DENDAM DAN CINTA

DENDAM DAN CINTA
ungkapan tidak terduga


__ADS_3

Lisa yang baru saja bangun mengucek matanya, ia menoleh kearah tempat tidur sahabatnya "Elza kemana?" gumamnya dengan suara parau saat tak melihat batang hidung sahabatnya itu.


Lisa menurunkan kakinya kelantai lalu ia berdiri. Sembari menguap Lisa berjalan menuju bathroom.


tok tok tok


"Lo didalem Elz?" tanya Lisa masih dengan suara parau. Dia menempelkan telinganya dipintu karena tak kunjung mendapat jawaban. Tak terdengar suara apapun sampai ia pada akhirnya menarik handle pintu.


Matanya berkeliling mencari keberadaan sahabatnya, dan memang Elza tidak ada disana. Lisapun mutuskan untuk gosok gigi dan mencuci muka. Dan setelah itu Lisa keluar kamar.


Dengan langkah santai, Lisa berjalan sembari mengikat rambutnya asal.


Dan setelah sampai dilantai bawah, gadis itu hendak mencari keberadaan Elza diruang makan. "El-- hmmppt"


Mata Lisa terbelalak saat seseorang membekap mulutnya yang hampir memanggil nama Elza. "hmmppt" masih berusaha untuk berbicara dan meronta.


"diamlah nona!" ucapnya berbisik.


Lisa terdiam setelah mendengar suara bariton seseorang, dia menolehkan wajahnya kebelakang. Sampai ia melihat dengan jelas siapa pelaku yang dengan tidak sopan membekap mulutnya seperti ini. Mata yang awalnya melotot karena kesal berubah melembut saat melihat siapa yang melakukan hal ini, seorang pria tampan yang kemarin ia ikuti karena merasa bosan setelah ditinggal Elza "ini kan si tampan. Tuan Arlendra"


Arlendra yang awalnya menghadap kedepan sedikit menunduk sampai matanya bertemu pandang dengan mata cantik milik Lisa. Lalu dengan cepat Arlendra membuang muka "bisakah anda tidak berisik?"


Lisa dengan cepat menggeleng.


"tidak bisa! mau apa kau?!" begitulah arti tatapan mata Lisa yang Arlendra tangkap. Pria tampan itu menghela nafasnya panjang, lalu memutar wajar Lisa kearah pandangnya.


Tapi Lisa dengan iseng kembali menatap kearah Arlendra "kenapa aku harus menghadap kesana jika dibelakang ada masa depanku. Eaaa... duh keren banget gue" batin absurd Lisa berucap.


"lihatlah kesana nona!" ucap Arlendra menekan, tapi ucapannya memang sedari tadi berbisik membuat Lisa akhirnya penasaran.

__ADS_1


Gadis itu mengikuti arah pandang Arlendra, ia membelalakan matanya saat melihat Elza tengah dipeluk oleh tuan Tama.


"anda tidak mau mengganggu mereka bukan?"


Lisa menggeleng dengan cepat, kalau ia mengganggu dan membuat tuan Tama marah bisa saja ia dikurung di pulau ini dan tidak bisa keluar. Setelah memikirkan hal itu Lisa menjadi takut.


"good"


Lisa merasa merinding saat Arlendra lagi-lagi berbisik didekat telinganya. Dan setelah Arlendra melepaskan bekapannya.


Grep


Arlendra terkejut saat gadis ini langsung memegang tangannya dengan erat. Ia menunduk dan melihat tangan yang digandeng oleh gadis centil ini.


Lisa yang tanpa sadar menggenggam tangan Arlendra, menariknya. Berjalan dengan cepat tapi berjinjit agar tidak terdengar suara langkah kakinya mendekati tempat Elza berada.


Lisa menoleh dengan pandangan tidak suka "jangan berbisik di telingaku! apa anda akan bertanggung jawab jika aku tera**sang?"


Mata Arlendra terbelalak mendengar ucapan frontal gadis ini.Ia terkejut mendengar ucapan frontal tersebut "dasar gadis tak tahu malu!"


"ssstt... diamlah!"


Arlendra hanya bisa menghela nafasnya panjang dan mengikuti ucapan gadis ini yang sedang mengintip tuan Tama.


Diruang makan.


"Aku tidak suka kamu menatap pria lain!" ucap Tama menekankan setiap ucapannya didekat telinga Elza.


Tama benar-benar kesal saat mengingat jika gadis yang ada dipelukannya ini memandangi pria lain. Meski pria itu adalah anak buahnya sendiri.

__ADS_1


Elza sampai merinding mendengar bisikan Tama, tapi yang lebih merinding lagi kata-kata yang ia lontarkan. Dia tahu jika Tama sudah memiliki perasaan padanya. Tapi berbuat seperti ini bukannya ia terlalu berani?


Jantung Elza pun tanpa bisa ia cegah berdebar tidak karuan. Aliran darahnya mengalir dengan cepat dan terasa mengumpul diwajahnya.


Sepertinya sekarang wajahnya sudah semerah udang rebus.


Tama membenamkan wajahnya dileher jenjang Elza. Mencium aroma manis gadis yang ia cintai ini.


Tubuh Elza membeku, pikiran dan hatinya berbeda pendapat sekarang. Jika pikirannya ingin Elza mendorong Tama, tapi entah kenapa tubuh dan hatinya malah mencegahnya melakukan hal itu.


"Elza Rose Arabella.. Aku sangat mencintaimu. Aku ingin memilikimu. Aku sudah sangat tergila-gila padamu sampai aku tidak rela jika kamu memandangi pria lain seperti tadi" ucap Tama terdengar jelas ditelinga Elza. Ia mengeratkan pelukannya.


deg deg deg


Dan debaran jantungnya semakin cepat saat ungkapan cinta tiba-tiba saja Tama ucapkan padanya. Bahkan jantungnya terasa hampir melompat dari tempatnya karena tak menyangka ucapan tersebut bisa keluar dari mulut seorang Casanova ini.


"Aku sadar diri jika aku tidak pantas untukmu. Aku seorang pria brengsek yang memiliki masa lalu yang kelam. Tapi aku akan berubah mulai sekarang. Aku berjanji akan menjadi pria baik agar pantas berada di sisimu" ucapnya terdengar mulai parau.


Tangan Elza yang awalnya hanya diam disisi tubuhnya mulai terangkat, dia menepuk punggung Tama dengan pelan saat merasa ucapan pria ini benar-benar serius.


Antara percaya atau tidak, karena Elza tahu sekali bagaimana brengseknya Tama. Elza tidak yakin jika Tama tulus mencintainya karena mengingat bagaimana pria ini hidup selama ini dengan dikelilingi oleh wanita-wanita cantik.


Tama melepaskan pelukannya dan menatap wajah Elza.


Tama tahu jika Elza tampak shock, mungkin ia terlalu terburu-buru. Tama mengusap pipi gadis cantik ini dengan lembut "jangan terlalu difikirkan"


Elza masih saja diam, dia tidak berani menatap mata Tama secara langsung. Dia selalu menghindari kontak mata dengannya.


Saat merasa tangan hangat Tama mengusap kepalanya, Elza baru mendongak. Tatapan mata hangat Tama membuatnya semakin berdebar-debar. "sial.. sepertinya aku sudah termakan rayuan buaya"

__ADS_1


__ADS_2