
Rhoky berencana ingin merayu si Cheyka, agar mempertemukan dirinya dengan Feyra. Rhoky menghampiri Cheyka, yang sedang memanggang kue dalam oven.
"Kakak ipar, bantuin aku iya." rayu Rhoky.
"Aku sedang sibuk." jawab Cheyka.
"Kak, apa salahnya ditinggal." ujar Rhoky.
"Kamu kira, aku harus mengerjakan semuanya sendiri." Rhuka yang menjawab.
"Kak Rhuka, kamu banyak uang. Pesan saja, kenapa harus repot-repot." ucap Rhoky.
"Aku sudah memesannya, tapi yang kue donat ini khusus buatan kami." Rhuka memeluk Cheyka dari belakang.
"Kakak ipar jangan mau manjain dia, lihatlah dia nempel terus. Aku tidak kebagian waktu untuk bersamamu." ujar Rhoky.
"Kamu boleh pergi bareng Cheyka, dengan satu syarat." Rhuka tersenyum.
"Apa syaratnya?" tanya Rhoky.
"Menunggu kami selesai membuat kue, lalu aku juga bersiap-siap untuk ikut pergi." jawab Rhuka.
"Kamu pergi dengan Kakakmu saja, aku tidak ikut." ujar Cheyka.
"Hmmm... Kak please ikut." Rhoky memohon.
"Cheyka, ikut saja sekalian kita jalan-jalan." pinta Rhuka.
"Gak mau." jawab Cheyka, masih dengan raut wajah cemberut.
"Ayolah sayang, jangan marah tanpa sebab." ujar Rhuka.
"Baiklah, aku ikut." Cheyka tersenyum ceria.
__ADS_1
”Ngapain aku harus ngambek-ngambek, sama orang yang tidak peka pada perasaanku.” batin Cheyka.
Mereka pergi bersama, setelah usai membuat kue. Cheyka terlihat cantik natural, dengan riasan yang tidak terlalu menor. Salah satu ciri yang Rhuka suka, dari si imut Cheyka.
Feyra memasuki mobilnya, lalu menghidupkan mesinnya. Mulai melaju dengan kencang, untuk menemui Cheyka.
"Tumben mengajak bertemu, setelah sekian lama tidak ada kabar." Berbicara sendiri.
Beberapa menit kemudian, Feyra sudah sampai. Cheyka langsung menghampirinya, karena memang sudah menunggu sejak tadi.
"Hai Feyra!" seru Cheyka.
"Hai, ternyata kamu tidak sendiri." jawab Feyra.
"Oh iya, kenalin ini teman-teman ku." ujar Cheyka.
"Heheh... sudah kenal." jawab Feyra, tertawa paksa.
"Oh iya, lama tak jumpa. Apa kabar Feyra?" tanya Rhuka.
Cheyka menggandeng tangan Feyra, lalu mereka masuk ke dalam mall. Rhoky merasa iri, karena dulu dia yang menggenggam erat tangan Feyra.
"Kak Chey, kita beli es krim yuk." ajak Rhoky.
"Kamu di sini saja, aku yang akan jalan bersama Cheyka." Rhuka langsung menyeret Cheyka, agar menjauh dari mereka.
"Sayang, kita main lompat-lompat di sana yuk." ajak Rhuka.
"Main saja sama Disty." jawab Cheyka keceplosan.
Muach!
Rhuka mencium pipi Cheyka. "Jadi, marah berhari-hari karena Disty."
__ADS_1
Pipi Cheyka bersemu merah. "Bukan, aku tidak mengurus urusanmu."
"Jangan bohong, nanti aku cium lagi." ucap Rhuka.
"Gak, ayo kita bermain." Cheyka mengalihkan pembicaraan.
Cheyka segera berlari sambil melompat-lompat, ke arah alas pelampung. Rhuka juga sudah menyusul, mereka tertawa ria sambil melompat-lompat.
"Sayang, ini seru sekali haha..." Cheyka tertawa.
Rhuka menggenggam tangan Cheyka. "Aku senang melihatmu bahagia."
"Kenapa seperti itu?" tanya Cheyka, menghentikan lompatannya.
Rhuka mencium tangan Cheyka. "Karena aku ingin kamu terus seperti ini, saat bersamaku dalam hal apapun."
"Apaan sih, bercanda mu tidak lucu." ucap Cheyka sambil tersenyum.
"Tentu saja tidak lucu, aku tidak pernah bercanda soal perasaan. Aku harap kamu ikut pertandingan ke luar kota, ada hal yang ingin aku bicarakan." jelas Rhuka.
”Hmmm... dia mau bicara apa. Kenapa hatiku merasa deg-degan.” batin Cheyka penasaran.
”Cheyka istriku, aku benar-benar sudah jatuh sedalam-dalamnya pada cinta. Aku ingin memiliki kamu selamanya pendek, kecil.” batin Rhuka.
Rhoky mengikuti langkah kaki Feyra, supaya dia bisa bicara. Rhoky segera berdiri di sampingnya.
"Feyra, waktu itu aku pergi ke luar negeri karena perintah dari Kakak." ujar Rhoky.
"Sudahlah, tidak perlu membahas masa lalu." jawab Feyra.
"Apa kamu tahu, aku masih mencintai kamu." ucap Rhoky.
"Pergi tanpa mengatakan hal apapun, lalu setelah bertemu bilang cinta. Apa kamu tidak berpikir, bagaimana ditinggalkan saat terlanjur cinta." jelas Feyra.
__ADS_1
"Aku mengerti perasaan kamu, tapi aku tidak ada hubungan dengan Disty." ujar Rhoky.
"Terserah." jawab Feyra.