DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
pindah haluan?


__ADS_3

Tama membuka berkas yang baru saja diberikan oleh Raka,asistennya.


Tatapan matanya sangat fokus memeriksa setiap kata yang ada diatas kertas tersebut.


tok tok tok


Tama mendongak,memperhatikan pintu yang baru saja diketuk dari luar "masuk"


Ceklek


Pintu terbuka, terlihat kaki panjang yang begitu jenjang dan putih milik salah satu sekertarisnya.


Tama memliliki dua sekertaris, yang satu adalah Reyna teman mendiang Zara sedangkan yang satu adalah Laras.


"coffee anda tuan" ucapnya dengan nada suara terdengar menggoda.


Raka yang saat ini duduk dihadapan Tama menghela nafasnya lelah, malas sekali melihat wanita murahan seperti itu.


Parfum menggoda langsung memenuhi ruangan Tama saat Laras semakin dekat.


"letakan disitu Laras" ucap Tama dengan tenang.


"baik tuan" Laras tersenyum lalu meletakan coffee hitam yang baru saja dia buat.


Laras sengaja sedikit menunduk saat meletakan coffee tersebut sehingga buah dadanya yang besar terlihat.


"menggodaku hmm?" tanya Tama karena matanya sekarang menatap penuh minat sekertarisnya itu.


Laras terkekeh, "tidak" menggeleng seraya memilin rambutnya yang panjang.


"cuuih.. murahan!!" Sungguh saat ini Raka benar benar muak melihat wanita jala*ng itu, ingin sekali dia seret keluar tapi kuasanya terbatas sehingga dia tidak bisa berbuat apapun.


"Raka"


Raka yang merasa terpanggil mendongak, dan pandangan matanya langsung mellihat Laras yang tengah melendoti Tama. "ya tuan?" tanyanya dengan suara dingin.


"tolong belikan roko"


Raka tidak bodoh, dia tahu apa sebenarnya tujuan pria casanova itu, membuatnya pergi karena ingin berduaan dengan wanita itu. "sesuai keinginanmu tuan, saya akan kembali satu jam lagi" berdiri dan segera keluar dari ruangan tersebut.


"kucing garong di sodorin ikan asin bau, sudah pasti tergoda" gerutu Raka sembari terus berjalan menjauhi ruangan Tama.

__ADS_1


Tama terkekeh melihat wajah kesal temannya itu, lalu pandangan matanya teralihkan pada wanita cantik dan **** yang saat ini dengan tidak tahu malunya sudah duduk dipangkuannya.


Tama menyadari kalau dia itu brengsek, dia akan memakan dengan lahap siapapun yang melemparkan tubuhnya pada dirinya.


Akan tetapi dia tidak akan merusak wanita manapun kalau wanita itu tidak menginginkannya.


"tuan" bisik Laras diperpotongan leher Tama, membuat siempu meremang dan tegang seketika, apalagi saat ini tangan nakal Laras bergerilya ditubuhnya yang kekar.


"kamu nakal sekali" ucap Tama sembari mencubit pinggang Laras.


"aw sakit tuan" pekik Laras, tapi suaranya dia buat se eksotis mungkin.


Laras yang sudah tahu kalau saat ini Tama sudah menegang tidak melewatkan kesempatan itu, dia mendongak dan menatap bibir **** pria tampan itu. mengusapnya pelan dengan jarinya.


Tama yang sudah tidak tahan langsung membungkam mulut Laras dengan mulutnya, tangannya tidak tinggal diam dengan menangkup salah satu dadanya.


"emmmhh"


Hasrat Tama langsung bangkit karena sudah beberapa hari dia tidak mendapatkan pelepasan akibat fikirannya tertuju pada seseorang, dan kali ini Tama sepertinya akan berhasil memuaskan hasratnya dengan sekertarisnya sendiri.


Tama sudah pernah meniduri Laras sekali, dan otaknya langsung tertuju pada tubuh **** yang saat ini berada dipangkuannya, tubuh yang pernah dia nikmati dulu.


Tama mendorong tubuh Laras sampai membuat wanita itu terjungkal lalu laras memekik karena sakit sekaligus terkejut.


"apa yang anda lakukan tuan?!" pekik Laras kesal.


"pergi !! "


Laras terbelalak "tapi tuan---"


"pergi atau saya akan memecatmu!!" ucap Tama dengan suara lantang.


Laras bergetar ketakutan, dia langsung berdiri dan lari keluar dengan hati yang sakit, niat hati menggoda Tama untuk mendapatkan uang eh-- malah dia dipermalukan seperti ini, membuatnya sangat kesal.


Tama duduk dikursinya lagi, meraih coffee yang tadi dibuatkan oleh Laras, dia menghela nafasnya yang masih naik turun, mencoba menurunkan api gairah yang tadi sempat naik.


"breengsek!!" Tama mengumpati dirinya sendiri.


" Elza Elza Elza..." ucap Tama sembari menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya, matanya terpejam.


**

__ADS_1


Satu jam berlalu dan Raka kembali dengan membawa satu bungkus roko ditangannya, dia berdiri dihadapan Tama yang saat ini tampak terlihat begitu frustasi.


Tama menyambar roko tersebut lalu membukanya "beli roko saja lama sekali" gerutunya.


"saya berusaha lebih lama diluar, saya takut anda belum selesai dengan wanita itu" ucap Raka pelan.


"tapi sepertinya sekarang kekuatan anda menjadi lemah" ejek Raka.


brak


Tama yang tidak mendapatkan pelepasan merasa kesal "aku masih kuat bodoh! tapi memang tadi tidak terjadi apapun"


Raka menganga "waaahh amazing" prok prok prok "anda berhasil mengalahkan ***** anda yang besar itu?" tanya Raka tidak percaya.


"sialan!!"


"hahaha sepertinya tuanku yang terhormat ini sekarang telah bertobat" ucap Raka semakin mengejek Tama.


Meski Raka adalah teman Tama tapi dari kata mengejeknya masih terdengar menghormati Tama sebagai bossnya saat ini.


"diam kau sialan! mau aku potong gajimu?!"


Raka terbahak "hahaha maafkan asistenmu yang lancang ini tuan"


"mau saya hubungi salah satu pacar anda untuk membatu anda mendapatkan pelepasan? sepertinya akibat tadi gagal anda jadi panik begini" Raka mencoba memberi saran.


"tidak ada yang berhasil akhir akhir ini" keluh Tama lemah, dia menyesap roko nya kembali.


"anda tidak pindah haluan kan?"


hup


Raka terbelalak dan langsung membungkam mulutnya sendiri yang salah bicara "maaf tuan"


Tama tidak peduli lalu dia menyandarkan tubuhnya dikursi, menatap langit langit kantornya.


"ada apa denganmu? kenapa menolak setiap wanita? " batinnya bertanya pada adik juniornya.


"apa gue benar benar berubah haluan? tidak tidak mungkin.." menggeleng gelengkan kepalanya yang mulai berfikir ngawur.


Raka diam saja sembari melihat tingkah Tama yang menurutnya aneh.

__ADS_1


__ADS_2