
Elza membuka pintu gerbang dengan perasaan senang karena dapat pulang dan akan kembali menetap dirumah ini.
Banyak kenangan yang indah disana, jadi ia akan sangat merindukan rumahnya jika lama tidak pulang.
Rumah minimalis ini tidak terlalu besar tapi selalu membuatnya nyaman saat berada didalamnya.
"Elza.."
Elza menghentikan tangannya yang hendak mendorong pintu tersebut saat mendengar seseorang memanggil namanya. Dia tersenyum kearah pria tersebut "ada apa bang?"
Pria itu menatap Elza dengan intens "kamu lama sekali tidak terlihat?" tanyanya. Pria itu adalah Reza, tetangga Elza yang selalu perhatian padanya.
Elza tersenyum kaku, ia tidak akan memberitahukan Reza jika selama ini dia tinggal bersama dengan Tama "aku menginap dirumah Lisa" ucapnya beralasan.
"selama itu?"
"iya" ucapnya sembari membuang muka, ia tidak berani menatap Reza karena telah berbohong.
"oh" Reza hanya memberikan respon seperti itu, dia tahu jika gadis yang ada dihadapannya ini tengah berbohong. Tapi ia tidak mau memaksakan keingintahuan dirinya dengan bertanya lebih lanjut karena melihat jika gadis itu terlihat tidak nyaman.
"a-aku masuk dulu bang"
Reza mengangguk dan memperhatikan Elza sampai gadis itu masuk kedalam rumah "kenapa sulit sekali mendekatimu? kamu memagar hatimu dengan sangat tinggi sampai akupun tidak bisa memasukinya" batinnya berucap dengan sedih. Elza selalu menghindarinya, padahal ia selalu mencoba untuk dekat dengannya. Tapi gadis itu memang benar-benar membentengi dirinya sendiri sampai-sampai ia hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apapun.
**
Elza mengintip Reza dari celah jendela rumahnya. Pria itu pergi cukup lama setelah ia masuk kedalam, tatapan matanya sedih "maaf bang, aku tidak mau memberimu harapan palsu yang nantinya malah akan menyakiti mu, lebih baik seperti ini saja"
Gadis itu memilih untuk segera berjalan menuju kamarnya, tapi sebelum itu fokus Elza teralihkan pada kamar milik mendiang kakaknya yang sudah lama sekali tidak ia masuki.
Semenjak meninggalnya kak Zara, Elza hanya beberapa kali masuk kesana saat ia merindukan sosok wanita cantik keibuan yang selalu menyayangi nya. Kakaknya itu selalu memperlakukan dirinya dengan sangat baik.
Langkah kakinya berbelok, dia berjalan kearah pintu kamar milik kak Zara. Tangannya ia ulurkan untuk membuka handle pintu.
Aroma kakaknya terasa menggelitik indera penciumannya. Baru mencium aroma kakaknya saja mata Elza langsung memerah.
Elza menghela nafasnya beberapa kali agar hatinya kuat, dia melangkah masuk kedalam kamar dengan pelan "selamat siang kak" ucapnya terdengar parau. Dia berjalan menuju ranjang yang sudah beberapa bulan ini tidak ia ganti sepreinya. Ia sengaja melakukannya Agar aroma kakaknya tidak hilang.
__ADS_1
Dia duduk ditempat tidur, mengusap bantal yang selalu kakaknya gunakan. Air mata tanpa sadar menetes begitu saja "kak Zara.."
"hiks.."
Tangannya terkepal erat, merem**s bantal tersebut "kak.. aku sangat merindukanmu"
brug
Gadis itu menjatuhkan tubuhnya diatas bantal tersebut "hiks.. hiks.. hiks.." pecahlah air mata yang sedari tadi ia tahan. Sungguh Elza sangat merindukan kakaknya.
Elza memang terlihat kuat, tapi sebenarnya hatinya benar-benar patah saat kehilangan keluarga satu-satunya. Elza mencoba untuk mengikhlaskan kakaknya tapi rasanya masih sulit.
Beberapa kali Elza pernah berfikiran untuk menghabisi nyawanya sendiri, tapi mengingat dendam yang ada dihatinya Elza mencoba untuk kuat. Mencoba bangkit dari keterpurukannya meski sebenarnya dia tidak mampu.
"bukankah kakak berjanji untuk menjagaku selamanya? kenapa kakak mengingkari janjimu? kakak sungguh jahat padaku.. hiks hiks.." gadis itu kembali menangis dengan keras, dia sungguh merindukan sosok cantik yang selalu lembut padanya.
dug dug dug
Elza memukul dadanya yang terasa sesak, lalu ia meraih satu foto yang ada diatas nakas. Foto dirinya dan sang kakak yang tengah tertawa bahagia saat merayakan keberhasilannya bekerja di perusahaan yang besar. Mereka merayakannya disebuah pantai yang sangat cantik. Dulu Elza masih sekolah menengah pertama.
"kak~~" mengusap wajah cantik kak Zara dengan pelan "aku sudah salah mengenali orang, aku salah mengenali orang yang membuatmu sampai tiada"
Elza terdiam, dia teringat bagaimana hubungannya dengan Tama akhir-akhir ini. Dadanya berdebar tiba-tiba saat memikirkan pria tersebut.
"apa aku jahat padamu kak? apa kau akan membenciku karena tanpa aku sadari aku malah--" Elza tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia memejamkan matanya untuk menguasai emosi hatinya.
Ya.. Elza menyadari jika ia mulai mencintai Tama. Tanpa ia sadari pesona Tama membuatnya jatuh hati. Bagaimana peringai nya, dan bagaimana lembutnya saat pria itu memperlakukan dirinya membuat Elza terbuai.Hatinya mulai mengkhianati dirinya.
"maafkan aku kak ~"
Gadis itu terus berbicara dengan foto kakaknya sampai tanpa sadar tertidur disana.
**
Ting nong ting nong
Elza menggeliat saat mendengar bunyi bel, dia menyipitkan matanya dan mencoba untuk membuat kesadarannya kembali.
__ADS_1
Elza menghela nafasnya saat ia menyadari jika ia tertidur dikamar kak Zara.
Ting nong ting nong
Elza turun dari tempat tidur dan berdiri, tapi pandangannya buram.
"emhh" memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Dia bahkan sampai terduduk kembali "pusing sekali" gumamnya, tapi saat mendengar bel yang terus berbunyi Elza memaksakan diri untuk segera keluar kamar dan membukakan pintu.
"kenapa lama sekali?" keluh seseorang yang telah menunggu cukup lama didepan teras. Dia adalah Tama.
Elza terkejut melihat siapa yang datang "kenapa anda kemari?" tanyanya.
Pria itu menyernyit melihat wajah Elza dan penampilan Elza. Gadis itu masih mengenakan baju yang ia pakai tadi pagi.
Wajahnya tampak sayu dengan mata yang sembab. Wajahnya juga pucat "kamu sakit?" tanya Tama dengan khawatir, dia memegang kening Elza. "panas, kamu demam Elz"
Elza menggeleng "tidak papa, aku akan minum obat penurun panas nanti. Ada apa anda kemari?"
"Ck dasar gadis bodoh, ayo kerumah sakit sekarang!"
Elza terbelalak "eh-- tidak perlu tuan. ini hanya demam biasa kok"
"tidak bisa! kamu harus segera diobati"
"aku punya obat penurun panas didalam. aduh kepalaku sakit"
Tama menghentikan langkahnya saat mendengar keluhan gadis itu, ia menoleh kebelakang "astaga, baiklah-baiklah.. aku tidak akan memaksamu" ucapnya saat melihat wajah Elza bertambah pucat.
Dengan gerakan cepat, Tama menggendong tubuh Elza.
"ah-- tuan! apa yang anda lakukan?!" pekik Elza karena terkejut
"diamlah! kamu itu sedang sakit kenapa marah-marah seperti itu"
"tapi aku masih bisa jalan, aku hanya demam! tidak pincang"
"diam atau aku akan melemparmu kelantai!"
__ADS_1
Elza mendengus tapi menurut dan tidak bicara lagi, gadis itu mendongak melihat wajah tampan Tama. Tapi setelah itu dia kembali menunduk.
Karena jaraknya yang sangat dekat, Elza dapat mencium aroma maskulin pria ini. Sungguh terasa sangat menenangkan baginya. "didalam gendongannya kenapa terasa nyaman sekali?" ucapnya dalam hati sembari memejamkan matanya.