DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
tentang persaan


__ADS_3

Raka duduk dihadapan Tama dengan wajah sedikit pias "tuan"


"hmm" Tama berdehem dengan wajah malas, dia kesal sekali tadi melihat Raka yang berjabatan tangan dengan Elza.


"tadi itu pembantu baru?"


"ck" berdecak dan tak mau menjawab.


Raka membuang nafasnya panjang, dia menatap serius wajah Tama yang masih tampak kecut sekarang "saya tadi hanya berkenalan saja tuan" menjelaskan agar Tama tak marah lagi.


"siapa yang nanya?! " jawab Tama cuek, dia menyandarkan tubuhnya disofa.


"tidak ada, tapi kelihatannya anda kesal karena tadi saya--"


"cukup!" mengangkat satu tangan untuk memotong ucapan Raka "mau apa lu kemari?"


Raka meletakan map diatas meja "ini data yang anda minta"


"data apa?" tanya Tama penasaran, dia lupa apa yang dia minta pada asistennya itu.


"ini adalah data diri semua pacar anda, semuanya! tak ada yang terlewat"


Tama mengangguk, dia meraih map tersebut dan membukanya.


"sebenarnya ini untuk apa tuan? apa yang sedang anda rencanakan?"


Tama mendongak dan menatap malas Raka "kepo dengan urusan bos tak baik loh" ujarnya memperingatkan.


Raka menghela nafasnya lagi, dia menatap kesal Tama "sebenarnya sekarang bukan jam kerjaku, jadi anda bukan boss saya sekarang" jawabnya cuek.


"issh.. ya ya lo itu teman gue yang bodoh!"


Raka mengabaikan ucapan menyebalkan temannya itu, dia mendengar derap langkah kaki mendekat membuatnya menoleh kesumber suara.


Ternyata itu adalah Elza yang datang dengan membawa baki berisi dua coffee dan camilan, dengan senyum yang terukir diwajah cantiknya Elza meletakan cangkir coffee dihadapan Tama dan Raka "minumannya tuan tuan"


Raka mengangguk, dia memandang wajah cantik Elza "terimakasih"


"sama sama" dia melirik Tama yang hanya diam saja, dan matanya melihat berkas yang ada didepan Tama yang tergeletak diatas meja. "kak Zara!!" batinnya berseru, wajahnya memucat melihat ada foto kakaknya disana.


"kamu kenapa?" tanya Raka penasaran, dia melihat raut wajah Elza yang berubah dengan begitu drastis.

__ADS_1


Tama yang tadi sedang menyandarkan tubuhnya, meluruskan tubuhnya dan ikut melihat wajah Elza yang tampak menegang, dia melihat Elza yang melirik map yang ada diatas meja. "shiit!!" batinnya mengumpat, lalu dengan gerakan cepat menutup berkas tersebut.


"el"


"ahk ya?" dia menoleh kearah Tama yang memanggil namanya.


"ada apa?"


Elza yang tersadar telah diperhatikan oleh kedua orang pria itu meringiskan giginya "tidak, saya permisi tuan" pergi dengan cepat meninggalkan ruang tamu.


"pembantumu aneh sekali" ucap Raka mengomentari, dia meraih cangir coffee dan menyesapnya perlahan.


Tama mengangguk, dia juga sebenarnya melihat keanehan gelagat Elza barusan "apa dia melihat tadi?"


"tuan"


Tama yang masih sibuk memikirkan Elza tak mendengar saat Raka memanggilnya.


"tuan"


"tuan"


braak


"apa yang anda fikirkan sampai tak mendengar saya memanggil, sudah hampir sepuluh kali loh saya memanggil anda" dustanya berucap.


"lebay !!"


"ck! sebenarnya anda kenapa sih? dari tadi melamun?"


Tama menghela nafasnya panjang, dia pun bingung kenapa bisa terprovokasi melihat wajah Elza barusan, meraup wajahnya sembari membuang nafas berkali kali.


"anda tampak kacau, apa ingin memanggil seorang wanita untuk menemani anda malam ini?" si asisten bekerja seperti biasa, memberi perhatian meski ini diluar jam kerja.


Tama menggeleng, dia masih saja diam membuat Raka heran "tuan?! sebenarnya anda kenapa?!" akhirnya meledak juga suaranya, dia memekik saat Tama yang tampak aneh sedari tadi.


"gue nggak papa!"


"tapi anda aneh sekali"


"abaikan saja" Tama meraih coffee nya dan menyesapnya pelan.

__ADS_1


"bagaimana bisa saya mengabaikan anda, ini sungguh menganggu" ucapnya menggebu.


"sebenarnya saya heran saat melihat seseorang gadis ada diapartemen ini, dan lagi anda akhir akhir ini tampak tak fokus dan jarang sekali bermain wanita, apa karena gadis itu?" tambah Raka panjang lebar, dia sudah tak bisa menahan rasa penasarannya sedari tadi.


"entahlah" ucapnya lemah, dia pun tak tahu setelah mengenal Elza hidupnya benar benar berubah, dia sudah tak lagi bermain wanita, benar apa yang dikatakan oleh Raka barusan.


"apa dia alasan mengapa anda meminta berkas itu?" tanya Raka sembari menunjuk map yang masih tergeletak diatas meja.


Tama mengangguk ragu, dia masih bingung sebenarnya apa yang akan dia lakukan dengan berkas tersebut.


"anda mencintainya kan?" tanya Raka telak, dia melihat mata Tama yang terbelalak dan dia sudah bisa menyimpulkan sendiri apa yang Tama rasakan.


"gue tak tau" jawabnya pelan dan ragu sembari angkat bahu.


"hahaha anda naif sekali"


"apa maksudmu?!" tanya Tama ketus.


Raka terkekeh lalu menatap serius mata Tama "apa anda berdebar saat menatap matanya? berdebar saat berdekatan dengannya? ada rasa yang berbeda saat anda bersama dengannya dan ini berbeda dengan para pacar jala*g anda"


Tama berfikir sejenak, meski terdengar menyebalkan ucapan Raka barusan dia tetap menganggukkan kepalanya.


"apa hanya dia yang anda fikirkan saat jauh dari gadis kecil itu?"


Tama mengangguk lagi, karena saat dikantor dia ingin sekali cepat pulang agar dapat melihat gadis kecil itu.


"apa tadi anda merasa kesal saat saya memegang tangannya?"


Tama mengangguk, dia sudah tak menutupi apapun dari Raka sekarang karena itulah yang tadi dia rasakan saat melihat hal itu, dia merasa marah tapi tak bisa melarang mengingat dirinya yang tak memiliki hak untuk melarang, dan itu juga yang membuatnya kesal dan merasa uring uringan sedari tadi.


"hahaha sudah jelas sih ini"


"apa?" tanya Tama dengan wajah polos.


Raka menghela nafasnya kasar "anda bodoh sekali tentang perasaan tuan! sudah jelas kalau anda itu mencintainya, dan satu lagi yang membuat saya yakin akan anda adalah anda memperbolehkannya tinggal disini"


deg


Tama terdiam dengan fikirannya, ucapan Raka barusan benar benar terngiang ngiang diotaknya "benarkah gue menyukainya?"


dia kembali memikirkan gadis cantik yang kemungkinan telah masuk kedalam hatinya tanpa dia sadari, beberapa kali Bastian juga mengatakan hal ini tapi masih dia tampik, Tapi kali ini dia seperti disadarkan oleh Raka dengan kata katanya.

__ADS_1


Akan tetapi apa benar perasaannya ini? rasanya dia tidak cukup percaya diri untuk menyatakan perasaannya mengingat betapa brengseknya dirinya.


__ADS_2