
Keesokan harinya, Rhuka membereskan basecamp. Dia tidak ingin, bila Cheyka melakukan pekerjaan seorang diri. Rhuka mengambil tong sampah dalam kamarnya, dan hendak membuangnya keluar karena sudah penuh. Tanpa sengaja dia menemukan plastik bekas pil obat milik Cheyka.
"Siapa yang mengonsumsi obat, bukankah hanya Cheyka dan aku penghuni kamar?" Bertanya-tanya pada diri sendiri.
Rhuka keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga. Sengaja menghampiri Cheyka, yang sedang asyik bermain game. Padahal Cheyka sedang asyik, bercanda bersama teman-temannya.
"Cheyka, jelaskan ini padaku." Rhuka memperlihatkan plastik bekas obat itu.
"Aku tidak tahu sayang." jawab Cheyka berbohong.
"Jangan pura-pura, di kamar hanya kita berdua." Suaranya mulai meninggi.
"Aku benar-benar tidak bohong." Cheyka mulai cemas.
”Haduh gawat, kenapa ceroboh banget si Chey. Lihatlah, dia murka begitu.” batin Cheyka.
"Kamu boleh tidak percaya, bahwa aku mencintai kamu. Tapi, apa harus kamu melakukan cara seperti ini?" tanya Rhuka.
"Apaan si kamu, pagi-pagi sudah menuduh sembarangan." Cheyka menjawab ketus, tetap berusaha mengelak.
Rhuka menyeret paksa tubuh Cheyka, sampai dia beranjak dari duduknya. Rhuka menggendong Cheyka hingga keluar rumah, lalu mendorong tubuhnya masuk ke dalam mobil.
"Kak Rhuka, kita mau kemana?" tanya Cheyka bingung.
__ADS_1
"Kita akan ke rumah sakit." jawab Rhuka.
"Kenapa harus ke rumah sakit? Aku gak mau." ucap Cheyka.
"Aku tidak butuh persetujuan darimu. Aku ini tuan muda, terserah aku mau berbuat apa." jawab Rhuka.
"Baru kemarin kamu menyatakan cinta, berusaha untuk membuktikannya. Tapi sekarang apa, kamu sudah seenaknya." ujar Cheyka spontan.
"Aku bisa berlaku seenaknya, pada orang yang tidak bisa menghargai kegigihan suaminya. Apa kamu tidak tahu, kalau aku ini benar-benar cinta." jawab Rhuka.
Cheyka membuang muka, memilih menatap pemandangan luar mobil. Dia tidak ingin menoleh suami penguasanya itu. Rhuka menepikan mobilnya di pinggir jalan dan mengerem secara mendadak, hingga membuat kepala Cheyka terbentur. Terjadi perdebatan hebat di dalam sana, bagaikan ingin membuat mobil meledak saja.
"Kak Rhuka, kamu ini benar-benar sudah gila iya." ucap Cheyka.
"Sudahlah, sekarang kamu sudah tahu juga. Jadi, Kak Rhuka kapan akan menceraikan aku?" tanya Cheyka dengan berani.
"Berani kamu bertanya seperti itu, akan aku potong lidahmu." Rhuka menatap tajam.
"Aku sudah muak, karena pastinya ini sandiwara. Kak Rhuka cuma mau, buat Disty cemburu." jawab Cheyka asal-asalan.
Rhuka mencium bibir Cheyka secara paksa, namun Cheyka terus menghindar. Tiba-tiba, ada yang mengetuk kaca mobil. Ternyata itu adalah Joffy, seorang pria kepercayaan tuan muda. Rhuka menghentikan aksinya, lalu menurunkan kaca mobilnya.
"Ada apa kamu ke sini?" tanya Rhuka.
__ADS_1
"Aku melihat mobil tuan muda, bersamaan dengan ada yang ingin aku bicarakan. Tuan muda tahu sendiri 'kan, bahwa ponsel yang tidak aktif membuatku harus memeriksa ke lokasi. Nah tadi aku berniat memastikan ke basecamp, namun ternyata sudah bertemu di jalan." jelas Joffy, panjang dan lebar.
"Bicara saja sekarang." ujar Rhuka.
"Sebaiknya berbicara di luar saja, tidak enak dengan Cheyka." jawab Joffy.
Rhuka membuka pintu mobilnya, dan menjauh dari Cheyka. Mereka sengaja menyingkir di bawah pohon.
"Tuan muda, nona Disty memesankan padaku untuk mengawasi pembangunan hotel dengan baik. Apalagi, dia harus kembali ke luar negeri." ucap Joffy.
"Benarkah? Secepat itu dia kembali." jawab Rhuka, dengan semringah.
"Aku tahu, kenapa tuan senang. Karena dengan kepergiaannya, Oma Serfa tidak akan sibuk mendekatkan." ungkap Joffy.
"Jangan mencampuri urusanku." jawab Rhuka dengan tegas.
"Maaf tuan, aku permisi." Joffy segera pergi.
Rhuka masuk ke dalam mobil kembali, melihat Cheyka yang meniup poninya sendiri. Menghembuskan nafasnya dengan perlahan, karena sempat tersulut emosi.
"Lebih baik kamu jujur Chey, sebelum aku mendengar langsung dari mulut dokter." ujar Rhuka.
"Terserah kamu." jawabnya acuh.
__ADS_1
"Baiklah, terima konsekuensi. Tidak boleh keluar dari basecamp, sampai hari pertandingan dimulai." ucapnya.