"


"Lo ngawur deh Elz! dia keponakan gue!" gerutu Vino sembari mengusap lengannya yang terasa panas.


Elza mengangguk "lalu kenapa Lo bawa dia kemari?" tanyanya penasaran.


"kenapa elu natap gue kayak gitu? mencurigakan sekali" gerutu Elza ketika ia merinding saat Vino menatap wajahnya dengan manis.


"bantu gue jaga dia ya? gue ada perlu. Sebentar saja." ucapnya memohon.


"Lo gila ya?! Lo kira ini tempat penitipan anak apa"


"Tolonglah Elz.. Gue mohon jagain dia ya? Dia kesayangan bang Tama loh" ucap Vino memohon dan diakhiri dengan kata-kata yang bisa ia gunakan sebagai senjata.

__ADS_1


Dan benar saja, Elza tampak tertarik. Dia menunduk dan menatap wajah polos gadis kecil ini "apa Lo nggak takut gue gadaikan nih bocah?"


Gadis cilik itu tampak mendelik, dia menatap kesal Elza.


"hahaha" tawa Elza meledak. Melihat bagaimana lucunya gadis kecil itu.


"jangan sembarang bicara, dia bisa mengamuk" bisik Vino pada Elza.


"aku mendengalnya uncle!"


"oh keponakan ku yang cantik mendengar rupanya. Maaf sayangku, tapi bisakan jangan manggilku uncle? itu terdengar menjengkelkan sekali. Panggil aku kakak tampan oke?"


Gadis itu memutar bola matanya malas "pelgilah uncle! aku akan menunggumu disini"


"good girl.. tolong jaga dia ya Elz, please" ucap Vino memohon, dia mengatupkan kedua tangannya didepan dada.


Elza menghela nafasnya panjang "pergilah"


Vino terlonjak senang, dia hampir saja kelepasan memeluk Elza. Tapi dengan sigap, Elza menahan tubuh Vino. "jangan berani-berani!"


"ck baiklah.. gue tahu Lo sekarang sudah punya suami" ucap Vino diakhiri dengan nada penuh tekanan.


"Lo tahu?"


Sudah bisa Elza duga, Lisalah yang telah memberitahukan hal ini pada Vino.


"Selamat ya Elza semoga elo bahagia bersama buaya darat seperti bang Tama. Buruk banget nasib elo sumpah Elz.." Vino memberi selamat sembari menahan tawanya.


Elza mendengus, dia menatap jengah Vino yang memberi nya selamat sekaligus mengejeknya.


"hahaha.." tawa Vino akhirnya meledak "Lo mau hadiah apa? mau gue kasih kondo--"


plak


"aw.." Pekik Vino. Vino juga terbelalak saat tiba-tiba saja Elza menepuk mulutnya.


Elza melirik gadis kecil yang sedang mendongak mendengarkan percakapan mereka berdua. Dia sengaja memukul mulut pria ceroboh ini yang hampir saja memberikan kosa kata baru yang pasti nantinya akan sangat merepotkan jika gadis kecil nan polos itu bertanya.


"oh ya ampun.. hampir saja gue kelepasan bicara! kalau sampai kak Valey tahu, matilah gue!" gumam Vino sembari memukul pelan bibirnya beberapa kali.


"sayangku.. kakak pergi dulu, kamu bersama aunty Elza dulu ya? kamu jangan nakal oke?" ucap Vino sembari ia berjongkok didepan gadis kecil itu.


"jangan lama-lama! kalau pulang jangan lupa pesananku. Esklim sepuluh" ucap gadis kecil itu sembari mengangkat tangannya, merentangkan jari-jari nya didepan wajah Vino.


Vino tersenyum dan mengangguk. Dia kecup pipi gembul milik keponakan nya.

__ADS_1


"uncle! jangan menciumku! aku ini seolang gadis ingat"


Elza hampir saja tertawa mendengar bentakan dari bibir keponakan Vino.


"hahaha... iya maaf" ucap Vino sembari menoel dagu keponakannya yang imut itu.


Vino berdiri dan beralih menatap Elza "gue titip bentar ya?"


Elza mengangguk "iya bawel, pergi sana! jangan lupa gue juga mau esklim sama sepeltinya. Sepuluh"


Vino kembali tetawa saat Elza menirukan ucapan keponakannya itu "apapun untuk Elzaku yang cantik" dia menoel dagu Elza lalu lari. Takut jika gadis itu akan memakinya.


"aunty.. Aku haus"


Elza menundukkan tubuhnya. Dia membopong tubuh gempal keponakan Vino. "ayo masuk, akan aunty ambilkan minum"


Gadis cilik itu mengangguk. Dan membiarkan wanita itu membopong tubuh nya.


Setelah minum, Elza membawa gadis cilik ini untuk duduk diruang tengah. Tempat dimana ia sering menghabiskan waktu ditempat itu jika sedang bersama dengan Vino dan Lisa.


Mendudukkan gadis kecil ini disofa, sedangkan ia duduk dilantai mensejajarkan tubuhnya agar sama tingginya dengan gadis kecil ini.


"kita belum berkenalan kan?" tanya Elza memecah keheningan yang ada.


"oh iya aku sampai lupa. Namaku Queen" ucap gadis cilik itu sembari menyodorkan tangannya didepan Elza.


Elza terkekeh melihat reaksi gadis kecil ini. Dia menjabat tangan mungil milik gadis yang mengaku bernama Queen itu "namamu sangat cantik. perkenalkan ya.. nama aunty Elza" ucapnya sedikit kaku, karena ini pertama kalinya ia berinteraksi dengan begitu intens dengan anak kecil.


"apa hanya namaku saja yang cantik? semua olang bilang wajahku juga cantik"


Elza terkikik mendengar ucapan protes dari Queen "tentu saja. Queen sangat cantik"


"telimakasih, aunty juga cantik tapi masih cantikan aku" ucapnya dengan sombong, dia menepuk dadanya dengan bangga.


Elza tergelak lalu mengusap kepala Queen dengan lembut


"dimana mom dan dad Queen? kenapa Queen bisa bersama dengan uncle Vino"


"celitanya panjang sekali, apa aunty mau mendengal?"


Elza mengangguk dengan semangat "tentu saja mau"


Queen mengangguk. Dia mulai menceritakan jika mom dan dad nya sedang bekerja. Dan saat dia melihat Vino, Queen merengek minta ikut ketika melihat unclenya hendak pergi.


Elza mendengarkan sembari menahan tawanya. Gadis cilik ini sungguh pintar sekali. Celotehan Queen membuat Elza terhibur. Bahkan ia merasa tak kesepian setelah Queen datang.

__ADS_1


__ADS_2