
Setelah punggung Tama tak terlihat, Elza masuk kedalam kamar dalam diam, dia memegang dadanya yang tadi berdebar.
Sentuhan lembut tangan besar Tama tadi membuat tubuhnya seperti dialiri listrik sampai membuat hatinya terkejut.
"bodoh!!"
plak plak plak
Elza memukul kepalanya sendiri, dia menyadari kalau pesona seorang Tama bisa saja membuatnya terbuai, apalagi kelembutan pria itu mampu membuat hatinya ketar ketir.
"Ini tak boleh dibiarkan! gue harus segera menyelesaikan misi ini agar cepat keluar dari apartemen ini" gumam Elza, dia merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Meraih ponsel yang tergeletak disebelah tubuh, dia membuka album foto yang ada di sana.
"kak Zara" gumamnya pelan, air matanya kembali menetes melihat wajah cantik kakak perempuannya yang telah tiada.
Tadi dia melihat berkas yang ada ada didalam map, itu adalah foto kakaknya dan hal itulah yang membuatnya menangis setelahnya.
Fikiran Elza terus berkelana, untuk apa Tama mencari tahu tentang kakaknya? apa jangan jangan identitasnya telah diketahui oleh pria itu?
Pertanyaan pertanyaan itu muncul dibenaknya, ada rasa takut yang menyusupi hatinya tapi ini sudah setengah jalan jadi untuk mundur dia tak akan bisa melakukannya.
"besok akan ku ambil map itu" gumamnya lagi, Elza tadi melihat Tama membawa berkas tersebut sudah pasti dia meletakannya dikamar.
Meletakan ponselnya disisi tubuh, air mata masih menetes pelan disisi wajahnya yang cantik.
"kak, aku akan memperjuangkan keadilan untukmu" ucap Elza kemudian dia memejamkan mata dan tertidur dengan isak kecil yang masih terdengar.
***
Pagi harinya Elza telah membuat sarapan dan berberes lebih awal karena dia juga sekarang sudah rapi hendak pergi kekampus untuk kuliah.
Dia sedang menunggu Tama keluar dari kamar untuk sarapan dan pergi kekantor.
ehem
Elza tersenyum manis saat melihat Tama yang tampak keren mengenakan pakaian formalnya berwarna navi membalut tubuh yang atletis seperti yang kemarin dia lihat.
Elza menepuk pipinya sendiri agar menyadarkannya dari fantasi yang hendak memenuhi otaknya "selamat pagi tuan"
__ADS_1
Tama hanya geleng kepala melihat tingkah lucu gadis itu "pagi"
Elza membantu mengambilkan sarapan dengan teletan.
"tuan"
"hmm" Tama mendongak saat Elza memanggil.
"saya mau pergi"
"kemana?" tatapan matanya curiga, mengingat kemarin Elza tampak begitu sedih.
"kekampus"
Tama mengangguk "saya antar"
"tidak perlu, karena saya mau ambil mobil dirumah terlebih dahulu"
"saya antar!"
"tapi--"
"saya antar!"
"kamu mau kemana? tidak sarapan?"
Elza menoleh "saya sudah sarapan tuan, karena tadi saya sudah kelaparan setelah berberes" gadis cantik itu meringiskan giginya "saya ambil tas sebentar"
Tama mengangguk, dia melanjutkan sarapannya.
Setelah selesai sarapan mereka berdua segera pergi, menuju rumah Elza yang lumayan jauh dari sana.
"el"
Elza yang sedang fokus memperhatikan jalan menoleh "iya tuan"
"semalam-" Tama sedikit ragu untuk bertanya masalah gadis itu, tapi sungguh dia sangat penasaran.
"oh masalah semalam?"
__ADS_1
"maaf sedikit lancang, tapi saya sangat penasaran apa yang membuatmu menangis"
Elza tersenyum, membuat Tama tertegun untuk sesaat "saya hanya kangen sama orang yang sudah beda alam denganku"
Tama terkejut, dia menoleh dengan pandangan tak enak "maaf telah mengungkit hal ini"
"tak masalah, saya kok yang mau cerita"
"percayalah, mereka yang telah pergi akan selalu bersama kita, disini" menunjuk dadanya "dihati kita"
Elza mengangguk "anda benar"
"jangan merasa sendiri, saat kamu sedang sedih kamu bisa berbagi bersamaku"
"apa seorang pembantu pantas berkeluh kesah dengan majikannya?" tanya Elza dengan seringai kecil dibibirnya yang tipis.
Tama terkekeh "kamu temanku kok, jadi jangan ragu"
"jangan terlalu baik tuan"
"kenapa?" dia heran agaknya mendengar ucapan gadis itu, karena biasanya setiap wanita akan merentangkan tangan saat dia memberi kebaikan seperti ini.
"kalau saya jatuh cinta pada anda bagaimana?"
uhuk
Tama tersedak salivanya sendiri, dia menoleh kesamping dimana sekarang gadis itu sedang tertawa terbahak.
"hahaha anda lucu sekali, ternyata anda adalah pria yang sangat polos"
Tama diam saja, dia malu digoda seperti itu.
Mobil terparkir didepan gerbang rumah Elza "nah sampai, terimakasih banyak tuan"
Tama mengangguk, dia menatap kepergian Elza dan langsung menjalankan mobilnya pergi.
Dengan langkah riang Elza masuk kedalam rumah "ahh... rumahku surgaku" pekiknya, dia merasa rindu sekali akan rumah minimalis yang selama ini dia tinggali.
Selepas mengambil buku, Elza segera pergi menggunakan mobil mendiang kakaknya.
__ADS_1
Tama yang ternyata belum pergi menatap kepergian Elza, dia melihat mobil yang tampak tidak terlalu asing itu baginya "aku selalu merasa tak asing dengan mobil itu" gumamnya, sejak dia melihat mobil itu sepertinya dia pernah melihatnya tapi dimana? dia sungguh lupa.
Tama menggeleng, kemudian pergi dari sana saat mobil yang dipakai oleh Elza sudah tak terlihat lagi.