DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
tante?


__ADS_3

Elza membersihkan kamar Tama, dia mulai mengelap meja nakas dan semua yang bisa dia bersihkan.


ceklek


Pintu kamar mandi terdengar terbuka, membuat Elza yang sedang fokus pada pekerjaannya menoleh.


"kyaaaaaaa" pekiknya kencang sekali saat melihat Tama hanya menggunakan handuk saat keluar dari bathroom.


Elza menutup wajahnya dengan kedua tangan "kenapa anda telanjang tuan! saya malu" keluh Elza.


"seharusnya aku yang malu karena aku yang tidak pakai baku, tapi kenapa kamu yang heboh begitu?"


"ck! maaf tuan saya itu masih sepolos dan sesuci embun pagi, jadi ini sangat memalukan sekali !" berlari menuju pintu, dia segera keluar dari sana.


Tama terkekeh melihat tingkah lucu gadis itu, lalu berjalan menuju ruang ganti pakaian.


"gilaaaa!!" pekik Elza, dia jatuh terduduk dilantai saat sampai diluar.


Wajahnya memerah "ternyata badannya sangat bagus, saat berpakaian tidak terlalu kelihatan"


"kyaaaa apa yang gue pikirkan" bertambah merahlah wajahnya, dia memukul kepala nya sendiri agar tersadar.


"untung gue nggak mimisan melihat roti sobek" bergumam kembali "kyaaa apa yang gue katakan!"


plak


plak


plak


Memukul mulutnya sendiri, otaknya yang polos dan suci tercemar oleh pemandangan yang untuk pertama kalinya dia lihat, dan sialnya itu terlihat menggoda.


"sialan, otak gue jadi berfikiran yang tidak tidak sekarang"


Elza berdiri, dia segera lari menuju dapur untuk menenangkan diri, dia mencuci wajahnya ditempat pencucian piring.


Wajahnya masih merah, tapi nafasnya yang tadi sangat cepat berangsur membaik.


Dia masih terdiam, memikirkan tubuh atletis Tama barusan benar benar membuatnya gerah.


"el"


Elza terlonjak, dia terkejut saat Tama memanggil namanya "kyaa.. roti sobek!" pekik Elza.


Kemudian wanita cantik itu menutup mulutnya dengan tangan, berbalik badan sehingga melihat wajah Tama yang tampak menyernyit melihat reaksinya.


"roti sobek?"


"eh hehehe saya ingin makan roti sobek tuan" ucapnya beralasan.


"kalau kau mau, ayo pergi kemini market sekalian membeli keperluan dapur lainnya"


Elza mengangguk, dia mendekati Tama "ayo tuan" ucapnya bersemangat.


"apa kamu tidak berniat mengganti baju dulu?" ucap Tama sembari memperhatikan baju yang dikenakan gadis yang ada dihadapannya, dia mengenakan kaos oversize dengan celana pendek diatas lutut.


"tak Perlu tuan, lagian saya hanya membawa baju beberapa saja"

__ADS_1


Tama mengangguk saja, dan berbalik badan.


"tuan"


Tama menoleh kebelakang sekilas "hmm"


"apa anda tak tertarik padaku?"


Tama terbelalak, dia menghentikan jalannya dan segera berbalik badan "apa maksudmu?" tanyanya dengan wajah serius.


"hahaha apa sih tuan? serius sekali, saya hanya bercanda kok"


Tama mendengus dan kembali berjalan keluar apartemen, beberapa anak buahnya mengangguk saat Tama melewatinya.


"apartemenmu pasti sangat mahal bukan? anda memiliki unit disatu lantai" prok prok prok "itu sangat keren"


Tama menekan tombol lift, dia melirik Elza yang berdiri disisinya "begitulah, selain itu aku juga keren" mengusap rambutnya kebelakang sembari tersenyum menatap Elza.


Keduanya masuk kedalam lift saat pintu terbuka "hahaha kenarsisanmu itu membuatku geli tuan, tapi sayapun tak bisa menampik kalau apa yang anda katakan barusan benar adanya"


Tama tertawa terbahak mendengar celotehan gadis yang ada disisinya "kau sangat polos el"


Elza tampak tersenyum, senyum dengan penuh arti "saya tak sepolos kelihatannya tuan"


Saat keluar lift Tama segera pergi kebasement dan menuju mobilnya dan segera pergi kemini market terdekat.


Kedua orang itu memasuki mini market bersama, mereka seperti sepasang kekasih dan karena wajah mereka yang good lucking membuat perhatian orang yang ada didalam minimarket terus memperhatikan mereka.


"apa saya terlihat aneh ya tuan?" tanya Elza penasaran saat semua orang tampak menatap dirinya.


"kamu cantik"


"mungkin, kamu tahu bukan? kalau aku setampan ini"


Elza lagi lagi tertawa "anda sungguh narsis sekali"


Tamapun tergelak, dia mendorong tubuh Elza menuju tempat roti.


Elza yang sudah mendorong troli menganga melihat Tama mengambil banyak sekali roti sobek "tuan"


"ya?"


"kenapa anda mengambil banyak sekali roti sobek?" tanya Elza bingung.


"katanya kamu mau roti sobek?"


"tidak! aku tak terlalu menyukainyaa, tadi aku hanya beralasan saja!" pekik Elza dalam hati.


"iya, tapi tidak sebanyak ini"


"tidak papa, ini bisa buat beberapa hari, takutnya kamu ingin roti lagi tapi sudah tak ada lagi"


"tapi tuan-"


"sssstttt, diamlah"


Elza menghela nafas panjang, dia pasrah dan membiarkan apapun yang dilakukan oleh Tama, dan dia kembali fokus mengambil apa saja yang diperlukan untuk dapurnya dan membeli bahan makanan juga.

__ADS_1


"beeeebbb"


Tama dan Elza menengok kearah suara perempuan yang memekik kemudian alis Elza dan Tama menyernyit melihat wanita cantik yang sedang berlari menuju keduanya.


Mata Elza melotot saat melihat wanita itu tanpa segan langsung memeluk Tama erat.


"beb kamu kemana saja? aku sangat merindukanmu"


Tama melepaskan pelukan wanita itu "kau siapa?"


"aku pacarmu, huaaa jahat sekali kamu melupakanku" pekik wanita itu.


"andini?" tanya Tama memastikan.


"huaaa bukan! menyebalkan sekali"


Elza menatap jijik wanita yang sedang berpura pura menangis itu "jala*g!"


"lalu kau siapa?" tanya Tama, dia mulai merasa jengah melihat wanita yang sok manja itu.


"aku Tiara"


Tama mengangguk "kalau begitu, pergilah! aku sedang belanja!"


"biar aku bantu oke?"


ehem


Tama dan Tiara menoleh kearah suara deheman.


"tuan, apa anda akan belanja dengan tante ini? kalau iya saya pulang saja" menyerahkan troli besi yang sudah berisi banyak belanjaan.


"tante? siapa dia beb? keponakanmu?"


"bukan"


"lalu kenapa memanggilku tante?!" tanya Tiara dengan wajah menatap tak suka pada Elza, menatap wajah lembut dan cantik gadis itu.


Lalu Tiara tampak menilai penampilan Elza "baju yang dia kenakan murahan! tapi wajahnya lumayan, kulitnya putih bersih matanya berbinar bulu matanya lentik, alis yang rapi tapi tampak itu adalah alis asli, bibirnya lumayan ****" Tiara menggeleng, biasa bisanya dia malah memuju gadis yang telah mengatainya tante.


"jangan pergi, ayo bayar saja dan langsung pulang" menahan lengan Elza yang hendak beranjak.


"sayang, kita baru bertemu setelah beberapa bulan tak bertemu, kamu jahat sekali" rajuk manja Tiara, hal itu membuat Tama semakin jijik.


Tama menghempaskan tangan Tiara yang tengah memegang lengannya "mulai saat ini kita putus!"


Tama berjalan kearah kasir dan mengabaikan Tiara, dia bahkan melupakan Elza.


"sayang" hendak mengejar Tama tapi lengannya di cekal oleh Elza.


"sabar ya tante Tiara" ucap Elza dengan wajah iba tapi dari nada bicaranya terdengar mengejek, dia bahkan sekarang melipat mulutnya kedalam menahan tawa.


"hey gadis sialan! ini semua karena kau!" menghempaskan tangan Elza.


Elza menatap kesal Tiara "malah menyalahkanku,aneh sekali ! tante Tiara kamu itu salah mencari pacar, dia itu buaya darat jadi lupakan dia dan carilah pria baik baik"


"diam kau!" bentak Tiara.

__ADS_1


Elza malah tergelak "jangan marah marah, nanti cepat tua! bye tante" menjulurkan lidahnya kemudian lari menjauh dan menghampiri Tama, mengabaikan umpatan wanita yang baru saja putus cinta itu.


__ADS_2