DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
menyelidiki


__ADS_3

Pagi hari yang cerah Elza keluar dari dalam rumahnya, dia menghirup dalam udara pagi yang begitu sejuk.


Wajah yang begitu cantik alami milik Elza terpapar mentari pagi yang menghangatkan kulit. dia tersenyum dan berjalan kearah kran air untuk mengisi alat penyiram tanaman miliknya.


Dengan wajah riang gadis itu mulai bejalan mendekati pot bunga yang tersusun rapi didepan rumah sederhananya, yang begitu asri akibat banyaknya tumbuhan hijau.


"cuuit cuuit"


Elza terkejut lalu menoleh kearah gebang rumahnya yang hanya sebatas dada, dia menyernyit saat melihat pemuda yang tengah tenyum hangat padanya setelah mengagetkan dengan cara bersiul.


"cuiit cuuiitt.... cewek godain abang dong" ucapnya sembari tersenyum jenaka.


"siapa kau!" pekik Elza, dia menatap pemuda tampan tapi terkesan imut itu dengan pandangan curiga.


"aigooo.. lo nggak inget? gue Vino"


"Vino?" gumam Elza, dia yang masih berdiri sembari memegang alat siram tanamannya berfikir dengan begitu keras tapi otaknya sungguh tak mau bekerja sama.


"isshh.. gue yang diperpus kemarin, yang pinjem buku elu" ucap Vino kemudian, dia membantu mengingatkan memori gadis itu.


Elza megangguk, dia mendekati pagar besi miliknya "ngapain lu kemari? jangan bilang elo nguntitin gue!"


"idiih pede sekali anda! apa lo nggak lihat kalau gue pakai apa?" ucap Vino, dia mudur kebelakang supaya gadis itu dapat melihat pakaian yang dia kenakan.


Elza memperhatikan pria itu, sudah dapat dia tebak kalau pria itu sedang berolahraga karena melihat style yang dikenakan olehnya.


"gue ganteng ya?" ucap Vino tiba tiba saat Elza masih saja memperhatikannya.


Elza memutar bola matanya jengah.


"hahaha lo lucu banget sih, apa lo nggak mau mempersilahkan gue masuk kedalam?" tanya Vino penuh harap, dia merasa begitu haus setelah lari yang cukup jauh.


"siapa elu minta ditawarin, dih kenal juga baru" ujar Elza jutek.


"oh ayolah... gue haus banget lupa bawa minum dan nggak bawa uang juga" ucapnya memelas.


Elza tatap wajah Vino, memperhatikan wajahnya yang tampan "ahh nggak mungkin pria seimut ini mau macam macam , kasihan juga wajahnya sampai merah begitu" gumamnya dalam hati.


Elza buka pintu gerbang dan mempersilahkan Vino masuk, dan pria itu memekin girang dan segera mengikuti langkah gadis itu.


Saat diambang pintu Elza membalik badannya "eiiitts... tunggu!" menahan badan Vino yang hendak ikut masuk kedalam rumah.


"kenapa? gue mau ambil minum" ucapnya sembari mengerucutkan bibirnya.


"lo tunggu disana bodoh! ngapain lo mau ambil sendiri?" ucap Elza sembari bekacak pinggang.


Vino menggaruk tengkuknya yang tak gatal "hehe"

__ADS_1


"lo tungu disana" Elza menunjuk kursi yang ada didepan rumahnya, Vino mengangguk dan menuruti perintah Elza.


Elza keluar dengan membawa satu teko air dan gelas bersih.


"waahh terimakasih" dengan cepat Vino meraih gelas dan mengisinya dengan cepat, sungguh sekarang kerongkongannya sangat tercekat dan setelah air mengalirinya dia tersenyum lega "akhirnya tenggorokan gue basah juga"


"elo lari sejauh apa emangnya vin?" tanya Elza penasaran.


"gue tadi abis muter ditaman seberang minimarket, lalu iseng masuk jalan sini, eh--nggak tahunya tadi gue lihat elu yang lagi nyiramin tanaman, karena gue haus ya gue samperin elu deh" ucapnya bercerita.


Elza mangguk mangguk mengerti "emang rumah elu dimana? emang deket taman?"


"agak jauh. gue di komplek x"


"oh.. komplek rumah orang kaya" gumam Elza, tapi masih dapat didengar oleh Vino.


"iya, tapi gue hanya numpang disana" celetuknya.


"benarkah?"


Vino mengangguk "numpang dirumah emak dan bapak gue! hahaha"


Elza memicingkan bibirnya, lawakan Vino benar benar tidak lucu menurutnya.


"hehe nggak lucu ya? btw nama elo siapa? kok gue bodoh banget ya nggak nanya dari tadi padahal gue udah minta minum segala"


"oh nama yang cantik secan--"


"apa?! nggak usah sok manis!" Elza menyergah saat Vino hendak menggombali gadis itu.


Vino mematutkan wajahnya, tapi sungguh hal itu membuat Elza terkekeh karena Vino benar benar lucu.


"nggak lucu!" ucap Vino ketus.


Elza masih terkekeh geli, apalagi melihat wajah Vino yang memerah akibat kesal "jangan marah begitu! lo udah minumnya kan?"


Vino mengangguk.


"kalau begitu pergilah! gue mau mandi dan bersiap kuliah" ucap Elza, tidak ada basa basi dia langsung mengusir pria itu.


"haihhh jahat sekali lo ngusir pria setampan diriku" ucapnya menggerutu, tapi dia berdiri dan bersiap pergi.


"dih tampan dari mananya? mengadi-ngadi"


Vino merasa sangat kesal "uh nyebelin banget sih! tapi thanks ya minuman nya, nanti kalau ketemu di kampus gue traktir deh"


"serah.. udah sana pergi"

__ADS_1


"apa lo nggak mau anterin gue? kaki gue pegel tahu" ucapnya mengeluh.


Elza menghela nafas "pergi atau gue lempar nih pakai gelas" mengangkat gelas yang tadi Vino kenakan.


"kyaaa cewek galak!" pekik Vino, dia segera lari dan pergi dari rumah Elza.


Elza hanya menyunggingkan sedikit bibirnya, meski dia kesal tapi sungguh dia merasa senang akan kehadiran Vino melihat tingkahnya yang lucu dan menggemaskan, dan lagi dia merasa kalau pria itu tidaklah jahat.


***


Elza duduk diatas tempat tidur setelah mandi, dia meraih ponselnya hendak menghubungi seseorang.


"hallo kak Reyna" ucapnya menyapa, ternyata Elza menghubungi salah satu sekertaris Tama.


"iya hallo, ada apa el?"


"kak bisa bantu aku?" tanya Elza dengan nada memohon, dia sudah menganggap Reyna seperti kakaknya sendiri mengingat dulu mendiang kakaknya berteman baik dengan Reyna.


"kalau kakak bisa, kakak siap membantu"


"bisakah kakak melamarkan pekerjaan pada boss kakak?"


"kamu gila?! jangan ngawur kamu!"


"aku tidak gila kak, aku serius"


Terdengar helaan nafas dari seberang telefon "kamu tahu bukan seperti apa tuan Tama? apa kamu lupa kalau dia pernah menyakiti sahabatku? kakak kamu sendiri?!"


"ku mohon kak, mengertilah, aku melakukan ini untuk menyelidiki kasus kematian kakak" ucap Elza, suaranya terdengar parau dan hal itu membuat Reyna terdiam, dia tidak suka mendengar Elza yang sudah dia anggap adiknya sendiri bersedih.


"baiklah, akan kakak usahakan"


"terimakasih kak"


"sama sama, kakak tutup telefonnya ya? suami kakak memanggil"


"baiklah, sekali lagi terimakasih"


"tapi kakak ingatkan lagi El ! jangan pernah bermain main dengan dia!"


"aku mengerti"


"ya sudah bye, nanti kakak kabari lagi"


"oke"


Elza tersenyum saat telefon tersebut telah mati, semoga usaha untuk membalas dendam nya berjalan lancar, selain untuk membalas dendam gadis itu memang ingin menyelidiki kasus kematian kakaknya yang sepertinya ditutup tutupi oleh pihak kepolisian.

__ADS_1


__ADS_2