
"sudah beberapa hari gue tinggal disana, dan pria cabul itu juga sudah mengutarakan perasaannya, apa yang harusku lakukan kedepannya?"
Mata Elza menatap lurus kedepan "ya sesuai rencana awal saja! buat dia jatuh hati padaku sedalam dalamnya lalu tinggalkan dia! memang terdengar jahat, tapi ini semua gue lakukan demi membalas perilakunya yang suka mempermainkan wanita! dan satu lagi dia telah merenggut nyawa kakakku!" Elza mencengkeram erat stir mobil yang sedang dia pegang.
"dan aku belum mendapatkan bukti apapun mengenai kak Zara, hari ini dia juga curiga akan mobil, gue benar benar harus berhati hati"
Tin tin tin
Lamunan Elza buyar saat mendengar suara klakson mobil, dia mendongak ternyata lampu lalu lintas yang tadi menunjukan warna merah telah berubah menjadi hijau.
tin tin tin
"iya iya !! dasar tak sabaran sekali kau penduduk bumi !" pekiknya kesal dan memaki meski yang dia maki tak mendengarnya, dia segera menginjak pedal gas menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Mobil berhenti diparkiran, dia memakai kacamata hitam yang dia ambil didasbord mobil dan segera keluar.
"elzaaaa"
Terdengar pekikan seseoarang, seseorang yang sangat dia kenali. Elza menoleh kesumber suara dan melihat seorang gadis cantik tengah lari menuju dirinya.
greep
Tangan Elza didekap oleh gadis itu "eeelll lo kemana aja sih?"
Elza terkikik, dia mengelus kepala gadis yang bertengger dibahunya dengan manja, dia adalah sahabatnya,Lisa. "nggak kemana mana" jawabnya santai.
"issh nyebelin! ayo ceritakan!" ujarnya merengek seperti anak kecil.
"nanti saja! ayo kekelas bentar lagi dosen killer kita masuk"
Dengan mengerucutkan bibirnya, Lisa mengangguk dan mengikuti langkah kaki Elza.
Kelas kali ini entah kenapa Elza sama sekali tak bisa konsentrasi, dia yang sengaja duduk dipojokan bersama Lisa, menyandarkan kepala melamun.
"el el"
Lisa menyikut lengan Elza, membuat lamunan gadis itu buyar "apa?" ucapnya berbisik.
"lo dipanggil sama pak dosen"
Elza terkesiap "iya ada apa pak?" pekiknya kencang membuat seisi kelas menoleh kearahnya.
Mata Elza menyipit saat melihat dosen yang sedang mengajar terlihat cengo.
"kamu tidur dan bermimpi ya?!" pekik dosen killer tersebut, matanya sekarang menajam menatap dirinya.
"tadi katanya bapak memanggil saya?" tanya Elza bingung.
"dalam mimpimu! cepat keluar kelas dan intropeksi diri, huh kamu sama sekali tak menghargai saya di sini ya?!"
"tidak! bukan begitu pak, maaf"
"keluar!!"
Elza mengangguk, dia menoleh dan dapat melihat Lisa yang sedang menahan tawanya "sialan lo lis" ucap Elza tanpa suara.
Lisa berpura pura tak tahu, dia mengabaikan ucapan Elza barusan.
Dengan langkah pasti gadis itu keluar, wajahnya memberengut karena kesal.
"intropeksi diri? huh yang benar saja! tadi gue kan dikerjai sama lisa, dasar dosen nyebelin!" gerutunya sepanjang jalan, lebih baik dia pergi kekantin saja.
__ADS_1
Sambil terus menggerutu, gadis itu berjalan cepat mengabaikan teman temannya yang juga berlalu lalang disana.
"el"
Elza yang terkejut karena dicekal tangannya menoleh kebelakang, secara reflek mengayunkan tinju kearah wajah orang tersebut.
grep
Tangannya ditahan oleh tangan orang tersebut "woooiiisssh santai tante"
"tante kepalamu!" menarik kembali tangannya dengan keras.
"hahaha lo kenapa? wajah cantik elu nanti berubah jadi tante tante kalau memberengut begitu" selorohnya sembari terkikik geli.
"isshh.. gue lagi kesal vin! lo kenapa nyebelin bgt sih!"
Pria itu adalah Vino yang tadi tak sengaja melihat Elza jalan terburu buru, apalagi wajahnya tampak jutek pasti menyenangkan jika dia menggodanya "iya iya tahu, lo mau kekantin kan? ayo gue temani" menarik tangan Elza berjalan menuju kantin.
"nggak usah pegang pegang juga kali vin! dasar modus" menarik tangannya yang digenggam oleh Vino.
Vino tampak mengerucutkan bibirnya, dan hal itu tampak begitu lucu menurut Elza "kok bisa ada pria imut begini?"
Mereka berdua akhirnya sampai dan duduk berhadapan setelah memesan makanan terlebih dahulu.
"lo kenapa bete gitu?" tanya Vino penasaran, dia meminum juice mangga menggunakan sedotan tanpa memegangnya.
"kepo" ujar Elza cuek karena malas sekali bercerita pada pria dihadapannya itu, mereka tak sedekat itu kan.
"ayolah, gue teman elu kan? jadi kita harus berbagi cerita"
Alis Elza menyatu, ada ya pria yang tak tahu malu begini
Elza dan Vino menoleh kesumber suara, dimana Lisa tengah berlari kecil menuju meja nya, Elza menatap malas gadis itu.
"cieee marah ya?" duduk disebelah Elza dan menoel dagu nya. "jangan marah sayang, gue tahu lo malas belajar kan? makanya gue berbuat seperti tadi" ujarnya lalu terkikik geli.
"issh yang benar saja! lalu lo kenapa bisa disini?"
"gue juga malas, dan beralasan sakit perut agar diperbolehkan keluar sama dosen galak itu!"
gluk gluk gluk
Meminum minuman Elza tanpa izin, tapi Elza diam saja karena dia sudah terbiasa.
Lisa mendongak, matanya melihat seorang pria "waaaw brondong dari mana nih? cakep bener"
Vino hanya acuh, dia memilih menikmati makanan yang tadi dia pesan.
"el, kok ada anak SMA disini? lo kencan sama berondong ya?" tanya Lisa dengan wajah terkejut.
"hey!! gue juga udah kuliah!" pekik Vino tak terima, dia selalu bingung harus bersyukur atau merasa ini adalah kutukan mendapatkan wajah babyface begini, karena sering kali orang salah mempresdiksi usianya.
"oh tapi kok imut begini"
Cubit cubit gemas pria yang ada dihadapannya, hal ini membuat tawa Elza pecah melihat hal random yang dilakukan oleh sahabatnya.
"jangan! lo mau gue pukul hah?!" pekik Vino kesal, dia menampik tangan Lisa.
"ahh nggak seru, lo galak banget"
"bodo amat!"
__ADS_1
Elza semakin terbahak, dia sampai melupakan kalau saat ini sedang ditempat umum dan para mahasiswa mulai menoleh padanya.
Elza terdiam saat Lisa menyenggol lengannya, dia meringis melihat tatapan mata seisi kantin "sial.. gue lupa sedang ditempat umum!"
"udah biarin deh, cuek aja" ujar Vino saat melihat Elza tampak malu.
Elza mengangguk, dia menyeruput kembali minumannya.
"el katanya mau cerita? cepat!" ucap Lisa dengan menggoyangkan lengan Elza.
Elza menoleh kearah Lisa kemudian kearah Vino, dimana pria imut itu tampak memasang telinganya lebar lebar agar dapat mendengarkan cerita dua gadis dihadapannya itu.
"ayo kemobil gue sekarang" ajak Elza pada sahabatnya itu.
Lisa yang mengerti sahabatnya itu melirik Vino mengangguk, mereka berdua berdiri dan melangkah pergi.
"eiittss" Elza dorong wajah Vino yang juga hendak berdiri.
"kenapa? gue mau ikut kemobil"
Elza menatap Vino dengan jengah "mau ngapain?"
"tentu saja mendengarkan cerita elu" ujar Vino sembari meringiskan giginya.
"ini urusan perempuan!"
"eiyke juga perempuan" ujar Vino sembari mencolek lengan Elza.
Elza dan Lisa menyernyit dan menatap pria itu dengan sebal.
"dia kok jadi kaya teman elu di restoran el, siapa ya namanya?" Lisa tampak mengingat ingat nama teman Elza yang kelakuannya seperti perempuan.
"bang ke" pekik kedua gadis itu "hiii serem"
Kedua gadis itu lari secepat kilat membuat Vino melongo cengo "siapa ****** yang mereka maksud?" lalu pria itu angkat bahu dan meneruskan makan, dia tak mengejar dua gadis itu mengingat tadi dia sekilas melihat raut serius diwajah Elza.
**
"nah udah aman, si imut nggak ngejar" ujar Lisa.
Elza mengangguk, kemudian mulai menceritakan segalanya tanpa ditutupi sedikitpun.
Dimulai dari dia yang meminta kak Reyna untuk melamar pekerjaan diapartemen Tama, kemudian kejadian kejadian kecil dan secara mengejutkan Tama yang mengutarakan perasaannya kemarin.
Lisa pun diam mendengarkan tanpa mau ikut menimpali, sesekali gadis itu merubah raut wajahnya mengikuti cerita Elza.
"waaahh... ternyata semudah itu membuat seorang tuan Tama jatuh cinta"
"lo tahu lah sepak terjang pria brengsek itu" ujar Elza malas.
"tapi dari apa yang elo katakan tadi, yang katanya tuan Tama mau memutuskan semua pacarnya, apa elo percaya?" tanya Lisa.
"tentu saja tidak! bodoh kalau gue sampai mempercayai ucapan kadal itu"
"tapi kalau dia serius?"
Elza diam lalu memikirkan ucapa Lisa barusan "bodo lah, yang penting dendam ini terbalas"
Lisa manggut manggut "gue dukung apapun yang akan elo lakukan el, yang terpenting adalah elo harus berhati hati"
Elza tersenyum, dia kemudian memeluk tubuh Lisa erat "terimakasih" dan Lisapun membalas pelukan Elza tak kalah erat.
__ADS_1