
"memamangnya seberapa banyak pacar tuan sampai sampai anda tak mengenalinya tadi?" tanya Elza saat baru saja mobil melaju meninggalkan area minimarket.
Tama menoleh kesamping sekilas kemudian kembali fokus kejalan "entahlah"
Elza menatap dalam Tama "anda tak tahu? astaga tuan, anda begitu--"
"apa?" tanya Tama dengan wajah seriusnya.
Elza masih terdiam "maaf saya terlalu lancang tuan" ucapnya setelah menyadari apa yang dia katakan.
"nggak papa, aku memang sebrengsek itu kok" jawab Tama cuek.
"maafkan saya tuan"
"sudahla el, saya memang memiliki banyak sekali kekasih, sampai aku melupakan siapa saja mereka"
"kenapa?"
"aku bukan pria baik dan aku tak munafik kalau aku tergoda dengan para wanita cantik, tapi semua itu--" Tama terdiam saat melihat Elza begitu serius mendengarkan.
"ah lupakan" ucapnya kemudian dan kembali fokus kejalan.
Elza membuang nafasnya palan, dia sedikit kecewa saat Tama tak melanjutkan ucapannya.
Elza menunduk dengan fikirannya yang mulai resah "jangan jangan dia tak mengingat kak Zara" batinnya bersuara.
__ADS_1
Dia bertekad akan menggali informasi sedetail mungkin, agar dia tak salah langkah dalam bertidak.
Sesampainya diapartemen, kedua orang itu segera melakukan kegiatannya masing masing.
**
malam harinya...
ting nong ting nong
Elza yang sedang meletakan masakannya diatas meja menoleh kesumber suara, dimana suara bel apartemen ini berbunyi, dengan langkah pasti gadis cantik itu berjalan kearah pintu dan segera membukanya.
Elza terdiam saat melihat ada seorang pria gagah dan tinggi berada dihadapannya sekarang, sungguh Elza terkagum melihat betapa sempurnanya wajah pria tersebut.
Berbeda dengan ekspresi Elza justru saat ini pria tersebut tampak begitu bingung melihat adanya seorang wanita diapartemen milik atasannnya itu "selamat malam nona" sapanya sopan.
Pria itu tampak menoleh kesamping, dia tampak memastikan sesuatu "benar ini aprtemen tuan Tama kan?"
Elza mengangguk mengiyakan.
"lalu anda siapa?" tanyanya serius, dia memperhatikan Elza dari atas sampai bawah "cantik" batinnya menilai.
Elza yang sadar tengah diperhatikan menutup dadanya dengan kedua lengan "apa yang anda lihat!" kesal juga saat ada seorang pria menatap intens tubuhnya.
"maaf anda siapa?" tanya pria tersebut lagi, dia tampak mengingat ingat wajah para pacar Tama tapi sama sekali tak mengenalnya, tapi setahunya tak ada seorangpun pacar Tama yang diperbolehkan masuk kedalam apartemen, bahkan mereka tak dapat masuk kedalam lift sekalipun.
__ADS_1
Lalu siapa wanita ini? dari proposal tubuh dan wajah bisa saja dia pacar Tama.
prok prok
Elza menepuk tangannya. dia menyadarkan lamunan pria tampan yang ada dihadapannya.
"eh maaf, boleh saya masuk?"
Elza memalangkan tangannya dipintu "anda siapa?"
"saya asisten tuan Tama" ucapnya dengan wajah serius.
Elza menggut manggut lalu berdiri menyamping membiarkan pria itu untuk masuk, dia percaya saja mengingat tak sembarang orang bisa masuk keunit apartemen milik Tama.
"maaf nona, boleh anda memperkenalkan diri dulu? apa anda kekasih tuan?"
Elza menggoyangkan kedua tangannya "bukan, perkenalkan tuan" Elza mengulurkan tangannya dan dibalas oleh pri itu "saya Elza, asisten rumah tangga tuan Tama"
Pria itu tertegun, sejak kapan tuan nya itu memiliki asisten diapartemen? bukannya dia tak memperbolehkan ada orang asing yang tinggal diapartemen ini? lalu wanita ini? Pria itu menggeleng mengenyahkan fikirannya "saya Raka"
Ehem
Raka dan Elza terkesiap dan menoleh kesumber suara, terlihat Tama yang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.
Dan Raka tahu tatapan mata Tama mengarah pada tangan mereka yang masih terkait, dia buru buru melepaskannya "tuan" ucapnya sopan dan sedikit pias, meski dia adalah temannya sendiri tapi mengingat kedudukannya dibawah Tama dia selalu bersikap profesional.
__ADS_1
"masuk!"
Raka tersenyum canggung, dia segera menyusul Tama dan diikuti oleh Elza.