DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
Valey


__ADS_3

tok tok tok


Elza yang tengah bermain ponsel menoleh kearah pintu saat mendengar suara ketukan. Alisnya menyernyit heran siapa yang mengetuk pintunya? biasanya kalaupun ada tamu mereka selalu menekan bel.


Gadis itu berjalan menuju kearah pintu. Dia membuka pintu "siapa ya?" tanya Elza saat melihat ada seorang wanita cantik yang berdiri didepan pintu.


Wanita cantik dengan tunggi semampai itu membuka kacamata hitam yang bertengger dihidung mancungnya. Dia menatap Elza dari atas sampai bawah. Sepertinya ia sedang menilai penampilan Elza.


Elza yang ditatap sedemikian rupa merasa risih dan tak nyaman "maaf anda siapa ya?"


Wanita cantik itu terkikik kemudian. Hal itu sungguh membuat Elza bingung.


"ternyata kak Tama oke juga seleranya"


Alis Elza menukik. Sepertinya wanita ini cukup kenal dengan suaminya "anda mengenal kak Tama?" tanyanya terdengar ketus.


"hahahah tentu saja"


"apa anda salah satu wanita koleksi kak Tama?" bertanya dengan nada menekan. Jika benar dia adalah salah satu wanita milik Tama akan ia timpuk pakai sandal yang ia pakai saat ini.


Wanita itu menggeleng dengan cepat "wohohoho.. santai nona. Aku mana mau bersama Casanova sepertinya"


"lalu?"


Wanita itu mengulurkan tangannya. Meminta berjabat tangan untuk berkenalan.


Elza hanya diam saja. Tak merespon.


"ck" wanita cantik itu berdecak lalu menarik tangan Elza agar mau berjabatan tangan dengannya. Dia menyeringai kemudian menghentakkan tangan Elza sampai membuat gadis itu menubruk tubuhnya.


Tubuh Elza yang kalah tinggi dengan wanita itu terhempas begitu saja.


"oh aku sangat bahagia.. Selamat atas pernikahan mu sayang.. Kamu telah membuat kak Tama bertobat aku sungguh senang sekali" ucapnya sembari memeluk tubuh Elza yang hanya kaku dan tak membalas.


"aduh.. aku tidak bisa bernafas"


Wanita itu melepaskan pelukannya saat mendengar ucapan Elza. Dia terbahak kemudian "hahaha maaf ya.. Aku terlalu bersemangat"


Elza menghela nafasnya panjang. Dia menatap aneh wanita cantik tapi begitu konyol yang ada dihadapannya "sebenarnya anda ini siapa sih?"


"perkenalkan.. Namaku Valerie. oh iya apa aku boleh masuk kedalam?"


Elza berdecak tapi mengizinkan wanita ini untuk masuk.


"wah.. rumahmu nyaman sekali"


"terimakasih pujiannya. Tapi bisa kita bicara serius?"


Wanita itu mengangguk dan tersenyum hangat. Dia menatap hangat gadis yang telah dipersunting oleh sahabat suaminya.


"jadi nama anda Valerie?"


Valey mengangguk "iya. Panggil saja kak Valey. kamu Elza kan? "

__ADS_1


Elza mengangguk sebagai jawaban "Kakak Valey siapanya kak Tama?" tanya Elza yang benar-benar merasa penasaran.


"aku harus mulia dari mana ya?" gumam Valey sembari mengusap dagunya.


Elza menatap wanita cantik yang mengaku bernama Valey itu dengan begitu intens. Rasanya wajah wanita ini begitu familiar sekali. Elza seperti sudah pernah melihat Valey sebelumnya tapi ia masih lupa kapan dan dimana nya.


"sebenarnya kak Tama itu bukan temanku apalagi saudaraku"


"lalu?" tanya Elza sembari menukikkan alisnya. Bingung akan apa yang baru saja Valey ucapkan.


"Dia adalah sahabat suamiku yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri. Semalam suamiku datang ke apartemen kalian kan?"


Elza mengangguk. Sudah cukup paham akan penjelasan Valey. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah siapa suami dari kak Valey ini? karena semalam yang ia ingat ada tiga orang yang datang ke apartemen.


"aku kemari mau memberi selamat padamu. Selamat ya atas pernikahan kalian. Aku turut bahagia" ucap Valey sembari mengusap lengan Elza.


tok tok


Valey menoleh kearah pintu saat seseorang mengetuk pintu.


"maaf nona. barang anda ketinggalan"


"oh iya. terimakasih botak.." ucapnya pada pria botak yang selalu menemani nya kemanapun. Jacky pengawal pribadi Valey.


Valey menerima box yang diberikan oleh Jacky dengan wajah sumringah.


Dia menyerahkan box itu pada Elza.


"apa ini?"


Elza ragu untuk menerima box hadiah tersebut. Walau kak Valey mengatakan jika dia adalah istri dari sahabat Tama tapi ia merasa enggan dan tak enak.


Valey meletakan box tersebut dipangkuan Elza. Dengan wajah ceria dia mencubit gemas pipi Elza "jangan lupa dipakai nanti malam"


"terimakasih" ucapnya terdengar tulus. Elza kembali menatap Valey yang sedang menatap hangat dirinya. Tatapan yang hangat itu mengingatkannya pada mendiang Kak Zara.


"kamu kenapa kelihatan sedih?" tanya Valey saat melihat raut sendu Elza.


Elza menggeleng dan tersenyum "aku tidak papa"


"kalau ada yang mau kamu ceritakan aku bersedia mendengarkan apapun El.. Kamu sedang tidak menyesal kan setelah menikah dengan kak Tama?"


Elza tergelak dan menggeleng "tentu saja tidak. Aku hanya teringat seseorang yang sangat aku rindukan tapi sudah tidak bisa aku temui. kak Valey mengingatkan aku padanya"


Valey terenyuh saat mengetahui maksud dari perkataan Elza. Dia menarik Elza kedalam pelukannya "oh dear.."


puk puk


Menepuk punggung Elza untuk memberikan nya kekuatan. Sedangkan Elza merasa sangat nyaman berada didalam pelukan wanita yang baru saja ia kenal. Rasa sesak didada berangsur membaik setelah tangan hangat Valey mengusap kepalanya.


"mooommy"


Valey terkesiap dan melepas pelukannya "astaga.. Kenapa ada anak kulkas disini?!" pekiknya terkejut. Dia memeluk tubuh kecil puterinya saat gadis kecil ini lari kearahnya.

__ADS_1


"anak kulkas?" gumam Elza dengan cengo.


Valey menoleh dan terkikik. Apalagi saat mendengar anaknya mendengus.


Queen kecil menoleh kearah Elza "ini mommyku aunty"


Elza menatap manik teduh milik Valey. Wanita cantik itu mengangguk mengiyakan ucapan Queen.


Elza masih terdiam. Jadi Vino adalah adik dari kak Valey. Lalu kak Valey menikah dengan sahabat kak Tama sehingga Vino bisa mengenal kak Tama.


Gadis itu mengangguk-angguk beberapa kali setelah berhasil menyambung-nyambungkan hubungan antara suami,sahabat serta wanita cantik yang sedang memangku anaknya sekarang.


"bagaimana anak kulkas ini ada disini El?"


"ah itu.. Vino yang menitipkan nya tadi pagi"


"ck dasar bocah sia---" ucapan Valey terhenti saat sang puteri terlihat memperhatikan dirinya. Hampir saja ia keceplosan mengumpat. Meringiskan giginya lalu ia mencium pipi gempal milik Queen. "kamu jadi gadis baik kan sayang? tidak menyusahkan aunty Elza?"


Queen menggeleng "tentu saja tidak! aku gadis yang baik dan penulut" ucapnya dengan cadel


"good girl"


cup cup cup


Valey mengecupi pipi Queen dengan gemas. Lalu ia menatap Elza dengan tidak enak hati "maaf ya malah jadi merepotkanmu"


Elza menggeleng dan tersenyum "tidak. Aku tidak repot. Aku juga senang Queen ada disini"


Valey mengangguk dan tersenyum.


"oh aku sampai lupa. Sebentar aku ambilkan minuman dulu" ucap Elza dengan panik. Dia berlari menuju dapurnya untuk mengambilkan minuman untuk Valey.


Setelah minuman dan camilan terhidang diatas meja. Valey dan Elza mulai mengobrol dengan santai. Tak ada lagi kecanggungan diantara mereka. Valey yang notabene nya adalah seseorang yang sangat ramah dan menyenangkan, sehingga siapa saja yang dekat dengannya akan cepat sekali akrab.


**


tak tak tak


Terdengar suara sepatu berbenturan dengan lantai, membuat Elza dan Valey menoleh kesumber suara.


"Vino.."


Vino yang baru saja masuk kedalam rumah terbelalak kaget saat mendengar suara pekikan melengking dari kakaknya.


Dia sampai menutup telinganya menggunakan tangan.


Vino tak mengetahui jika kakaknya ada didalam rumah Elza, karena mobil Valey di bawa oleh Jacky pergi sebentar untuk menemani Queen membeli ice cream.


"berani-beraninya kau menitipkan anakku ke Elza.."


"ampuuun kak" pekik Vino sembari lari menghindari kakaknya yang mengejar dirinya.


Elza hanya tergelak dan menggeleng melihatnya. Rasanya hati Elza menghangat melihat kelakuan kakak beradik itu.

__ADS_1


Elza merasa senang dan beruntung bisa kenal dengan kakak beradik yang menurutnya sangat baik.


__ADS_2