Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Menolong Cheyka


__ADS_3

Welang mematuk tubuh harimau, hingga menimbulkan bekas dimana-mana. Bisa yang telah dipindahkan olehnya, mengalir ke tubuh harimau tersebut. Cheyka berdiri lalu berjalan dengan perlahan. Meski lambat, namun pasti langkahnya. Rhuka, Rhoky, dan Bao berteriak memanggil nama Cheyka.


"Kak, sepertinya kita harus turun ke bawah." ujar Rhoky.


"Iya benar, kalau tetap di sini kita tidak akan menemukannya." jawab Rhuka.


Mereka segera turun ke bawah bukit, dari tebing yang paling ujung. Bao ikut turun ke bawah, dengan digendong oleh Rhoky. Cheyka berjalan terseok-seok, bagaikan mayat hidup yang berkeliaran.


"Cheyka, dimana kamu!" Rhuka berteriak.


"Kakak ipar, jangan buat kami cemas." Rhoky tidak kalah kuat, dalam berteriak.


"Kak Chey." Bao juga ikut berteriak.


Cheyka dapat mendengar suara mereka, ingin rasanya dia berteriak tapi tidak sanggup. Cheyka merasakan pusing di kepalanya, dan pemandangan di depannya berkabur. Saat hendak terjatuh, Rhuka segera berlari menangkapnya. Cheyka pingsan dalam pelukan suaminya.


"Ayo kita bawa Kak Chey ke rumah sakit." ajak Bao.


"Iya, ayo cepat sedikit." tambah Rhoky.


"Iya, aku tidak ingin terjadi apa-apa padanya." Rhuka segera berlari.

__ADS_1


Sementara di rumah besar, Secyfa dan tiga orang perempuan belum usai adu mulut. Mereka terus mempermasalahkan soal Welang yang menggigit Blunt. Mereka juga saling mengelak, tentang hal yang menimpa Cheyka.


"Sudah aku pastikan, kamu yang berbuat." ujar Melodi.


"Tentu saja itu pernyataan salah. Tidak ada sejarahnya, saudara mencelakai saudara." jawab Secyfa.


"Eh bodoh, aku sudah tahu status Cheyka. Kamu pikir kami menerima orang sembarangan, tanpa melihat asal usulnya." ujar Melodi.


"Memangnya kenapa bila dia anak pungut." jawab Secyfa.


"Tentu saja kamu pasti tidak menyukainya. Melihat tindakanmu yang semena-mena di rumah ini, sudah lebih dari cukup meski tanpa bukti." ungkap Melodi.


"Kalian tidak punya bukti, dan yang terlihat jelas bermusuhan adalah kalian. Aku pasti yang akan menang di depan Rhuka." jawab Secyfa, dengan tidak tahu malunya.


Rhuka sudah sampai ke rumah sakit, segera mungkin memanggil dokter. Tubuh Cheyka diletakkan di atas ranjang pasien.


"Chey, kamu harus bertahan." Rhuka menepuk pundaknya.


"Silahkan tunggu di luar, di larang ikut masuk ke ruangan." Dokter tersebut menoleh ke arah Rhuka.


"Baik Dok." jawabnya.

__ADS_1


Rhuka menunggu di luar, bersama Bao dan Rhoky. Masih terasa cemas, karena Cheyka sempat pingsan.


"Kak, jangan mondar-mandir dong. Aku yang melihatnya menjadi pusing." ujar Rhoky.


"Bagaimana tidak mondar-mandir, Kakak merasa cemas dengan keadaan Cheyka." jawab Rhuka.


"Kakak tenang saja, dia pasti tidak apa-apa." ujar Rhoky.


"Bagaimana mungkin kamu bisa bicara seperti itu, sementara dokter belum keluar dari ruangannya." jawab Rhuka.


"Iya maaf, aku mengerti dengan perasaan Kakak." ujar Rhoky.


"Sudah seharusnya." jawab Rhuka.


Beberapa jam kemudian, dokter sudah keluar dari ruangan Cheyka. Rhuka segera menghampirinya dengan terburu-buru.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Rhuka.


"Keadaannya sekarang sudah sedikit membaik." jawab dokter.


"Apakah boleh aku melihatnya?" tanya Rhuka.

__ADS_1


"Tentu saja, silahkan masuk ke dalam." jawab dokter.


Rhuka segera berlari ke dalam ruangan, lalu duduk di sisi ranjang. Tangannya memegang kedua tangan Cheyka, dengan rasa takut kehilangan. Mencium telapak tangannya, sambil memandang wajah istrinya.


__ADS_2