DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
aku akan membantu


__ADS_3

Setelah mandi. Tama berjalan keluar hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.


Tubuhnya yang atletis terekspos. Tubuhnya kekar dan berotot. Beberapa tetesan air mengalir ditubuh Tama membuat pria itu terlihat makin hot dan seksi.


Tama tersenyum saat melihat kopi panas yang terhidang diatas nakas. Ternyata menikah semenyenangkan ini. Ada yang melayani dirinya dan yang sudah pasti ada orang yang menemani nya tidur.


Melihat wajah polos dan lugu Elza saat baru bangun tidur selalu membuatnya semakin menyukai istrinya itu.


Rasanya hati Tama membuncah bahagia.


Tama mengambil kopi tersebut lalu menyesapnya perlahan. Rasanya pas sekali, tak terlalu manis dan tak terlalu pahit.


Tama meletakkan kembali kopi yang ada ditangannya, ia hendak mencari keberadaan Elza. Saat melihat pintu balkon kamar Elza terbuka, Tama berjalan kearah sana.


Elza duduk dikursi yang ada di balkon, gadis itu terdiam merenung. Balkon ini tak terlalu luas, tapi sangat nyaman karena Elza menaruh beberapa pot tanaman.


Tama mengusap kepala Elza karena istrinya itu masih saja diam. Bahkan ia tak menyadari kehadirannya sama sekali.


"oh kau sudah selesai?"


Tama mengangguk. Dia duduk dikursi sebelah Elza.


"bajumu?"


"baju itu sudah bau asam. Aku pakai handuk saja" ucapnya sembari mengusap air yang jatuh didada bidangnya.


Lalu menyisir rambutnya kebelakang, gerakan sederhana itu entah kenapa membuat wajah Elza memerah. Tama sungguh terlihat sangat menggoda sekali.


"a-aku akan mencarikan kaos untuk mu" ucap Elza sembari lari masuk kedalam kamar. Jantungnya berdebar-debar melihat pemandangan indah dari suaminya itu "sial.. kenapa dia sangat mempesona sih! pantas saja banyak sekali wanita yang tergila-gila padanya" bergumam sembari membuka lemari pakaiannya.


Elza menghela nafasnya panjang, itu ia lakukan untuk menenangkan diri. Lalu ia mulai mencari kaos dilemari pakainya, Elza mengingat jika ia pernah membeli kaos yang kebesaran. Jadi ia mencarinya.


"ada atau tidak?" tanya Tama . Dia menyusul Elza ternyata.


"ada.. sebentar" Elza masih berusaha mencari, dan akhirnya ketemu. Memberikan kaos dan celana training keTama.


Setelah Tama memakainya, alis Elza menyernyit karena kaos miliknya terlihat terlalu press body. "ck.. padahal kaos ini sangat kebesaran ditubuhku. Kenapa dipakai olehmu tetap saja tak muat?"


"muat kok" ucap Tama. memang benar muat, hanya saja memang kaos ini sangat kencang ditubuhnya.


"dasar raksasa!" ucap Elza dengan ketus.


"aw aw aw.. sakit" pekik Elza tiba-tiba karena kedua pipinya ditarik oleh Tama. Pipinya dicubit oleh Tama setelah ia mengatai suaminya itu.

__ADS_1


"bukannya bersyukur memiliki suami yang badannya bagus, malah kamu hina seperti itu" ujar Tama terdengar menggerutu.


"ck.. aku bicara fakta kok. Badanmu besar sekali seperti raksasa!"


"kau.. beraninya terus mengatai suamimu!" Tama mengangkat tubuh Elza. Kemudian melemparkannya keatas ranjang. "akan aku hukum gadis nakal ini"


Mata Elza terbelalak saat kedua tangannya diangkat diatas kepala "a-apa yang mau kau lakukan kak? aku masih datang bulan" ucapnya memperingatkan, hal itu ia ucapkan saat merasa sinyal berbahaya dari Tama.


Tama menatap jahil Elza "memangnya apa yang mau aku lakukan? otakmu kok mesum sekali"


Elza menggeleng "a-aku.."


"aku tidak akan melakukan hal yang nantinya menyiksa diriku sendiri" ucap Tama dengan jujur. Tama memang tak akan membangkitkan dirinya yang lain yang nantinya ia yang tersiksa sendiri. Karena Elza belum bisa ia sentuh.


"lalu?" Elza berusaha melepaskan tangan nya tapi kekuatannya kalah jauh sehingga ia tak berdaya.


"aku akan menghukum mu dengaaaan...." ucapnya menggantung. Tama tersenyum penuh arti.


"hahahaha" tawa Elza menggelegar saat Tama menggelitiki pinggang dan perutnya. "hahaha ampun kak"


Tama juga tertawa melihat Elza yang melapaskan tawanya.


"ampun ampun kak.. aduh, aku ingin pipis hahahah" ucap Elza disela-sela tawanya.


Tama menghentikan aksinya. Pria tampan itu menatap mata Elza yang mengeluarkan air mata dari sudut matanya. Tama melepaskan tangan Elza kemudian mengusapnya dengan lembut.


Tama kemudian menatap manik cantik Elza. Sampai beberapa detik mereka berdua hanya saling menatap satu sama lain. Tak ada yang berbicara tapi jika dilihat, tatapan mata mereka menjelaskan segalanya. Tatapan hangat penuh cinta.


"kamu mau membicarakan apa?" tanya Tama sembari menyelipkan anak rambut Elza kebelakang telinga setelah beberapa saat hanya saling tatap saja.


"menyingkirlah dulu. A-aku tidak nyaman berbicara dalam kondisi seperti ini"


Tama mengangguk karena ia melihat sorot serius diirish Elza. Tama menyingkir, kemudian membantu Elza duduk. Mereka duduk saling berhadapan.


Elza tampak ragu untuk berbicara. Gadis itu beberapa kali seperti berfikir.


Tama mengusap kepala Elza dengan sayang "bicaralah.." berucap lembut agar Elza tak ragu lagi.


Elza mengangguk dan menghela nafasnya panjang "ini tentang Nicola Neil"


Tama menatap manik Elza dengan serius "kamu sudah tahu namanya?"


Elza mengangguk "aku mencari tahu akhir-akhir ini"

__ADS_1


Tama masih diam. Tak menyahut, tapi terdengar dengusan kecil. Sebenarnya Tama menunda untuk memberi tahu Elza siapa pelaku pemerkosa Zara. Dia hanya takut Elza merasa terguncang saat mengingatkan lagi tentang hal itu. Sebuah kejadian yang sepertinya membuat Elza cukup trauma karena ia harus kehilangan satu-satunya keluarganya.


Bahkan Elza sampai membuat rencana untuk balas dendam padanya saat mengira orang yang mencelakai kakaknya adalah Tama.


"kenapa kamu hanya diam?" tanya Elza yang merasa penasaran.


Tama menggeleng "apa yang mau kamu bicarakan?"


"aku ingin melihat pria itu"


Tama menatap curiga Elza. Tatapan matanya benar-benar seperti menelisik.


"apa?" tanya Elza yang merasa tak nyaman ditatap seperti itu.


"jangan bilang kamu mau melakukan rencana yang sama seperti yang kau lakukan padaku" tuduh Tama.


"sempat terpikirkan oleh ku sih sebenarnya" ucap santai Elza. Gadis itu sengaja berucap seperti itu untuk melihat reaksi Tama.


"jangan!" dengan cepat Tama berucap. Dia memegang bahu Elza dengan pandangan tajam.


"kenapa?" tanya Elza sembari menaikkan kedua alisnya.


"pokoknya jangan!" ucapnya telak tak mau dibantah. Dia tak mau sampai Elza berurusan dengan Nicola karena dia tahu sebrengsek apa seorang Nicola itu. Bagaimana ia tahu? yah jawabannya adalah karena dulu mereka berada diposisi yang sama, suka menjelajahi dunia wanita. Tapi yang berbeda, Nicola sering kali berbuat kasar pada wanita-wanita nya.


pfftt


Elza hampir saja tertawa mendengar pekikan Tama "apa ini bisa dibilang sebagai tanda keposesifan?"


"terserah kamu mau menyebutnya apa. Tapi yang pasti aku melarangmu untuk berhadapan langsung dengan Nicola. Aku akan menemani mu jika kau memang ingin"


Elza mengangguk, dia menatap mata Tama yang masih menajam. Tangannya dia ulurkan untuk memegang tangan Tama yang terlihat terkepal, menggenggamnya. Elza tersenyum dan menggeleng "jangan marah" ucapnya kemudian. Elza tak menyangka jika suaminya ini akan menunjukkan reaksi seperti ini.


Tama menghela nafasnya panjang, menguasai dirinya agar lebih tenang. "dengar sayang. Nicola bukan pria yang baik, kalau kamu mau membalaskan dendam mu padanya aku akan membantumu." ucap Tama sembari memegang kedua tangan Elza. Dia berucap dengan bersungguh-sungguh.


Elza mengangguk sembari tersenyum "terimakasih. Aku sebenarnya hanya ingin melihat wajahnya saja kok. Apa kamu bisa membantuku?"


Tama mengangguk "kalau itu aku bisa. besok ikutlah aku"


Elza mengangguk setuju.


"jangan pernah berfikiran bodoh seperti tadi!" ucap Tama sembari menuding kening Elza.


Elza berdecak "iya iya"

__ADS_1


"good!"


Setelah obrolan itu, sepasang suami istri itu kembali mengobrol. Tapi tak membahas Nicola lagi, mereka menyetujui untuk tak membicarakan Nicola karena Tama takut nanti membuat mood Elza memburuk.


__ADS_2