DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
berhasil?


__ADS_3

bruk


Elza terbelalak saat melihat Davin tersungkur kelantai, dia menoleh kesamping dimana ada seorang pria yang baru saja melayangkan bogemannya kewajah Davin.


"Vino!"


Vino menatap wajah Elza yang tampak terkejut, lalu menoleh kembali kearah Davin dengan mata tajamnya "jangan dekati dia!" setelah mengatakan hal itu, Vino menarik tangan Elza, dia membawa gadis itu menjauhi kerumunan.


"sialan! awas kau nanti!" Davin mengusap bibirnya yang sakit, sudut bibirnya sobek dan mengeluarkan darah.


"bagaimana ba*ci itu bisa memiliki kekuatan?!" Davin geram sekali, lalu berdiri dan menoleh kesamping dimana para mahasiswi dan mahaiswa yang ada disana menatap prihatin dirinya.


Dengan kesal Davin pergi dari sana dengan rasa sakit sekaligus malu, bagaimana mungkin seorang pria tampan dan populer seperti dirinya dipermalukan oleh Vino, teman satu kelasnya yang menurutnya seperti ban*i akibat sikapanya yang manja.


Tak dapat dia sangka, ternyata Vino kuat juga, akan dia beri pelajaran nanti.


**


Vino masih menuntun Elza, dia membawa gadis itu menuju kantin.


"vin"


Vino menoleh tapi kemudian mengabaikan, dia menyuruh Elza agar duduk dan segera memesan minum.


Setelah pesanannya jadi, Vino meletakan minuman tadi dia atas meja depan Elza.


"minumlah"


Elza mengangguk, dia meminumnya sedikit "soal tadi, thanks ya"


Vino mengangguk, dia juga meminum minumannya "sama sama"


Elza tersenyum, lalu meraih tangan Vino yang tampak memerah akibat tadi memukul dengan sangat keras rahang Davin.


Vino terkesiap "gue nggak papa" ucapnya canggung, lalu menarik tangan yang sedang Elza genggam.


"sekali lagi makasih ya, elo udah menghajar dia! gue sangat kesal karena tidak bisa berbuat apapun karena kekuatan gue tadi kalah besar"


"gue juga heran karena biasanya dia tak akan menganggu cewek, tadi gue lihat dia mencekal elo makanya gue kesal, apalagi elo kan teman gue" ucap Vino dengan cepat, dia bahkan menujukan ketidak sukaannya pada Davin saat bicara.


"teman?"

__ADS_1


Vino mengangguk "kita teman kan?"


Elza tersenyum, lalu mengangguk "ya, kita teman" menyesap lagi minumannya "btw sebentar lagi kelas gue masuk, gue pergi dulu ya?"


"mau gue anterin?" tanya Vino menawarkan, dia takut kalau sampai gadis itu diganggu Davin lagi.


"oh nggak usah, dan sekali lagi makasih udah nolongin gue tadi"


"lo bilang makasih sekali lagi dapat piring cantik el" ucap Vino bercanda, dia bahkan tertawa setelah mengatakannya.


"bisa saja lu, nanti gue traktir lo sebagai tanda terimakasih, dan thanks juga minumannya"


Vino mengangguk "gue tunggu traktirannya"


Elza mengacungkan ibu jarinya lalu melenggang pergi, meninggalkan Vino yang masih menatap punggung Elza dengan tatapan yang sulit diartikan.


***


Selepas meeting Reyna dan Laras mengikuti langkah kaki Tama yang berjalan bersisian dengan asistennya,Raka.


Tatapan matanya tidak fokus karena sedang memikirkan bagaimana caranya membujuk pria itu agar Elza dapat masuk kedalam kediaman Tama.


bruk


Ternyata Tama berhenti karena sampai didepan pintu lift.


Raka yang tadi sedang memencet tobol lift pun menoleh.


"maaf tuan" ucap Reyna membungkuk.


" sebenarnya apa yang kau pikirkan? apa masih memikirkan adik tiri dari selingkuhan ayahmu?!" tanya Tama.


Reyna melototkan matanya, begitupun Raka dan Laras.


"tidak tuan, saya tak memiliki adik tiri" ucap Reyna dengan cepat membantah.


"lalu? kenapa kau tak fokus?"


"i itu tuan, mungkin karena tadi pagi saya belum sarapan" Reyna beralibi, dia cukup lega karena otaknya bisa terpakai saat sedang terpojok begini.


"kalau begitu sana makan! saya tak mau sampai kamu pingsan akibat kelaparan!"

__ADS_1


"tapi ini masih jam kerja tuan" Reyna cepat menjawab.


"akan saya potong gaji mu bulan ini, tenang saja" ucap Tama dengan santainya.


Reyna terbelalak "kalau begitu saya tak jadi lapar"


Tama menghela nafas "saya hanya bercanda! cepat sana cari makan, saya tak mau sampai besok ada berita mengenai pegawaiku yang pingsan akibat kelaparan"


Reyna tersenyum senang "baiklah, apa tuan mau menemani saya?"


Raka dan Laras membuka mulutnya, ada apa dengan wanita itu? tampak begitu aneh pikir keduanya.


"ah sepertinya otak saya sedikit bermasalah karena lapar,saya permisi tuan" ucap Renya sambil memukul pelan kepalanya dan dia segera melarikan diri saat melihat Tama yang menatapnya tajam.


Reyna bernafas lega, sebenarnya dia hanya mencari alasan saja tadi, tapi kalau diberi waktu untuk beli makanan tentu saja dia tidak menolak, dia akan membicarakan tentang Elza pada Tama nanti saja saat pulang kerja.


**


Dan sepulang kerja Reyna benar benar mencegat bossnya itu, menyusul Tama yang hampir memasuki mobil mewahnya.


"tuan"


Tama menoleh kebelakang, dia melihat sekertarisnya yang sedang berlari kecil menuju dirinya.


"kau? ada apa lagi? sehari ini kulihat kelakuanmu aneh sekali" keluh Tama, Raka yang kebetulan ada disana pun mengangguk membenarkan.


"saya hanya ingin bertanya, apa benar benar tak ada lowongan pekerjaan untuk adik saya?"


Tama membung nafasnya kasar "kau itu ngotot sekali, apa sudah kau pikirkan matang matang saat adikmu nanti masuk kekandang buaya?" tanyanya sekali lagi.


Lagi-lagi Reyna tertegun, tapi saat Tama hendak pergi dia mencekal lengannya "saya sudah memikirkannya, dan saya serius akan apa yang saya katakan tuan, tolong terima dia"


Tama mendesah lagi, dia pusing memikirkan sekertarisnya itu "baiklah, bawa dia menemuiku, akan saya lihat apa dia pantas dan layak untuk menjadi asisten rumah tanggaku"


"eh-kok seperti mau mencari calon istri? pakai dilihat pantas atau tidak" ucap Raka tiba tiba mencibir.


Tama menatap sebal temannya itu, lalu menatap Renya kembali "kau dengar?"


Reyna mengangguk sembari tersenyum "saya dengar, terimakasih tuan"


Tama tak menyahut, dia langsung masuk kedalam mobil diikuti Raka.

__ADS_1


Reyna menyeringai, karena usahanya berhasil, dia akan segera menghubungi Elza.


__ADS_2