
Elza memperhatikan Tama yang tengah berjalan mendekatinya. Sudah beberapa saat setelah ia mengusir dokter Sean tapi pria itu tak kunjung masuk kedalam kamarnya.
Ternyata ia menyiapkan makanan untuknya.
"kamu tidak tidur?" tanya Tama saat melihat Elza yang tengah duduk bersandar pada kepala ranjang.
Wajahnya benar-benar pucat, menandakan jika kesehatan Elza memang tengah buruk saat ini.
Elza menggeleng, dia memperhatikan gerak-gerik Tama. Pria itu meletakan nampan dan air minum diatas nakas. Mengambil mangkuk yang dilapisi piring. Sepertinya ia melakukan hal itu karena merasa makanan yang ada didalam mangkuk panas.
"makan ya? biar aku suapi" ujar Tama sembari mengaduk bibir yang ada didalam mangkuk.
Elza menyernyit melihat makanan tersebut "anda yang memasaknya?" tanya Elza sedikit heran, sebab setahu dirinya didapur tidak ada bahan makanan apapun.
"aku mana bisa masak" ujarnya sembari terkikik "tapi kalau kamu mau memakan masakan ku, lain kali aku bisa belajar dan memasakkan sesuatu untukmu" ucapnya dengan manis, sepertinya ini salah satu kelebihan Tama. Yaitu berbicara manis tanpa canggung dihadapan lawan jenisnya.
"tidak perlu"
Alis Tama menyernyit "kenapa? aku akan menuruti apapun kemauanmu" ucapnya terdengar tulus dan serius.
Dapat Elza rasakan ketulusan dari ucapan Tama barusan "dia memang memiliki mulut yang manis ya?" batinnya berucap. pantas saja banyak sekali wanita yang berada disisinya. Dia memang pandai menyenangkan hati lawan jenisnya dengan kata-kata manis seperti itu.
"ayo buka mulutmu Elz" ujar Tama memerintah, karena sedari tadi gadis itu hanya diam saat ia menyodorkan sendok kedepan mulut Elza.
"benar anda akan menuruti apapun kemauanku?" tanya Elza dengan iseng bertanya.
Tama mengangguk tanpa ragu. Karena apa yang ia ucapkan benar-benar serius.
"kalau begitu berikan mangkok itu, saya bisa makan sendiri" ucap Elza sembari menengadahkan tangan. Dia merasa canggung saat disuapi oleh orang lain.
Dan selain itu detak jantungnya juga bertambah kencang saat Tama memperlakukan dirinya dengan sangat lembut seperti itu.
__ADS_1
Tama hanya diam saja saat mendengar ucapan Elza.
"sepertinya ucapan anda hanya bualan saja ya?" sindir Elza karena melihat raut keberatan Tama.
Dengan menghela nafas panjang, Tama memberikan mangkok yang ada ditangannya dengan sedikit tidak rela. Sebenarnya ia ingin sekali memberikan perhatian pada Elza. Tapi sepertinya Elza memang masih memberi jarak untuknya "aku sungguh belum mengerti dirimu Elz.." batinnya sembari melihat Elza yang tengah makan dengan enggan. Sepertinya ia memang tidak nafsu makan dikarenakan sakit.
Setelah makan, Tama mengambilkan obat untuk Elza dan menyerahkan obat tersebut padanya.
Elza menerimanya dan langsung meminum obat tersebut.
Setelah meminum obat Tama memberikan satu piring buah yang telah dikupas "anda makan juga?" tanya Elza sembari menyodorkan buah tersebut.
Tama tersenyum dan menggeleng"kamu makan saja! aku kan sehat"
"walau sehat anda harus makan buah"
Tama pada akhirnya mengangguk dan meraih satu potong buah apel lalu memakannya.
Setelah itu entah Elza atau Tama tidak ada yang bersuara. Mereka makan dalam diam dengan fikirannya masing-masing.
Elza menoleh saat namanya dipanggil "kenapa? anda mau pulang?"
"kamu mengusirku?" tanya Tama dengan raut wajah sedih.
Elza gelagapan, walau bagaimanapun Tama telah membantunya dengan memanggil dokter. Bahkan pria itu membelikannya makanan tadi, serta buah-buahan yang masih ia makan sekarang "bu-bukan begitu maksudku"
"lalu apa? kamu tadi jelas-jelas menyuruhku pulang. Padahal aku harus menunda pekerjaanku hanya untuk menemanimu disini sepanjang sore. Sekarang sudah malam dan kamu tega menyuruhku pulang?"
Elza menatap wajah Tama , dia menghela nafasnya panjang "apa maksud anda, anda mau menginap disini?" tanya Elza setelah mengerti dari apa yang diucapkan Tama barusan.
Tama mengangguk dengan cepat "iya, aku akan menemanimu malam ini. Aku mana tega membiarkan gadis yang tengah demam sendirian dirumah" ujarnya sembari tersenyum, dia sungguh berharap bisa menginap disana malam ini.
__ADS_1
"aku sudah tidak papa dan aku sudah terbiasa sendiri. Jadi lebih baik anda pulang saja" ucap Elza dengan tegas, bukan tanpa alasan tak membiarkan Tama menginap,walau bagaimanapun Tama sekarang Elza tetap saja takut jika bersama dengannya.
Apalagi pria ini dengan jelas sudah menyatakan cinta padanya. Karena itu juga yang membuat Elza takut, takut jika nanti pria ini menerkam dirinya.
"aku tidak akan berbuat macam-macam sumpah Elz! aku hanya akan menjagamu" ucap Tama dengan serius saat tahu arti dari raut wajah Elza.
"anda bisa kembali besok pagi"
Tama menghela nafas lelah "baiklah kalau begitu.." ucapnya dengan lemah. Tama menarik tangan Elza sampai membuat gadis itu masuk kedalam pelukannya "aku akan pulang, tapi ingat! jika terjadi sesuatu hubungi aku"
Elza memejamkan matanya saat pelukan hangat Tama membuatnya nyaman, dia mengangguk untuk memberikan jawaban.
Tama melepaskan pelukannya, menidurkan Elza dan menyelimutinya juga "aku pulang"
Elza mengangguk "terimakasih"
Tama tersenyum dan mengangguk "tidurlah yang nyenyak" ucapnya lalu ia berdiri dari duduknya. Ingin sekali ia mengecup kening Elza tapi ia sungguh tak memiliki keberanian sebesar itu. Tama hanya berani mengelus rambut Elza sebentar.
Tama melangkah menuju pintu dan kembali membalik badannya "kamu serius tidak mau aku temani Elz?" tanya Tama sekali lagi. Siapa tahu gadis itu berubah pikiran kan?
"pulanglah tuan.."
Tama menghela nafasnya panjang "baiklah.. selamat malam"
klik
Tama mematikan lampu dan keluar dari dalam kamar. "dia sangat berbeda dengan wanita-wanitaku dulu. Mereka semua akan melakukan berbagai hal agar aku terus berada disisinya. Tapi kamu berbeda Elz.."
Kembali menoleh kearah pintu kamar Elza. Menatap lembut pintu seperti sedang menatap wajah cantik Elza yang memiliki pandangan yang teduh "karena itulah aku tertarik padamu... Kamu jauh lebih baik dibandingkan dengan mereka semua"
Senyum tampan tercetak diwajah tampan Tama "aku tidak menyesal telah memutuskan hubunganku dengan mereka semua, karena aku benar-benar serius akan hubungan ini. Aku akan meyakinkanmu bahwa aku benar-benar serius untuk berubah, demi dirimu.."
__ADS_1
(duh.. author meleleh Tam.. sweet bgt astagah)
Dan Tama benar-benar pulang ke apartemen. Tapi ia menyuruh beberapa anak buahnya untuk menjaga diluar rumah Elza.