
Mereka masuk ke dalam bersama, Cheyka mengedarkan pandangan sekeliling. Kini matanya tertuju, pada sebuah bingkai foto. Kenapa tidak kepikiran untuk melihat, saat pertama kali masuk basecamp pikirnya.
"Tuan, kenapa saat pertama menginap di sini, mereka tidak ada?" Bertanya, sambil berbisik.
"Mereka pergi untuk berlibur." jawab Rhuka.
"Oh begitu, kini aku tahu fungsi komputer sebanyak ini." ujar Cheyka.
"Pendek, kecil, kau berlatihlah. Jangan biarkan dirimu kaku, dengan alat-alat komputer terutama mouse." jawab Rhuka.
"Hih Kak Rhuka, kau jangan menindasnya. Nanti, dia tidak akan betah di sini." Bombom membelanya.
"Pasti betah, tidak mungkin juga berani kabur." jawab Rhuka.
Bombom membuka bungkus cemilan, memakannya lagi dengan perlahan-lahan. Sedikit takut, bila Cheyka akan langsung mengundurkan diri.
"Sudahlah gendut, lebih baik habiskan makanmu." sahut Rhoky.
"Memang mau dihabiskan, kau kira aku mau menyisakan nya untukmu." jawab Bombom.
Cheyka sudah membawa barang-barang ke kamarnya. Merapikannya di dalam lemari, lalu menuruni anak tangga. Cheyka masuk ke ruang komputer, bahkan dia bingung untuk menghidupkannya.
"Yaelah Chey, apa sih yang kamu bisa? Sudah dibilang kecil, pendek, plus dekil masih juga mau dibilang bodoh. Eh siapa yang bilang, heheh bukankah batinku yang sering mengumpat diri sendiri. Ini semua karena tuan muda, dia membuat diriku kerepotan." Mengoceh sendiri, di depan komputer mati.
"Kakak ipar, kau tidak bisa menghidupkan komputer? Aku akan mengajarimu, dengan satu syarat." Rhoky tiba-tiba muncul.
__ADS_1
"Apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh." pinta Cheyka.
"Gampang sekali, rayu Kak Rhuka biar memberikan fasilitas ku kembali. Aku tidak bisa, bila hidup tanpa kartu ATM." ujar Rhoky.
"Tidak mau, menang banyak di kamu." jawab Cheyka.
"Atau seperti ini saja, aku akan mengajari Kakak bermain game juga." Rhoky mengedipkan mata.
"Nah, kalau itu aku setuju." jawab Cheyka.
Rhoky dan Cheyka menyatukan telapak tangan, dan melompat-lompat kegirangan. Tiba-tiba Rhuka masuk ke ruangan, sambil geleng-geleng kepala. Disusul para anggota tim lainnya, yang menatap keheranan. Cheyka dan Rhoky menghentikan aksi konyol mereka.
"Akrab sekali, ada hubungan apa?" tanya Mikky.
"Kak manajer, ini hubungan teman akrab. Harus kalian warisi, untuk kelangsungan kekompakan." jawab Rhoky nyengir.
"Heheh... Kakak tidak perhatian si pada Kak Chey, selalu saja perhatian sama Blunt." jawab Rhoky.
Rhoky menghidupkan komputer, lalu Cheyka duduk di kursi. Rhuka berjalan mendekat, berada di belakang Cheyka. Sedikit menundukkan kepalanya, berada tepat di samping telinganya.
"Kamu buka aplikasi game Monster Adventure, lalu setelah itu biar aku ajarkan mengendalikan mouse." bisik Rhuka.
"Iya tuan." jawab Cheyka gugup.
"Panggil Kakak Rhuka saja, seperti kami-kami di sini. Dia 'kan ketua tim, raja perang yang profesional." ujar Bombom.
__ADS_1
"Baiklah, aku panggil Kak Rhuka." jawab Cheyka.
Rhuka menggenggam tangan Cheyka, membantu mengarahkan kursor. Tangan Cheyka mendadak dingin dan berkeringat, jantungnya juga berdegup kencang.
”Hei ada apa ini, apa alien sedang turun ke bumi. Kenapa hatiku tidak bisa diajak kompromi, benar-benar berdebar. Pasti ada yang salah dengan hatiku.” batin Cheyka.
"Jangan terlalu cepat menggesernya, itu akan membuatmu tidak bisa menyentuh menu. Dimana tujuan, dimana kursor yang kamu arahkan." ujar Rhuka.
Cheyka menoleh ke arah samping. "Iya aku mengerti."
"Kenapa menatapku seperti itu? Aku tahu, aku ini tampan." Masih fokus, melihat ke layar komputer.
"Bu... bukan menatap Kak, hanya memperhatikan ketua tim mengajarkan." jawab Cheyka gugup.
Rhuka segera menoleh ke samping kirinya juga, dengan cepat Cheyka menoleh ke layar komputer kembali. Dia benar-benar tidak sanggup, untuk melihat mata Rhuka lebih lama lagi.
"Kenapa kau membuang muka, yang boleh melakukan itu hanya aku." ujar Rhuka.
"Bukankah itu peraturan buku agenda, dilarang menatap lebih dari satu detik. Tapi, kelihatannya sudah banyak pelanggaran." jawab Cheyka spontan.
"Maka dari itu, kau harus menerima konsekuensinya." ucap Rhuka seenaknya.
"Apa? Bukankah tuan juga menatapku." jawab Cheyka tidak terima.
"Bila aku yang melakukannya, itu pasti tidak masalah. Sebagai hukuman untukmu, bereskan dapur basecamp ini." titah Rhuka.
__ADS_1
"Oke." jawab Cheyka malas.
”Tuan muda, aku akan berdoa untukmu. Semoga kau makan daging, namun gigimu kesakitan karena keras, semoga kau menyetel alarm, namun tidak bunyi sama sekali, semoga kau mandi, lupa membawa handuk, hahahaha....” batin Cheyka, tertawa jahat.