
"selamat siang tuan" sapa seorang pria saat Tama dan Elza baru saja turun dari mobil. Mereka telah sampai diparkiran apartemen milik Tama.
Ia menunduk dengan begitu hormat.
Tama menyernyit melihat pria itu "ada apa?" tanya Tama saat melihat keseriusan diwajah asistennya itu.
Raka melirik gadis yang saat ini berdiri disisi Tama, ia enggan menjawab karena merasa ini pembahasan yang penting.
Elza yang peka menoleh kearah Tama "saya pulang dulu tuan"
Tama memegang tangan Elza, sepertinya dia keberatan jika Elza harus pergi.
"tuan"
Tama berdecak saat Raka memanggilnya dengan nada rendah "ck.. menyebalkan sekali kau!" lalu pria itu menoleh kearah Elza "biar supir yang mengantarmu"
Elza mengangguk "barang-barangku--"
"nanti aku antar" ucap Tama dengan cepat, dia mendorong Elza masuk kembali kedalam mobil dan segera menutup pintunya agar gadis itu tak ada kesempatan untuk menolaknya.
Elza hanya mendengus dan mengumpati pria itu dalam hati. Kenapa dalam hati? jawabannya ya karena disana ada supir Tama sehingga ia tak berani. Takutnya nanti dia melapor pada Tama.
Tama menatap kepergian mobil itu sampai tidak lagi terlihat.
"aish... tuan ternyata bisa sampai seperti ini ya? padahal biasanya tuan tidak peduli dengan wanita-wanita milik anda"
Tama menoleh sinis mendengar sindiran dari asisten sekaligus temannya itu "cih.. ini semua karena dirimu dia memilih untuk pulang! gaji bulan ini akan kupotong sepuluh persen!"
Raka mendengus "ck anda sungguh keterlaluan tuan" ujar Raka sembari mengikuti langkah kaki Tama yang mulai berjalan kedalam apartemen.
Setelah sampai didalam apartemen, Tama duduk di sofa ruang tamu "duduklah" ucapnya mempersilahkan temannya itu untuk duduk. Walau mereka cukup dekat, tapi jika mengenai pekerjaan Raka akan sangat profesional.
Raka duduk dihadapan Tama, ia menatap wajah Tama yang tampak segar "sepertinya berlibur selama beberapa hari mempengaruhi mood anda"
Tama menatap wajah Raka sembari tersenyum senang "tentu saja"
"karena mood anda sedang baik, lebih baik anda segera berganti pakaian karena dua jam dari sekarang kita akan meeting dengan klien dari Jepang" ucap Raka sembari mengangkat tangan untuk melihat jam tangan yang melingkar disana.
Tama terkesiap "bukankah besok?" tanya Tama dengan cepat, karena seingatnya Raka bilang bahwa klien itu akan sampai hari ini dan memulai meeting besok.
"mereka mempercepat meeting karena mereka akan pulang hari ini juga"
Tama mendengus "cih seenak jidat merubah jadwal! tidak profesional sama sekali"
"jangan menggerutu tuan, jika kesepakatan ini deal kita akan untung jutahan dolar"
Tama berdiri dari duduknya "kalau begitu gue akan bersiap, jangan sampai sarang uang itu lepas. lumayan kan buat modal nikah" ujar Tama sembari tersenyum, dia dengan cepat berdiri dari duduknya hendak bersiap.
"Menikah?" ucap Raka dengan cengo, ia menatap punggung Tama yang semakin menjauh meninggalkan ruang tamu.
Bos yang selama ini selalu mempermainkan wanita, dan bergonta-ganti wanita bak ganti baju setiap harinya. Membicarakan tentang pernikahan?
"Apa tadi gue salah dengar?" pria tampan itu bahkan sampai mengorek telinganya karena ia fikir hal itu mustahil.
__ADS_1
Tapi jika ditelisik lagi, pria itu memang sudah tak lagi meminta dirinya untuk menghubungi para wanitanya. Saat Tama meminta data-data para wanitanya pun Raka sempat curiga.
Apalagi setelah beberapa hari, Raka menemani Tama untuk memutuskan hubungan tidak sehat itu. Sungguh mencengangkan.
Awalnya Raka kira hal itu terjadi karena Tama merasa bosan pada mereka semua. Tapi setelah itu, Tama selalu fokus membicarakan satu wanita yaitu gadis yang tadi ada disisinya.
Apa gadis itu sehebat itu bisa menaklukkan hati seorang Casanova seperti Tama? Raka kira Elza adalah salah satu mainannya saat ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya di dalam apartemen milik Tama.
Tapi ternyata gadis itu memang telah menguasai hati Tama sampai membuatnya menyingkirkan semua wanita yang selalu menghangatkan ranjangnya.
Raka memijat keningnya yang terasa berdenyut. Kepingan memori beberapa waktu yang lalu kembali berputar dikepalanya.
flashback
Setelah beberapa hari Raka dibuat terkejut akan permintaan yang menurut Raka aneh dengan meminta data-data para wanitanya.
Sekarang ia harus menjadi supir untuk mengantar atasannya itu ke alamat-alamat yang tertera didata tersebut.
Dia hanya bisa menuruti permintaan Tama tanpa bisa menolak karena dia hanya seorang bawahan.
Dimulai dari wanita-wanita yang Raka sama sekali tidak ia ketahui. Umpatan-umpatan datang saat niat Tama untuk memutuskan mereka terucap dari bibir pria itu.
Beberapa wanita yang bar-bar sampai melempar benda padanya dan Tama karena diputuskan begitu saja.
Beberapa dari mereka ada yang sampai berlutut dan menangis agar hubungan itu tidak berakhir.
Raka yang melihat hal itu sungguh jengah, dia merasa jijik melihat wanita-wanita jal**g itu.
***
"apa anda masih kuat tuan?" tanya Raka sembari menahan tawanya. Dia tidak menyangka jika seorang Tama bisa berada dititik ini.
Wajah rambut dan bajunya telah berantakan, dia benar-benar menyedihkan.
"gue tidak pernah menyangka jika mereka akan sangat menyeramkan seperti itu" ujarnya sembari menyisir rambutnya kebelakang dengan jari.
Lalu ia menoleh kearah Raka "oh bagus.. tertawa lah sepuasmu! akan kupotong gajimu karena telah mentertawakan bosmu yang sedang kesusahan" ucapnya ketus saat melihat Raka melipat mulutnya kedalam, menahan tawanya.
"hahahaha... maaf tuan. Saya sudah tidak tahan lagi untuk menahannya" meledak juga tawa Raka.
Tama hanya bisa mendengus, memang jika dipikir-pikir ini memang sangat konyol. Tapi jika tidak ia lakukan, Tama takut nantinya Elza akan terkena masalah dengan mereka semua. Dan keputusan nya sepertinya benar karena ia dapat melihat betapa mengerikannya mereka semua.
Setelah obrolan itu, mereka melanjutkan perjalanan menuju salah satu apartemen yang cukup mewah dipusat kota.
Setelah sampai, Tama tampak termenung. Walau bagaimanapun wanita ini adalah pacar terlamanya selama ini. Bukan berat untuk memutuskan hanya saja ia tahu bagaimana tempramental wanita itu. Dia adalah gadis yang arogan dan pendendam.
"tuan"
Tama menoleh kearah Raka "hmm"
"apa anda berat memutuskan wanita yang ada disini? apa nona Andini memiliki ruang tersendiri dihati anda?" tanya Raka saat melihat keraguan diwajah Tama.
Tama merubah ekspresi wajahnya "tentu saja tidak! ayo!"
__ADS_1
Raka mengikuti Tama yang telah keluar dari mobil. Dari apa yang dia tahu, Andini adalah wanita Tama yang lumayan sering ia pakai.
Jika dilihat bagaimana Tama mengetahui letak apartemen wanita itu, hal itu bisa menggambarkan jika pria itu sering kali datang kemari.
Bahkan lock door apartemen Andini saja pria itu mengetahuinya.
Saat baru masuk kedalam apartemen, seseorang yang duduk di sofa ruang tamu langsung menoleh kearah pintu.
Dia tampak terkesiap, sepertinya ia tidak menyangka jika Tama akan datang siang ini "selamat siang tuan" sapanya setelah tadi dengan cepat berdiri.
"dimana Andini?" tanya Tama to the poin. Dia duduk dengan arogan disofa tanpa disuruh terlebih dahulu.
"akan saya panggilkan" ucapnya dengan cepat lalu gadis yang Tama tahu adalah asisten Andini itu lari untuk memanggil nona nya.
Setelah beberapa saat wanita cantik datang dengan senyum lebarnya, dia berlari kecil dan langsung menubruk tubuh Tama. Memeluknya dengan erat "sayang kamu datang? aku sangat merindukanmu"
"tolong lepaskan nona" ucap Raka saat melihat Tama tampak tidak nyaman. Dia menarik tangan Andini agar menjauhi tubuh tuannya.
Andini tampak mendengus "lancang sekali kau menyentuhku!" ucap Andini tidak terima.
Raka hanya menatap jengah gadis yang tampak begitu arogan itu "cih.. jala*g sombong! sebentar lagi kau pasti akan menangis! lihat saja"
Andini yang melihat tatapan mata Raka tidak bersahabat beralih pada kekasihnya. "sayang" merangkul leher Tama dan hendak menyatukan bibir mereka.
Tapi dengan cepat Tama menahan bibir Andini dengan tangan. Tama mulai merasa risih dan jijik saat seorang wanita bisa seagresif ini. Selama ini kenapa juga Tama menikmatinya? sungguh konyol.
"kamu kenapa?" tanya Andini dengan pelan, wajahnya murung dia merasa kecewa.
"mulai hari ini aku mau hubungan ini berakhir!" ucapnya dengan tegas, lalu ia berdiri dari duduknya.
Deg
Bak disambar petir, hatinya terasa berdenyut ngilu.
Mata Andini membola mendengar ucapan Tama yang tiba-tiba memutuskan hubungan mereka. "hahaha.. kamu bercanda kan sayang?"
"aku serius! mulai hari ini kita tidak memiliki hubungan apapun lagi"
Andini berdiri dari duduknya dan memegang lengan kekar yang sudah berkali-kali memeluknya diatas ranjang "aku tidak mau!"
"apa kau memiliki hak untuk menolak?" Tama yang awalnya melengos menatap mata Andini dengan tatapan tajam "hubungan kita hanya sebatas teman diatas ranjang, kau hanya pemuas nafsuku saja ingat! hubungan kita adalah simbiosis mutualisme. Aku mendapatkan kepuasan dan kau mendapatkan apa yang kau inginkan!"
plak
Tama mengusap pipinya yang ditampar oleh Andini "aku tidak akan mempermasalahkan tamparan ini. aku menganggap ini sebagai ucapan perpisahan" setelah berucap seperti itu, Tama berjalan kearah pintu.
"kau memang pria brengsek! bajin**n!!" Andini mengambil vas bunga yang ada diatas meja lalu melemparkannya kearah punggung Tama.
Tapi mengingat bagaimana pria itu memiliki ilmu bela diri dan kepekaan terhadap sekitar, dia dengan mudah menghindarinya. Dia menatap tajam Andini yang saat ini wajahnya tampak memerah karena marah.
"jika aku melihat batang hidungmu lagi dimasa depan, aku tidak akan segan-segan untuk menyakitimu!" setelah berucap seperti itu, Tama langsung keluar dari dalam apartemen itu dengan hati yang kesal.
Sedangkan didalam apartemen, Andini sedang mengamuk dengan membanting serta menghancurkan apapun yang dapat ia lihat.
__ADS_1
flashback end.