
Pada sorenya Cheyka kembali ke basecamp, melewati Rhuka yang berdiri di teras. Tampaknya masih marah, tentang kejadian waktu itu.
"Cheyka, kamu berani iya mengacuhkan aku." ujar Rhuka.
"Maaf, aku tidak melihat tuan muda." jawab Cheyka.
"Wah, apa yang kamu bawa Chey?" tanya Jay, sambil tersenyum.
"Aku bawa makanan." jawab Cheyka datar.
"Minta dong Chey." ujar Jey, dengan tidak malunya.
"Aku membelikan ini bukan untuk kalian." Cheyka segera melangkahkan kakinya, menuju ke dapur.
Cheyka menyantap martabak, setelah duduk di kursi. Bombom sedang membuat susu, rasanya ingin makan martabak. Dia memberanikan diri untuk menghampiri Cheyka.
"Chey, aku minta dong." Bombom tersenyum.
"Ambil saja Bom." jawab Cheyka ramah.
Sementara di balik tembok pembatas, terlihatlah empat orang gigit jari. Mereka cemburu pada Bombom, yang ditawari makanan oleh Cheyka.
"Lihatlah, dia marah pada kita." ujar Jey.
"Kalian itu sudah keterlaluan." jawab Rhuka.
"Tapi yang membuat kami heran, kenapa dia marah padamu Kak?" Jay melirik Rhuka.
"Iya, bukankah Kakak tadi membelanya." Rhoky tersenyum jail.
__ADS_1
"Huh, bukan urusan kalian." jawab Rhuka.
"Biasa aja kali, jangan seram wajah tuh." ledek Rhoky.
"Lebih seram mana wajahku saat ini, atau wajah orang yang memasukkan obat ke minuman." sindir Rhuka dengan kesalnya.
”Kalau dipikir-pikir kenapa Kak Rhuka marah, bukankah mereka suami istri. Jangan-jangan mereka sedang bersandiwara di depan Oma. Aku harus menyelidiki, untuk kartu mati Kak Chey. Dengan begitu dia akan membantuku, karena aku sudah mengetahui semuanya.” batin Rhoky.
Duar!
Tiba-tiba Mikky mengejutkan mereka, hingga semuanya terjatuh ke lantai. Mereka saling tindih dan berisik, hingga menyebabkan Bombom dan Cheyka menoleh.
"Bombom, ayo makan yang banyak." Cheyka sengaja memanas-manasi.
"Iya Chey, ini enak banget." Bombom menggigit irisan martabak lagi.
"Bom minta dong!" ujar Rhoky.
"Kalian benar-benar mau iya? Kalau begitu sini dong." Cheyka tersenyum, dengan niat terselubung dalam hatinya.
"Terimakasih, kamu memang baik." jawab Jay.
Mereka semua berjalan mendekat, dengan raut wajah yang mulai semringah. Cheyka menjatuhkan butiran martabak, yang telah dicubiti ke arah lantai.
"Aku memang baik, ambil saja martabaknya di lantai." Cheyka tersenyum ceria.
"Cheyka!" Mereka berempat berteriak.
Cheyka dan Bombom tertawa bersama, sambil menutup kedua telinganya. Cheyka tidak akan mau memaafkan mereka semua, sebelum mereka bisa bertindak baik kembali.
__ADS_1
"Hmmm... enak sekali." Bombom menjulurkan lidahnya.
"Iya dong Bombom, kamu harus sering baik padaku." jawab Cheyka.
Pada malam harinya, Rhuka, Rhoky, Jay, dan Jey berdiskusi. Mereka berencana akan membuat sebuah kejutan, untuk meminta maaf pada Cheyka.
"Bagaimana dong, dia marah terus. Besok, pasti dia tidak mau membuat sarapan." ujar Jay.
"Benar, aku bisa mati kelaparan." timpal Jey.
"Iya beli dong." jawab Rhoky.
"Gak mau beli, masakan Cheyka enak banget." ujar Jay.
"Kalian jangan minta maaf karena masakannya, tapi harus tulus dari hati." jawab Rhuka.
"Kak Rhuka, ini sebenarnya bukan salah kami sepenuhnya. Chey juga salah, kenapa dia tidak bisa kerjasama. Lihatlah, dia bahkan kehabisan darah diakhir." ujar Jey.
"Dia sudah melakukan tugasnya dengan baik, namun kalian berdua yang tidak teliti. Apa kalian ingat, saat mau mengambil ramuan. Kalian keluar saja, karena mengira tim ABC sudah pergi." jawab Rhuka.
"Iya, kami berdua salah." Jay dan Jey mengakui kesalahannya.
"Aku juga salah, sebagai ketua tim tidak bisa melindunginya." jawab Rukha.
"Sudahlah, bukan saatnya sedih. Sebaiknya kita tentukan konsep yang tepat. Dimana ini tempat yang pas, buat menyatakan permintaan maaf." ujar Rhoky.
"Aku tahu, bagaimana bila disebuah pancuran taman hiburan. Di sana sangat bagus, untuk membuat suasana hatinya membaik." jawab Rhuka, mengusulkan idenya.
"Besok, kita harus ke sana." Rhoky menepuk pundaknya.
__ADS_1
"Oke, aku akan merayunya untuk ikut." jawab Rhuka.
Mereka semua menyatukan telapak tangan masing-masing, di atas udara. Mereka merasa lega, setelah diskusi bersama. Setelah itu memutuskan untuk tidur, segera melangkahkan kaki menuju kamar masing-masing.