Dipaksa Menikahi Tuan Muda

Dipaksa Menikahi Tuan Muda
Marahan


__ADS_3

Cheyka mengunci pintu kamarnya, berjalan gontai menghadap cermin. Tiba-tiba hatinya tidak ingin bicara lagi pada Rhuka. Ingin rasanya dia putar waktu, agar yang semalam tidak terjadi. Cheyka menarik seprei di atas ranjang tidur, lalu melemparkannya ke lantai dan menginjaknya dengan emosi.


"Tunggu kamu Rhoky, aku juga bisa membalas perbuatan licik ini."


Cheyka segera masuk ke dalam kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air shower. Air mengalir dari sudut matanya, bersamaan dengan air dari lubang shower. Kini hatinya remuk, karena sudah hancur. Bagaimana mungkin menghabiskan waktu berdua, dengan orang yang bahkan hanya memanggil hei kamu. Selama ini tidak pernah ada pernyataan cinta, ataupun panggilan sayang.


”Setelah satu tahun pernikahan kami, aku pasti bagaikan sampah. Dia akan menendang diriku dari rumahnya yang mewah, sambil tersenyum puas tidak lupa menghamburkan uang. Dia pasti menghinaku, dia menindas ku lewat Rhoky.” batin Cheyka menangis.


Sementara Rhuka meninju tembok kamar mandi, sambil terus memikirkan yang terjadi semalam. Mengacak rambutnya frustasi, seiiring air shower yang mengalir.


”Aku ingin menggendong Cheyka ke ruangan ganti sengaja untuk tidak melihatnya, sampai reaksi obat itu berakhir. Tapi kenapa, semalam dia harus mengenakan baju yang mencolok.” batin Rhuka.


Rhuka menuruni anak tangga, tidak lama kemudian Cheyka juga ke ruangan depan. Tidak ada yang membuka pembicaraan, mereka diam-diaman saja. Rhoky sedikit heran, apa ada yang salah?


”Aku yakin Kakak ipar mau membantu, supaya aku dekat dengan sang mantan. Semalam aku rela berjaga, demi kamu Feyra. Aku harap, kamu mau mendengarkan penjelasan ku. Tidak akan salah paham lagi padaku.” batin Rhoky penuh harap.


Namun seketika Rhoky heran, melihat Cheyka yang tampak murung. Rhuka juga fokus pada komputernya, tanpa menyapa anggota tim lain. Harusnya bila mereka bahagia, tidak akan menunjukkan reaksi demikian bukan.


"Kak Rhuka, Cheyka, kalian berdua belum sarapan. Cepat pergi sarapan sana, aku sudah menyiapkannya." ujar Mikky.


"Tidak selera." Cheyka dan Rhuka menjawab bersamaan.


"Kalian berdua kompakan sekali hihihi..." ujar Mikky bercanda.

__ADS_1


"Gak lucu." Lagi-lagi Cheyka dan Rhuka menjawab bersamaan.


"Satu pikirin, satu kalimat, satu paket." Jay menggodanya.


"Berisik!" Suara Rhuka dan Cheyka bersamaan.


"Wow... sungguh seram." Jey bergidik ngeri.


"Diam!" Menjawab bersamaan lagi.


Mereka semua menutup mulut lalu menggerakkan tangan masing-masing, seolah sedang mengunci resleting bibir. Cheyka dan Rhuka saling menatap sinis, lalu sama-sama membuang muka. Keduanya benar-benar kesal, dengan yang terjadi semalam.


"Aku mau pergi dulu." Cheyka berpamitan.


"Mencari udara segar." jawab Cheyka singkat.


Saat sampai teras basecamp, Rhoky memanggil Cheyka. Dia berlari dengan perasaan gembira, sampai menabrak punggungnya.


"Kakak ipar, jangan lupa pertemukan aku dengan Feyra." ujar Rhoky.


"Jangan harap, aku bakalan lakuin hal itu buat kamu." Cheyka menginjak kaki Rhoky, lalu melengos pergi.


Rhoky sibuk memanggilnya, namun Cheyka acuh tak acuh. Kakinya melangkah cepat, menuju sebuah apotek.

__ADS_1


"Mbak, ada obat pencegah kehamilan tidak?" tanya Cheyka.


"Iya Mbak, tunggu sebentar." Pelayan toko mengambilkannya di dalam lemari kaca.


Cheyka membayar sejumlah harga barang, lalu singgah sebentar disebuah kedai. Menyantap kuliner sederhana, bebek goreng krispi. Lebih suka makan lesehan, dibandingkan ada sumpit dan garpu. Bisa sebebasnya mengaduk sambal, dengan jari-jari mungilnya. Menjilati setiap sisa bumbu makanan, tanpa perlu harus terburu-buru cuci tangan.


Cheyka melangkahkan kakinya, setelah usai membayar. Tidak semangat untuk kembali ke basecamp, dengan tanda merah dimana-mana. Badan Cheyka benar-benar terasa capek, padahal semalam dia tertidur nyenyak. Cheyka memilih duduk pada kursi, mengurungkan niatnya untuk kembali dengan cepat. Dia langsung membuka plastik obat dan meminumnya. Mengingat perjalanan pernikahan masih lumayan panjang, membuat dirinya bertambah lesu untuk menjalani hari.


Hari sudah semakin sore, Cheyka belum juga pulang. Rhuka benar-benar merasa cemas, karena sebentar lagi turun hujan. Rhuka segera mengambil payung, dan pergi dengan terburu-buru.


"Eh kalian curiga tidak sih, kok Kak Rhuka perhatian banget sama Cheyka." ujar Jay.


"Sama, aku juga menaruh rasa curiga." jawab Jey.


"Apa yang harus dicurigai, Kakakku bukan maling uang." ujar Rhoky.


"Bukan soal maling uang, tapi Kakakmu terlihat menyukai Cheyka." jawab Mikky.


Bombom mengemil jajan pilus Garuda. "Benar yang dibilang Kak manajer, buktinya saja selama gabung bertahun-tahun kita dicuekin. Belum pernah tuh, Kak Rhuka kasih perhatian lebih."


"Kalian ini para pria, masak harus iri sama perempuan." jawab Rhoky santai.


”Woy, kalian harus tahu kalau Kak Cheyka ratunya Kakakku. Kalian harus sadar diri iya, mana mungkin bisa Kakakku tidur tanpanya.” batin Rhoky, rasanya ingin tertawa lepas.

__ADS_1


__ADS_2