
Setelah berpamitan pada pengurus rumah singgah, Tama dan Elza pulang menggunakan mobil.
Mereka berdua masih saja diam dengan pikiran masing masing.
Hari sudah hampir gelap, dan mobil masih melaju membelah jalan kota yang semakin memadat.
Langit yang semula cerah sekarang berubah warna menjadi jingga, hari semakin menggelap mengantarkan matahari menuju keberadaban.
"kak Zara benarkah kakak meninggal karena diperkosa olehnya? tapi mengingat dulu kakak sangat jatuh hati pada pria ini, kalaupun kalian melakukan hal itu pasti karena suka sama suka kan?" Elza sedang meneliti sikap Tama, bagaimana pria itu begitu lembut memperlakukannya, tak ada kebohongan karena dia merasakan ketulusan pria itu.
Melirik Tama sekilas "kalau bukan dia lalu siapa? sangat sulit menggali informasi darinya tanpa membuatnya curiga"
"aku tahu kalau aku tampan el, jangan mencuri pandang terus"
Elza yang tadi sedang melamun terkesiap, dia menoleh kesamping dimana pria tampan itu sedang tersenyum kearahnya "ck.. narsis sekali"
"siapa yang narsis? aku memang sangat tampan" mengusap rambut kebelakang menggunakan tangan kiri.
"kau memang sangat tampan, aku akui itu,! tapi ketampanan mu digunakan untuk berbuat hal yang tercela dan melakukan tindakan asusila pada wanita wanita diluar sana, menjijikan!!"
"hahaha lihatlah wajahmu el, apa kamu ingin muntah?"
Elza mencebikkan bibirnya "tentu saja, ada ya pria yang memiliki tingkat kepercayaan diri seperti anda"
__ADS_1
"itu salah satu kelebihanku.. hahaha" tawa Tama meledak saat melihat wajah Elza yang memberengut. "kendalikan bibirmu el" Tama memperingatkan, jangan sampai dia tak tahan dan berakhir memaksa mencium gadis itu mengingat betapa manisnya bibir Elza yang pernah dia rasakan.
"bibirku kenapa?"
"jangan mencebikkan bibirmu begitu atau aku tak tahan untuk menciumnya" tangannya terulur untuk mengusap bibir lembut gadis cantik itu.
deg
Elza tertegun, dadanya berdebar tiba tiba saat mata Tama menatapnya dengan begitu intens.
"tuaaaan awaaas!"
Tama terkejut, dia mengerem mobilnya saat melihat pengendara sepeda motor yang berhenti karena lampu lalu lintas berwarna merah.
braaaak
Tama yang melihat Elza ketakutan segera membuka saltbelt dan memeluk tubuh gadis itu "it's oke.. it's oke.. jangan takut" pria itu menenangkan gadis yang ada didalam dekapannya.
Elza mengangguk, dia menerima pelukan Tama karena dirinya yang merasa shok akan kejadian tiba tiba tersebut.
"aku tak apa, lebih baik anda menolong dia" menunjuk kearah sepeda motor sport yang tadi mereka tabrak.
Tama urai pelukannya lalu menatap wajah cantik Elza "kamu benar benar tak apa?"
__ADS_1
Elza mengangguk "iya, ayo kita tolong"
Tama mengangguk, dia segera turun dan menolong pengendara sepeda motor itu, mendudukan pria itu disisi jalan dan segera membuka helm pria itu.
Kedua orang yang sedang berhadapan itu saling diam, mereka tampak terkejut dan tak percaya melihat siapa yanga da dihadapannya.
"Davin" pekik Elza, dia mendekati pria yang tak lain adalah teman satu kampusnya yang belakangan ini selalu mengganggu dirinya.
Davin menoleh kesamping, dimana wajah gadis yang beberapa waktu lalu berhasil mencuri perhatiannya ada dihadapannya saat ini, dia memperhatikan wajah Elza dan Tama secara bergantian. "mereka saling kenal?"
"lo nggak papa?" tanya Elza, dia menggoyangkan wajah Davin kekanan dan kiri memastikan wajah pria tampan itu. "untunglah tak ada yang lecet, kalau sampai lecet bisa saja gue diserang fans fanatik elo dikampus"
Davin masih terdiam, dia yang biasanya selalu dicueki oleh gadis itu terkejut saat mendengar ucapan Elza yang lumayan panjang kali ini.
Dan pria itu melihat dengan jelas perubahan raut wajah Tama apalagi sekarang pria itu tampak mengepalkan tangannya disisi tubuh, membuat Davin menyeringai "aduuh kepalaku sakit" ujarnya pelan, dia menjatuhkan kepalanya dipelukan Elza.
Elza memegang kedua pipi Davin "mana yang sakit? jangan jangan tadi kepalamu membentur aspal"
Tama menahan gejolak amarah yang hendak keluar, dia menahan diri agar tak meledak dan menakuti gadisnya "dia baik baik saja! tadi pakai helm"
Elza menoleh kearah Tama "eh iya, tadi elo pakai helm"
"aduh aduh.. sekarang kaki gue yang sakit" mengalihkan perhatian karena ketahuan berbohong.
__ADS_1
Elza yang melihat Davin memekik semakin khawatir, dia melihat memang benar kaki Davin mengeluarkan darah karena dia memakai celana pendek, mungkin tadi membentur aspal saat jatuh. "apa dimobil ada kotak obat tuan?" tanya Elza.
"biar ku ambilkan" Tama menatap tajam Davin saat mata mereka bertemu dan dengan melengos Tama berjalan kearah mobil untuk mengabilkan kotak obat yang dia simpan didalam sana.